Rusia Perbaharui Peluncuran Misil Balistik Antarbenua Satan

Masa depan Dnepr tentu sangat tergantung pada hubungan bilateral Rusia-Ukraina, yang saat ini sedang menghadapi masa sulit.

Masa depan Dnepr tentu sangat tergantung pada hubungan bilateral Rusia-Ukraina, yang saat ini sedang menghadapi masa sulit.

Sergey Kazak/RIA Novosti
Rusia berencana memperbaharui peluncuran misil balistik antarbenua RS-20 Voyevoda (setelah mengonversi misil Dnepr), yang diberi julukan ‘Satan’ oleh NATO. Saat ini, Rusia hanya memiliki 60 misil tipe tersebut, yang dalam lima tahun mendatang akan memasuki masa purnabakti. Rusia berencana menggunakan misil Voyevoda untuk tujuan sipil sebagai bagian dari peluncuran komersil untuk menghindari menghancurkan misil yang mahal.

Dnepr merupakan konversi misil balistik antarbenua R-36M (dalam berbagai modifikasi) dan ditawarkan di pasar peluncuran roket oleh perusahaan Kosmotras, yang didirikan di Moskow berdasarkan kesepakatan antara pemerintah Rusia dan Ukraina. R-36M telah berhenti bertugas sejak awal 1990-an dan ditransfer ke Dnepropetrovsk (Ukraina) untuk dikonversi menjadi peluncur satelit, juga dengan keterlibatan langsung perusahaan Ukraina.

Krisis militer dan politik menciptakan kebingungan dalam kerja sama antariksa internasional dengan Rusia. Ambiguitas tersebut juga berdampak terhadap program pengiriman roket Dnepr.

Misil untuk Tujuan Sipil

Pada musim dingin 2015, pejabat Rusia mengumumkan mereka meninjau kembali keterlibatan Rusia dalam program ini. Namun, pada 23 Juli lalu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa peluncuran roket Dnepr akan dilanjutkan, dan konversi misil tersebut akan diambil alih oleh Biro Desain Roket Makeyev milik pemerintah yang berbasis di Miass, Ural. Kosmotras menyangkal semua masalah yang berkaitan dengan Dnepr sejak musim semi lalu. Perusahaan tersebut akan mendampingi peluncuran dua satelit komunikasi untuk perusahaan Amerika Iridium Communications Inc. pada musim gugur 2015, dan tahun 2016 – 2017. Mereka telah merencanakan lima peluncuran.

Rusia memiliki sekitar 60 misil R-36, yang akan berhenti bertugas pada tahun 2020, jika usianya tak diperpanjang lagi. Sebagai perbandingan, dari 1999 hingga 2015, Dnper telah diluncurkan 22 kali (21 berhasil). Kompetisi dalam industri desain roket tumbuh baik secara global maupun di Rusia, dan permintaan untuk menempatkan satelit di orbit juga berkembang.

Sepanjang 2003 – 2012, Dnepr telah meluncurkan 22 persen satelit mikro (sepuluh hingga seratus kilogram) dan 18 persen dari segala satelit nano (satu hingga sepuluh kilogram), dan sejauh ini angka tersebut merupakan angka tertinggi di segmen tersebut, dan roket itu sendiri sangat bisa diandalkan. Teknologi untuk perangkat semacam ini dikembangkan oleh puluhan universitas dan perusahaan di seluruh dunia, sehingga jumlahnya akan bertambah stabil dalam beberapa tahun mendatang.

Biaya rata-rata untuk meluncurkan Dnepr ialah sekitar 24 juta dolar AS hingga 30 juta dolar AS. Jika dalam beberapa tahun mendatang biaya peluncuran satelit ke orbit tidak turun, maka roket ini mungkin digunakan hingga 2030-an, karena pengiriman satelit merupakan alternatif untuk menggunakan misil.

Pengganti Sementara Angara

Namun, mundurnya Ukraina dari proyek tersebut dan transfer konversi R-36M ke Biro Desain Roket Makeyev membutuhkan sumber daya perusahaan dan memiliki risiko, karena perlunya menyelesaikan dua masalah yang tak saling berkaitan: menyusun konversi untuk roket yang tidak familiar, dan menghindari melakukan pekerjaan terburu-buru.

Desain ulang diperlukan baik untuk sistem kontrol R-36M (dilakukan oleh perusahaan Kharkiv Khartron), maupun untuk peluncuran Iridium selanjutnya musim gugur ini perusahaan telah melengkapi tugasnya. Di Rusia terdapat setidaknya empat perusahaan yang bergerak di bidang sistem teknis luar angkasa (termasuk Leninets Central Scientific Production Company, Pilugin Scientific Production Center of Automatics and Instrument Making di antara yang lainnya). Namun, mundurnya Ukraina menciptakan masalah bagi mereka, karena tak ada yang memprediksi hal tersebut.

Enam peluncuran telah diumumkan untuk 2015 – 2017, dan akan dilakukan meski situasi sedang sulit, karena reputasi Rusia sebagai penyedia jasa antariksa dipertaruhkan. Namun dalam jangka panjang, Rusia akan berupaya meminimalisasi biaya peluncuran Angara yang dapat menggantikan Dnepr.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.