Robot Bawah Air Akan Segera Muncul di Timur Jauh

Foto: Lev Fedoseyev/TASS

Foto: Lev Fedoseyev/TASS

Pada 2017, produsen teknologi Rusia berencana membuat klaster pertama Rusia untuk merancang robot bawah air untuk penggunaan militer dan sipil.

Para pengembang robot bawah air di Timur Jauh Rusia ingin bersatu dalam sebuah klaster profesional. Mereka berencana membuat robot baru yang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di bawah air, melakukan misi yang menantang, atau bahkan menggantikan penyelam. Mereka dapat digunakan baik untuk tujuan militer dan sipil, termasuk eksplorasi geologis.

Menurut pihak perancang, robot ini bisa dipasok untuk pasar Asia Pasifik. Mitra asing yang paling menjanjikan untuk menciptakan sistem robotik ini adalah India, Tiongkok, Korea Selatan, serta beberapa kolaborator di Asia Tenggara.

Penjaga Perbatasan

Penggagas Primorsky Cluster adalah Concern Morinformsystem-Agat JSC. Perusahaan tersebut telah mengembangkan sistem otomatis untuk armada Rusia selama lebih dari 60 tahun. Dalam kerangka kerja klaster tersebut, pengembang juga berencana merancang sistem yang dapat membantu mengontrol robot dari jarak jauh.

"Sistem robotik marinir akan dikembangkan dalam beberapa modul, sehingga akan membuatnya universal," kata Maria Vorobieva, sekretaris pers Morinforsystem-Agat. Pengembang berharap klaster ini dapat menyokong kapabilitas pertahanan wilayah Pasifik Rusia. "Dengan bantuan mitra kami, kami hendak merancang solusi komprehensif yang dapat digunakan untuk melindungi perbatasan dan kepentingan Rusia, serta untuk digunakan oleh masyarakat sipil," kata Vorobieva.

Sebanyak 20 perusahaan Rusia akan dilibatkan dalam klaster ini, termasuk grup Tetis, Okeanpribor, serta Gidropribor Underwater Armament. Secara keseluruhan, asosiasi ini akan didukung oleh lebih dari seratus organisasi industri dan ilmiah.

Timur Jauh: Tanah Air Robot

Beberapa institusi penelitian ilmiah khusus dan perusahaan telah beroperasi di Timur Jauh. Sebagai contoh, Institute of Marine Technology memproduksi perangkat yang digunakan oleh Armada Laut Utara, Armada Laut Hitam, dan Armada Samudera Pasifik.

Institusi ini menciptakan robot Klavesin-1R, yang mampu direndam hingga kedalaman enam ribu meter. Ia dapat tetap beroperasi di dasar laut Arktik, padahal tak ada robot atau teknologi lain yang dapat berfungsi di sana karena temperaturnya sangat rendah. Klavesin-1R membantu ilmuwan membuktikan bahwa Bukit Lomonosov di Samudera Arktik merupakan lanjutan dari wilayah Rusia. Saat ini, robot telah digunakan oleh Kementerian Pertahanan Rusia.

Salah satu tim teknologi robotik bawah air yang paling berpengalaman bekerja di Far Eastern Federal University. Dengan bantuan klaster tersebut, universitas dapat menciptakan robot bawah air yang dapat dikendalikan dari jarak jauh, yang dapat mengekstraksi minyak dan memantau situasi ekologis dan masalah keamanan.

Robot Lebih Cepat dari Penyelam

"Berkat robot, durasi kerja penyelam dapat dikurangi hingga sepuluh kali lipat," terang Alexey Tskhe, Wakil Presiden Penelitian dan Inovasi di Far Eastern Federal University. "Seluruh dunia mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk mitra kami di Korea, Tiongkok, AS, dan Singapura. Tentu, perangkat bawah air otomatis yang dikembangkan universitas tak bisa melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia di kedalaman bawah laut. Namun beberapa operasi, seperti inspeksi visual dan diagnostik dapat dilakukan oleh robot lebih cepat dari manusia."

Meski sangat potensial, inovasi mereka tak bisa menembus pasar dengan cepat. Mereka harus menghadapi masalah terkait pemasaran dan komersialiasi model yang sudah jadi. Penggagas klaster Timur Jauh berharap dapat segera menyelesaikan hal tersebut.

"Untuk hal tersebut, robot bawah air harus bisa menarik perhatian mitra industri yang kuat, yang dapat membawa ide ini ke level otoritatif dengan potensi industrial yang besar," kata Tskhe. "Kami memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap klaster ini karena tujuannya adalah komersialisasi dan promosi pengembangan Rusia."

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.