Tank T-55: Tank Klasik Soviet, Veteran Konflik Lokal

Nikolai Akimov, Vladimir Peslyak/TASS

Nikolai Akimov, Vladimir Peslyak/TASS

T-55 hampir menjadi tipikal tank Soviet — sama seperti T-34 — karena diproduksi massal dan didistribusikan ke seluruh dunia selama 60 tahun terakhir. Meski kalah oleh rival NATO-nya di padang pasir perang Arab-Israel, di tangan komandan yang berbakat, T-55 bisa menjadi andalan untuk konflik lokal di paruh kedua abad ke-20, menapakkan jejak mendalam di negeri nun jauh.

Tak lama setelah Uni Soviet memasukkan tank T-54 dalam perbendaharaan senjatanya pada akhir 1940-an, kompetisi senjata antara bekas sekutu Perang Dunia II meningkat tajam, dan kedua pihak memperebutkan supremasi di semua lingkup pertahanan dan produksi senjata. Bagi Uni Soviet, tank bisa menggambarkan kekuatan militer di darat, dan tank-tank tersebut selalu menjadi mimpi buruk bagi Eropa selama beberapa dekade.

Tantangan Soviet bersambut. AS meluncurkan tank tempur AS M48 Patton III, dan Inggris mengeluarkan tank tempur Centurion, dan pada 1959 AS mengawali debut tank tempur utama mereka, M60. Modifikasi Mk.10 Centurion juga membuat perancang tank Soviet harus bekerja lembur untuk memperbaharui tank sesuai dengan spesifikasi tercanggih saat itu.

Upaya untuk menciptakan kendaraan lapis baja baru berbasis tank medium T-54B dimulai pada 1957. Proyek rahasia ‘Objek 155’ tersebut memiliki berbagai fitur desain terbaru berdasarkan modernisasi T-54. Uji coba dilakukan dari musim dingin 1957 hingga musim semi 1958, dan Objek 155 kemudian masuk tentara Soviet sebagai tank T-55 sesuai Resolusi 8 Mei yang dikeluarkan oleh Dewan Kementerian Uni Soviet. Selama masa produksi T-55, sebanyak 24 ribu tank diproduksi dan dipasok untuk berbagai angkatan bersenjata.

Modifikasi utama T-54 terdiri dari kehadiran sistem pertahanan antinuklir komprehensif yang dapat mengisolasi kru dari efek radiasi. Ketebalan lapis baja tetap sama, tetapi senapan utama dan senapan mesin koaksial tank tersebut mengalami stabilisasi. Ukuran tank juga lebih kecil, menyusut hingga hampir satu meter.

Menghalau Debu di Padang Gurun: T-55 vs Centurion

Meski untungnya tak melawan Centurion di medan tempur Eropa pada konflik global, T-55 beberapa kali berhadapan dengan musuh bebuyutannya, terutama dalam konflik Arab-Israel. Tank Soviet terbukti lebih unggul dalam pengoperasiannya secara umum, tapi ia kalah dalam lingkup efektivitas senjata. Meriam 105-mm L7 Inggris yang terpasang di Centurion milik pasukan Israel lebih canggih dari segi jarak pandang dan penetrasi lapis baja, yang terbukti menentukan pemenang dalam pertempuran padang pasir. Perang di Timur Tengah juga menguak kekurangan dalam konfigurasi struktural tank ini, yang menciptakan ledakan cadangan amunisi saat penetrasi lapis baja.

Pertempuran terbesar pertama T-55 melawan Centurion terjadi pada Juni 1967, dalam Perang Enam Hari yang dimenangkan oleh Israel. Israel, dengan 20 tank Centurion, berhasil mengalahkan Mesir yang mengerahkan 32 tank T-54 dan T-55 di area Bir Lahfan. Namun, situasi berpihak pada tank Soviet di El-Arish pada 1973, ketika Mesir mampu menangkis tiga serangan Centurion dari Brigade ke-7 Israel dan menghancurkan 17 tank musuh.

Secara keseluruhan, Israel kehilangan 122 tank di garis depan pertempuran melawan Mesir, sementara Mesir kehilangan lebih dari 820 dari 935 tank dan senapan otomatis, termasuk 82 tank T-55. Di Golan Heights, Suriah kehilangan 1.116 tank termasuk 627 tank T-54 dan T-55, sementara Israel mengorbankan 250 Centurion dan tank AS Sherman.

Namun, tank Soviet kemudian menghadapi tantangan yang lebih berat pada perang 1973 ketika pasukan Mesir meluncurkan serangan pada 14 Oktober dengan 1.200 tank melawan 750 tank Centurion dan Patton milik Israel. Perang tersebut merupakan pertempuran lapis baja terbesar sejak Perang Dunia II. Mesir kehilangan 264 tank, sementara Israel hanya kehilangan 25 tank. Meriam L7 berhasil menghancurkan lapis baja Mesir dari jarak jauh dan pasukan udara Israel mendominasi ruang udara di atas padang Sinai, mengakibatkan kehancuran yang lebih parah bagi pasukan Kairo.

Pada akhir pertempuran, kru tank Israel telah melihat bagaimana meriam tank L7 tak hanya lebih unggul dari meriam 100-mm D-10T2S milik T-55, tapi juga lebih canggih dari meriam 115 mm U5-TC yang dipasang pada tank Soviet T-62. Senapan utama Centurion memiliki peningkatan maksimum yang lebih besar dari rivalnya, yang membuat Israel dapat dengan mudah menghancurkan tank musuh saat berada di luar jangkauan serangan balik.

Namun, kunci dari kesuksesan Israel tak hanya dari keungulan teknis, tapi juga perencanaan militer yang lebih baik dibanding angkatan bersenjata Mesir.

Prospek yang Lebih Cerah di Afganistan

Tank Soviet T-55 juga digunakan dalam perang 1979 – 1989 di Afganistan. Tank yang paling modern dimiliki oleh pasukan Barat yang berbasis di Eropa. Sementara, formasi tentara di perbatasan selatan Uni Soviet dipersenjatai dengan model T-55 dan T-62 yang sudah usang. Di Afganistan, tank digunakan dalam jumlah kecil untuk memperkuat infanteri dan batalion udara serta garis pertahanan komunikasi di area kunci, berfungsi sebagai senjata manuver jarak jauh.

Meski beberapa kali mengalami kekalahan, T-55 membuktikan dirinya sebagai aset yang murah dan sederhana bagi tentara di seluruh dunia, dan telah digunakan di 70 negara di dunia. Tank ini lebih mudah untuk dioperasikan dibanding tank Barat, serta dapat bergerak dengan sangat baik mengingat bobot tempur yang relatif ringan yakni hanya 40 ton. Jalur yang lebar memberi tekanan yang lebih rendah pada tanah dan membuat tank ini dapat bergerak dengan baik di medan lunak. Ia juga dilengkapi sistem yang mampu bertahan di cuaca dingin dan snorkel untuk melintasi sungai.

Selain Timur Tengah, tank ini juga digunakan medan tempur pendukung seperti Angola, Vietnam, perang Indo-Pakistan, Balkan, dan Libya. Pada Juli 2014, sebuah T-54 di museum Donetsk, Ukraina timur, dilaporkan mulai digunakan oleh pasukan pemberontak.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.