Kirim Seratus Jet Sukhoi, Tiongkok Jadi Batu Loncatan bagi Pesawat Rusia

Foto: Marina Lystseva/TASS

Foto: Marina Lystseva/TASS

Rusia akan memasok seratus pesawat sipil Sukhoi Superjet (SSJ) untuk Tiongkok dalam tiga tahun ke depan, demikian disampaikan Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Denis Manturov beberapa minggu lalu.

Menurut sang menteri, lima pesawat SSJ akan dikirim untuk Tiongkok tahun ini. Namun, pesawat tersebut tidak dijual, melainkan ditransfer ke perusahaan gabungan Rusia-Tiongkok, yang akan mendistribusikan pesawat itu ke pasar Tiongkok dan negara-negara tetangga, dan semua itu akan bergantung pada kebutuhan sarana angkutan lokal. Namun, akankah mereka menyukai SSJ?

Industri pesawat sipil Soviet yang pernah berjaya telah mengalami kemerosotan sejak lama. Proses tersebut berawal sejak 1980-an, ketika jumlah produksi pesawat secara bertahap berkurang dan berakhir pada tahun 1990-an. Pesawat Soviet kian menua, namun industri yang kacau-balau tak bisa menawarkan pengganti pesawat-pesawat tersebut.

Jumlah pesawat penumpang domestik di armada maskapai terbesar Rusia hanya sekitar lima hingga enam persen. Pada 2014, United Aircraft Corporation (UAC) menyelamatkan nasib pesawat domestik dengan memproduksi 37 pesawat sipil.

Pesawat Sipil dari Biro Desain Militer

Proyek untuk menciptakan SSJ dimulai pada 2003 dan pada awalnya fokus untuk menjangkau pasar global. Perancang pesawat dari biro desain Sukhoi, yang tak pernah terlibat dalam pembuatan pesawat sipil utama, mengambil keputusan bekerja sama dengan perusahaan asing, dan menyebutkan kebutuhan untuk mengakomodasi semua teknologi terbaik pada pesawat dan membuatnya sekompetitif mungkin di pasar global.

 

Hasilnya, jumlah komponen asing dalam pesawat ini lebih dari 50 persen, dan tentu sulit menyebut SSJ sebagai pesawat Rusia.

Di pasar global, SSJ masuk dalam kelas seratus kursi dengan model Bombardir dan Embraer. Dua tahun kemudian, SSJ menghadapi dua kompetitor yang tangguh—Comac Tiongkok dan Mitsubishi Regional Jet (MRJ) Jepang.

Menurut Kepala UAC Yury Slyusar, jumlah pangsa pasar dunia untuk pesawat regional diperkirakan sekitar tiga ribu unit, dan AS dan Uni Eropa 'yang tertutup untuk produsen Rusia' menguasai 70 persen di antaranya. Oleh karena itu, Rusia mengandalkan pasar domestik, Amerika Latin, Afrika, dan Timur.

Kiblat ke Timur

Di luar Rusia, SSJ sejauh ini baru mencicipi kesuksesan di Meksiko. Perusahaan lokal di Meksiko membeli 20 pesawat Rusia. Sementara, penjualan pesawat di wilayah lain tak terlalu menggembirakan.

Kesepakatan dengan Tiongkok sungguh terobosan dalam hal ini. Kerja sama tersebut disepakati pada Mei lalu, saat pemimpin Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Rusia untuk menghadiri perayaan Hari Kemenangan. Namun mengapa Tiongkok—yang membangun pesawat pesaing SSJ, ARJ-21—membuka pasarnya untuk produsen Rusia?

Menurut para pakar, pada 2035, pasar pesawat regional di Tiongkok akan meningkat hingga seribu sampai 1.300 pesawat. Tiongkok yakin bahwa pasar mereka akan cukup untuk kedua pesawat, jadi mengapa tidak membiarkan perusahaan mereka juga meraup untung dengan meminjamkan SSJ, terutama karena Rusia siap memberi tawaran yang menarik.

Dalam tiga tahun ke depan, perusahaan Sukhoi Civil Aircraft akan mengirim seratus pesawat yang bernilai tiga miliar dolar, yang akan berstatus pinjaman.

Faktanya, perusahaan gabungan Rusia-Tiongkok akan meminjamkan pesawat untuk maskapai dalam jangka waktu tertentu sesuai kebutuhan.

Rusia optimis akan prospek dari proyek ini. Dalam sebuah wawancara, Slyusar menyebut kerja sama tersebut sebagai batu loncatan untuk mempromosikan pesawat Rusia, dan ia menyatakan kesepakatan ini 'selangkah lebih maju untuk merestorasi posisi Rusia di pasar aviasi sipil'.

Menurut Kepala UAC, keunggulan SSJ yang berkontribusi terhadap kesukesannya di Tiongkok dan Asia Tenggara, termasuk skema penyewaan yang menarik, serta tingginya kualitas dan jasa layanan pesawat. SSJ berbobot sekitar 2,5 ton lebih ringan dari kompetitornya, yang menurunkan biaya perawatan pesawat di bandara bagi pesawat ini dan mengurangi konsumsi bahan bakar hingga lima persen.

Apakah keunggulan tersebut bisa menciptakan keuntungan dan mempromosikan pesawat SSJ di dunia ke depannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.