AS Kini Memiliki “Kalashnikov” Sendiri

Grigory Sysoyev/TASS

Grigory Sysoyev/TASS

Awal Juli lalu, perusahaan Amerika Russian Weapon Company (RCW), yang merupakan distributor utama senjata Kalashnikov—sebelum sanksi dijatuhkan pada perusahaan Rusia yang memproduksi senjata tersebut—mulai menjual senapan legendaris AK-47 yang mereka produksi sendiri. Di Rusia, mereka tidak heran dengan kejadian tersebut. Mereka berjanji melakukan diversifikasi penjualan di pasar, meningkatkan kualitas senjata sipil dan meningkatkan pendapatan dari penjualan senjata militer. Tapi apakah ada alasan untuk optimisme tersebut?

Sebagai permulaan, kita perlu mencari tahu mengapa, siapa, dan bagaimana membeli produk Kalashnikov di Amerika dan di negara-negara lainnya. Dalam hal ini negara-negara di dunia ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu negara yang melegalkan dan yang membebaskan kepemilikan senjata api. Pada kategori negara yang pertama, kita hanya membahas mengenai kepemilikan senjata sipil untuk keperluan membela diri dan berburu. Sementara, kategori negara kedua termasuk pada taraf kepemilikan senapan yang ditujukan selain membela diri atau berburu (atau yang serupa dengan itu).

Jadi, manakah pasar yang lebih penting untuk Kalashnikov? Jelas pilihan kedua dirasa lebih tepat. Amerika adalah negara yang melegalkan kepemilikan senjata api dengan persentase penggunaan yang terbesar dan permintaan pasar yang paling tinggi.

Pasar tersebut sangat penting bagi para produsen senjata, layaknya para jemaah yang pergi ke tanah suci. Satu-satunya yang membedakan, bukan hanya cara mencapainya, tetapi juga harus mampu bertahan dengan segala cara. Tak terkecuali bagi Kalashnikov. Bahkan di Rusia yang mempunyai taiga yang begitu luas, tidak begitu banyak ditemukan pemburu. Beda halnya dengan para pecinta senapan di Amerika yang bahkan mengoleksi semua jenis senapan api. Hasilnya, menurut Manajer Komunikasi Kalashnikov Vasiliy Brovko, di pasar Amerika Serikat, sebesar 90 persen produksi sipil berhasil dijual perusahaan.

Perusahaan mengirimkan senapan pemburu dan olahraga untuk warga sipil ke Amerika Serikat, termasuk senapan mesin otomatis (karabin) Saiga yang populer (versi sipil dari senapan otomatis Kalashnikov) dengan berbagai macam amunisi. Tak ketinggalan pula, karabin Los', Bars, Sobol, dan Record. Kalashnikov juga turut memproduksi senapan semi-otomatis dan smooth-bore Saiga-12 untuk pasukan kepolisian Amerika Serikat. Namun, sebagian besar dari ekspor ke Amerika Serikat (lebih dari 50 persen atau lebih dari 100 ribu unit per tahun) jatuh pada versi sipil senapan AK-47 yang dinilai para kolektor sebagai simbol Uni Soviet layaknya matryoshka dan topi ushanka dengan simbol bintang merah. Senapan ini dibeli untuk disimpan sebagai koleksi langka sehingga kualitasnya menjadi tidak begitu penting. Dalam hal ini, yang mengejutkan adalah pernyataan dari Kalashnikov mengenai niatnya untuk memerangi fenomena ini (contohnya seperti peluncuran AK-47 di Amerika Serikat) melalui isu produk yang inovatif yang kualitasnya berbeda dari senapan lainnya.

Wakil Presiden Mantan Mitra Kalashnikov RWC Jay Portts menjelaskan dengan sangat baik logika para konsumen Amerika, "Anda dapat menggunakan analogi (minuman) anggur. Ketika Anda berpikir tentang anggur, apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda? Anggur Prancis. Begitu pula dalam hal ini. AK-47 yang terbaik adalah yang dibuat di Rusia karena senapan tersebut asli. Benar atau tidaknya tak menjadi soal." 

Namun demikian, hal ini tak mencegah perusahaan Porttsa untuk mulai memproduksi AK-47 setelah adanya pelarangan. Ini memang bukanlah sesuatu yang baru. Di Uni Soviet, tidak ada aturan khusus mengenai hak cipta. Karena itu, produksi salinan mesin senapan Rusia yang dilakukan oleh setidaknya sekitar 20 negara telah lama beredar. Bahkan sebelum dikenakan sanksi di Amerika, telah ada 16 pabrik senjata AK-47 di sebelas negara bagian.

Setelah penarikan dari pasar karena sanksi, RWC hanya mencoba untuk menarik keuntungan dari kerja sama dengan perusahaan Kalashnikov dan mencoba mengumpulkan poin tambahan dalam memerangi pesaing. Hal ini dibuktikan dengan slogan Kalashnikov yang produksinya diberi label "Made in USA" yaitu, "Warisan Rusia, Inovasi Amerika".

Lalu bagaimana dengan hak milik Rusia? Sementara ini mereka melakukan pernyataan halus yang menyebut insiden itu sebagai "pengharapan" dan tampaknya mereka berharap untuk kembali ke pasar setelah pencabutan sanksi.

Sementara itu, perusahaan berencana untuk mengganti pasar Amerika Serikat yang besar dengan memasok hasil produksi ke sejumlah besar pasar "kecil", termasuk Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika Latin, serta penjualan yang lebih aktif terhadap produk militer. Diperkirakan ada peningkatan sekitar tiga kali lipat pada tahun ini (terutama dikarenakan perintah pertahanan Rusia).

Adapun kualitas dan karakteristik senjata baru Kalashnikov tersebut akan berguna untuk menghadapi pesaing asing. Namun, Rusia mempunyai pangsa produsen senjata sipil lokal yang saat ini bila digabungkan hanya terhitung 30 persen dari pasar.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.