Izhevsk: 200 Tahun di Garis Depan Produksi Senapan Rusia

Foto: RIA Novosti

Foto: RIA Novosti

Menghadapi peningkatan kebutuhan senjata api bagi angkatan bersenjata Rusia pada awal abad ke-19, Tsar Aleksandr I memerintahkan pembangunan pabrik senjata raksasa di hutan sepanjang Sungai Izh, 1.200 kilometer di sebelah timur Moskow. Selama bertahun-tahun, kota Izhevsk tumbuh di sekeliling pabrik senjata ini. Pabrik tersebut kemudian menjadi rumah dari senapan Kalashnikov yang terkenal di seluruh dunia.

Pada awal abad ke-18, pabrik senjata kecil di Rusia menghadapi kemacetan akibat permintaan sangat besar namun tak sebanding dengan jumlah fasilitas produksi: hanya ada dua pabrik senjata di Rusia, yakni di Tula dan Sestroretsk, yang dapat bertahan. Saat awan badai kembali menaungi Eropa, insinyur pertambangan Andrei Deryabin berhasil memenuhi tugas yang nyaris mustahil yakni menciptakan pabrik senjata baru dalam waktu singkat.

Dalam tahun-tahun pertama abad ke-19, kualitas senapan Rusia masih rendah sehingga tentara Rusia kesulitan menghadapi senjata modern milik pasukan musuh seperti senapan infanteri Prancis 1777. Pasukan tsar malah menerima 28 senjata kecil dengan kaliber yang berbeda, yang membuat petugas logistik kesulitan memasok amunisi.

Solusi yang Tepat Waktu

Tak ada jalan pintas untuk situasi di tengah kurangnya kapasitas dan waktu untuk membangun pabrik senjata modern kala itu. Tertekan oleh ancaman eksternal, pemerintah menugaskan pembangunan fasilitas produksi senjata tambahan. Salah satu pabrik baru tersebut terletak di hutan Sungai Izh, 1.200 kilometer di sebelah timur Moskow, dekat pabrik metalurgi yang sudah lesu. Pendirian pabrik senjata memberi nafas baru bagi wilayah itu dan pabrik senjata lalu menjadi pusat kota Izhevsk di Republik Udmurtia.

Proses perakitan senapan Kalashnikov. Foto: RIA NovostiProses perakitan senapan Kalashnikov. Foto: RIA Novosti

Area ini sangat memiliki pasokan bahan baku berlimpah seperti besi Ural dan bahan bakar arang dari hutan yang lebat, sehingga sangat cocok menjadi pabrik senjata. Selain itu, aliran Sungai Izh membentang ke Kama dan Volga, sebuah jaringan distribusi yang sangat sempurna untuk mengirim hasil produksi ke pusat Rusia.

Pabrik senjata tersebut dibangun di bawah pengawasan Deryabin, dan kini monumen Deryabin berdiri di lokasi tersebut untuk menghormati dan mengenang jasanya. Ia menerima tugas ambisius untuk menciptakan siklus produksi baru dalam waktu singkat dan lebih unggul dibanding perusahaan Rusia lainnya, serta membangun bengkel spesialis untuk setiap tahap manufaktur senapan, dari kalibrasi hingga mekanisme penguncian. Spesialis dari luar negeri juga didatangkan untuk melatih para pengrajin senjata lokal.

Lima tahun kemudian, tepatnya 1812, pabrik ini telah beroperasi dengan baik. Saat Rusia menghadapi perang melawan Napoleon, pabrik ini memproduksi dua ribu unit senapan 1808 berkaliber 17,7 mm, yang kualitasnya mampu disandingkan dengan model senjata Prancis. Sepanjang perang melawan Napoleon, pabrik ini telah memproduksi enam ribu senapan, senapan kavaleri dan senapan berburu, pistol, bayonet, pedang panjang, dan pedang pendek.

Produksi terus tumbuh, dan 25 tahun kemudian pabrik Izhevsk telah mampu memproduksi 25 ribu senjata per tahun. Pada 1836, pabrik ini memecahkan rekor dengan menghasilkan 30 ribu unit senjata kecil. Secara bersamaan, sebuah kota tumbuh di sekeliling kompleks produksi senjata.

Pada 1853 – 1856, Rusia terlibat perang yang melelahkan di Krimea, yang kala itu merupakan salah satu pusat kekuatan militer terkuat di Eropa. Pada periode konflik tersebut, pabrik senjata Izhevsk menciptakan terobosan luar biasa dalam desain senapan tradisional. Pada masa awal perang pabrik tersebut telah memproduksi sekitar 40 ribu unit senjata dan secara keseluruhan pabrik Izhevsk menghasilkan 130 sepanjang perang.

Dari Privatisasi ke Produksi Massal

Pada 1867, pabrik Izhevsk mengalami privatisasi. Selama lebih dari 15 tahun, pabrik ini tumbuh dengan mengandalkan modal swasta, dan pada 1878 pabrik ini mampu memproduksi 160 ribu senapan per tahun.

Pada 1884, Tsar Aleksandr III mengumumkan bahwa pabrik harus dikembalikan pada pemerintah untuk memproduksi senapan terbaru Rusia Mosin berkaliber ‘tiga lini’ (7,62 mm) dengan skala besar. Model senapan ini menjadi model utama pabrik senjata Izhevsk hingga dekade-dekade berikutnya. Pabrik mampu memproduksi dua ribu unit senapan per hari pada masa Perang Dunia II dan total 1,5 juta unit dari 1914 hingga 1918. Fasilitas produksi juga berhasil melewati Perang Sipil, dan setelah itu menjadi jawara dalam produksi baru senapan berburu yang hingga hari ini masih dianggap yang terbaik di Rusia.

Mikhail Kalashnikov, sang pencipta senapan Kalashnikov. Foto: RIA NovostiMikhail Kalashnikov, sang pencipta senapan Kalashnikov. Foto: RIA Novosti

Mosin Izhevsk merupakan senjata utama tentara Soviet pada masa Perang Dunia II, yang setelah itu pabrik ini diperluas dengan skala raksasa setelah pengrajin senjata Mikhail Kalashnikov menciptakan sejarah dalam produksi senjata global. Pada 1949, produksi senapan Kalashnikov yang legendaris dimulai di pabrik tersebut, yang kemudian diberi nama Kalashnikov Concern untuk menghormati desainernya. Pabrik ini kemudian menjadi pabrik terbesar di Rusia dan memasok senjata untuk 30 negara.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.