Kejar Ketertinggalan Teknologi UAV, Rusia Rancang Pesawat Amfibi Tanpa Awak Terbaru

Foto: Donat Sorokin / TASS

Foto: Donat Sorokin / TASS

Selama operasi militer di Yugoslavia, Afganistan, dan Irak, pesawat tanpa awak atau UAV menjadi sorotan dunia. Pesawat unik ini berukuran kecil dan terbang tanpa dikendalikan pilot. Kala itu, tak ada satu pun jenis pesawat Rusia yang kemampuannya setidaknya mendekati pesawat tersebut. Usaha Rusia untuk mengejar ketertinggalan tersebut baru dimulai di akhir tahun 2000-an. Kini, tentara Rusia telah memiliki pesawat tanpa awak kelas ringan dan menengah. Rusia tak hanya memiliki pesawat tiruan UAV, tapi juga merancang pesawat sejenis yang benar-benar baru.

Pada Maret lalu, perwakilan dari Institut Penelitian Teknik Radio (MNIRTI) mengumumkan bahwa mereka akan merancang pesawat amfibi tanpa awak versi baru, Chirok, yang berbobot dua ton dan memiliki bantalan udara seberat 750 kilogram. Pesawat tersebut pernah dipamerkan pada musim panas 2014 lalu. Namun, pesawat serupa dengan versi lebih kecil pun sampai saat ini baru berupa prototipe dan masa depannya masih dipertanyakan.

Pesawat amfibi tanpa awak ini belum diproduksi secara komersial. Oleh karena itu, Chirok masih bisa keluar dari sejumlah adopsi teknologi dan usaha untuk meniru pesawat nirawak milik Israel dan AS.

"Ide untuk menciptakan pesawat tanpa awak berbantalan udara ini didasari oleh keuntungan penggunaan perangkat tersebut, terutama kemampuan untuk terbang dan mendarat tanpa menggunakan jalur penerbangan khusus, begitu pula di permukaan darat yang tidak rata, tanah lunak, bahkan tanah rawa," terang pakar perangkat tanpa awak Rusia Denis Fedutinov pada Mir Robotov.

"Namun, realisasi teknis dan teknologi sistem seperti ini mengundang beberapa keraguan. Pertama, penggunaan bantalan udara akan memperburuk aerodinamika pesawat. Kedua, perlu sistem yang cukup besar dan bertenaga di dalam badan pesawat untuk menjalankan fungsi bantalan udara tersebut," ujar Fedutinov.

Akan tetapi, Fedutinov menyebutkan, hal tersebut justru membuatnya menjadi pesawat tanpa awak yang tak memiliki tandingan di dunia. "Untuk melakukam lepas landas dan pendaratan tanpa jalur penerbangan khusus, pesawat harus menggunakan perangkat helikopter. Dalam hal ini, kecepatan bergantung pada perangkat convertiplane. Selain itu, pesawat berbantalan udara sangat unik, bahkan dibanding kendaraan hibrida pesawat-helikopter sekalipun," ujar Fedutinov.

Bantalan udara, seperti yang dijanjikan oleh perancang pesawat ini, tak akan menghambat aerodinamika pesawat saat terbang. Kepala Divisi Pesawat Nirawak MNIRTI Aleksey Smirnov menjelaskan, untuk menyelesaikan masalah tersebut, membran bantalan udara akan dibuat dari karet khusus yang mampu memulur hingga seribu persen saat lepas landas dan mendarat, sementara selama terbang ia akan menempel erat di bagian bawah pesawat.

Badan pesawat yang terbuat dari karbon memberi ruang yang cukup besar di dalamnya, yang dapat diisi dengan persenjataan roket hingga senjata elektronik, atau bahkan 12 orang penumpang. Pesawat seperti ini dibutuhkan di daerah-daerah terpencil Rusia serta untuk mengirim pekerja industri migas, geologi, dan sebagainya ke wilayah Rusia Utara. Secara teori, pesawat juga dapat digunakan militer Rusia sebagai alat perang, transportasi, atau pengiriman barang ke Arktik.

Para pengembang pesawat akan memamerkan Chirok versi mini pada Agustus mendatang dalam pameran aviasi MAKS-2015. Nasib 'sang kakak' pesawat ini sangat bergantung pada kesuksesan 'mini-Chirok' untuk mendapatkan calon pembeli, baik instansi militer maupun pihak lain. Sementara ini, proyek dijalankan atas inisiatif perusahaan tanpa keterlibatan pemerintah atau investor besar. Artinya, proyek ini dapat dihentikan kapan saja di tengah situasi ekonomi seperti saat ini.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.