Roket Antitank Rusia Kornet-D, 'Jodoh' Tank Tigr

Pembuatan kompleks roket antitank Kornet di Biro Konstruksi Instrumen (BKI) Tula telah dimulai sejak awal era 1990-an. Foto: Alexei Filippov/TASS

Pembuatan kompleks roket antitank Kornet di Biro Konstruksi Instrumen (BKI) Tula telah dimulai sejak awal era 1990-an. Foto: Alexei Filippov/TASS

Kendaraan lapis baja Tigr-M yang dilengkapi dengan kompleks roket antitank terbaru Rusia Kornet-D ikut serta dalam Parade Hari Kemenangan yang digelar pada 9 Mei lalu. Kompleks Kornet-D mampu melumpuhkan tank-tank paling modern dan muktahir yang ada di dunia, baik yang dilengkapi dengan sistem pelindung dinamis (reactive armour), objek lapis baja kelas ringan, benteng perlindungan, hingga sasaran udara dan target di atas permukaan air seperti pesawat tanpa awak, helikopter, dan pesawat tempur.

Kompleks roket antitank Kornet-D terdiri dari dua peluncur roket otomatis dan sistem kendali. Salah satu keunggulan utama tank pengangkutnya ialah memiliki daya jelajah yang baik dan tingkat pelindungan lapis baja (kelas IV) tertinggi di antara kendaraan sejenis. Pada saat melakukan mobilisasi, roket-roket antitank tersebut disembunyikan dalam korpus (badan) mobil, sehingga sulit membedakan kompleks roket antitank ini dengan mobil jip biasa. Kompleks ini juga mampu beralih ke moda siap tempur dalam waktu tujuh detik.

Sistem pengendali tembakan Kornet-D bekerja secara otomatis. "Operator melacak sasaran tembak secara visual, lalu mengarahkan peluncur roket ke sasaran dan menguncinya. Setelah itu, sistem akan meluncurkan roket menuju sasaran tanpa campur tangan manusia sama sekali," terang pihak Kementerian Pertahanan Rusia.

Generasi 2+

Pembuatan kompleks roket antitank Kornet di Biro Konstruksi Instrumen (BKI) Tula telah dimulai sejak awal era 1990-an. Pada 1994, gelombang pertama pasokan kompleks roket antitank masuk ke dalam perbendaharaan senjata tentara Rusia.

Kornet lebih unggul dibanding kompleks roket antitank generasi ketiga dari segi harga, jarak tembak, dan kompatibilitas. Sementara dibanding senjata generasi kedua, kompleks ini dirancang lebih otomatis dan dinamis.

Kompleks roket antitank generasi sebelumnya dikendalikan menggunakan kabel yang digulung di belakang roket atau menggunakan sistem komando berdasarkan gelombang, sementara Kornet memiliki sistem kendali dengan ketepatan tembak serupa sistem pembidik milik pesawat tempur. Peluncur roket Kornet pun memiliki sistem pemancar laser yang dapat dibidik ke sasaran.

Kompleks roket antitank Kornet-D produksi BKI Tula ini didemonstrasikan untuk pertama kalinya pada 2011. Senjata ini merupakan modernisasi besar-besaran atas kompleks Kornet. Perangkat roket yang telah dimodernisasi tersebut memiliki jarak tembak yang jauh lebih besar.

Amunisi yang mempersenjatai kompleks Kornet-D hampir 4 kali lebih murah dibanding senjara sejenis produksi negara lain. Tak heran, Kornet-D sangat diminati oleh negara-negara lain. Kompleks rudal antiroket ini telah dimiliki oleh Suriah, Yordania, Algeria, Libya, Turki, dan India.

Saingan berat Kornet ialah Spike buatan perusahaan Israel Rafael. Spike dibanderol jauh lebih murah dibanding rudal-rudal antiroket buatan AS, namun ia memiliki kemampuan taktis dan spesifikasi yang lebih rendah.

Tak Hanya Hancurkan Tank

Kornet tak hanya dibutuhkan oleh pasukan angkatan darat. "Saat ini, Kornet dinilai sebagai pelengkap kompleks peluncur rudal Pantsir. Berkat tingkat kejituan tembak, daya ledak, serta kemampuan manuver yang tinggi, Kornet dapat dengan mudah melumpuhkan pesawat tanpa awak atau helikopter musuh. Pantsir bertugas menemukan sasaran, memberikan koordinat lokasi musuh pada Kornet, lalu Kornet akan meluncur menghancurkan sasaran tersebut," terang salah satu tentara Angkatan Udara Rusia yang telah mengenal dengan baik kompleks rudal antiroket terbaru itu.

Sang tentara mengatakan bahwa jarak tembak roket Kornet jauh lebih besar dibanding senjata otomatis pertahanan udara milik Pantsir. "Pesawat tanpa awak merupakan sasaran yang sulit dideteksi dan dilumpuhkan. Pada prinsipnya, pesawat ini dapat dikalahkan oleh rudal antipesawat standar milik Pantsir, namun rudal tersebut jauh lebih mahal dibandingk Kornet," terang narasumber tersebut.

Pengalaman Perang Kornet

Kompleks roket antitank ini sudah pernah mengikuti beberapa peperangan. Dalam Perang Libya kedua pada periode Juli-Agustus 2006 lalu, Kornet digunakan oleh para pejuang Hizbullah untuk melawan tentara pertahanan Israel.

Di Suriah, Kornet digunakan oleh pasukan resmi sekaligus oleh para gerilyawan. Mereka menggunakan Kornet untuk menghancurkan tank dan kendaraan lapis baja milik pemerintah.

Berdasarkan materi yang dipublikasikan di VPK, RG, dan Topwar.ru.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.