Lima Senjata Soviet Pembawa Kemenangan dalam Perang Patriotik Raya

Tank T-34. Foto: Wikipedia

Tank T-34. Foto: Wikipedia

Selama masa Perang Dunia II, industri militer Soviet terbukti mampu mengalahkan Jerman dalam berbagai faktor penting, seperti biaya produksi serta kemudahan perbaikan dan kesederhanaan senjata. Dalam waktu yang sangat singkat, Soviet bahkan berhasil mengembangkan berbagai senjata kompetitif yang dapat digunakan oleh tangan seorang anak laki-laki tak berpengalaman sekalipun. Meskipun terlihat sederhana dan kasar, sejarah membuktikan jenis senjata-senjata itulah yang menjadi senjata kemenangan Soviet atas Nazi Jerman.

Tank T-34: Benteng Bergerak yang Diproduksi Massal

Perancang: Mikhail Koshkin

Lebih dari 35 ribu kendaraan ini diproduksi selama masa perang. Foto: Wikipedia

Simbol yang paling terkenal dari kemenangan Perang Patriotik Raya mungkin adalah sang "34" yang legendaris, yang paling banyak diproduksi dibanding semua tank lain di dunia. T-34 merupakan tank pertama yang diproduksi menggunakan pengelasan lempeng baja otomatis. Dua tak yang paling terkenal, T-34 Soviet dan Panzer VI Tiger Jerman, kerap dibandingkan satu sama lain belakangan ini. Namun, sesungguhnya tak adil membandingkan keduanya karena mesin tersebut berada dalam kategori berat yang berbeda dan dibuat untuk misi yang berbeda di medan tempur. Sang "34" dibuat untuk mendukung serangan infanteri, sementara Panzer Tiger dibuat untuk menghancurkan lapis baja.

Peledak Kaleng Timah: Granat Tangan RG-42

Perancang: Sergei Korshunov

Foto: Wikipedia

Desain unik granat RG-42 terlihat seperti kaleng timah biasa dengan dimensi yang sedikit berubah. Perbedaannya adalah granat ini tak berisi susu kental manis, melainkan fragmentasi lurus yang terbuat dari gulungan strip baja tebal dengan ceruk dan bahan peledak. RG-42 dapat diproduksi di pabrik kaleng manapun. Namun, kualitas granat ini di pertempuran setara dengan granat yang lebih kompleks dan mahal.

Artileri Semua Orang: Senapan Divisi ZiS

Perancang: Vasily Grabin

Lebih dari 103 ribu unit diproduksi selama perang. Foto: Wikipedia

Senapan divisi ZiS-3 diproduksi lebih banyak dibanding senjata artileri lain sepanjang perang. Senapan ini dibuat menggunakan metode conveyor, yang membuat para tenaga kerja berketerampilan rendah tanpa bahan berkualitas tinggi sekalipun dapat memproduksi senapan ini. Hal tersebut membuat pasukan bisa mendapatkan senapan ini sebanyak yang mereka butuhkan serta menggantikan senjata-senjata yang musnah dengan cepat. Senapan Grabin dapat meluncurkan semua amunisi Soviet ukuran 76,2 mm, sehingga isi senapan mudah dipasok. ZiS-3 sedikit lebih rendah mutunya dibanding senjata tempur asing yang setara dari segi kualitas tempur, namun senapan Soviet tak tertandingi dari segi kemudahan penggunaan dan kesederhanaannya.

Senapan Gangster: Senapan Mesin Ringan PPSh

Perancang: Georgy Shpagin

Sekitar enam juta buah senapan diproduksi selama perang. Foto: Wikipedia

Senapan mesin ringan, yakni senjata otomatis yang menembakkan peluru pistol, digunakan secara luas sepanjang Perang Dunia II. Uni Soviet awalnya menentang penggunaan senapan mesin ringan. Stalin menyebut senjata tersebut sebagai "senjata gangster" yang tak layak bagi Tentara Merah. Namun, pada awal Perang Patriotik Raya, PPSh mulai digunakan oleh militer Soviet. Hampir semua bagian PPSh-41 buatan Georgy Shpagin dibuat menggunakan cold stamping, salah satu metode produksi baja yang paling murah dan paling produktif. Sekitar enam juta senjata PPSh diproduksi selama perang, sementara Jerman hanya memproduksi 934 ribu senapan mesin ringan MP-40.

Tank Terbang: Pesawat Serang Darat Il-2

Perancang: Sergei Ilyushin

Lebih dari 36 ribu unit diproduksi sepanjang perang. Foto: Wikipedia

Il-2 merupakan pesawat yang memiliki spesialisasi dalam serangan ketinggian rendah pada target darat. Fitur utama desain tersebut ialah menggunakan pelapis baja yang melindungi pilot dan "organ" vital pesawat. Lapis baja Il-2 tak hanya memberi perlindungan dari peluru berkaliber kecil, tapi juga modifikasi badan pesawat agar lebih ringan. Hingga 1944, desain Il-2 lebih banyak menggunakan kayu untuk menghemat duraluminium yang tergolong sulit didapatkan. Dalam Pertempuran Kursk, pesawat ini cukup berperan bagi pasukan Soviet, hingga membuat Jerman mulai menghindari konsentrasi pasukan mereka dan lebih sulit untuk melakukan koordinasi operasi pada unit yang terpecah-pecah. Jerman menyebut Il-2 "Schwarzer Tod" atatu "Sang Kematian Hitam".

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.