Tank T-34: 80 Tahun Mengabdi dan Terus Bertempur

Tank T-34 di  Front Belorusia Ketiga, tahun 1944. Foto: RIA Novosti

Tank T-34 di Front Belorusia Ketiga, tahun 1944. Foto: RIA Novosti

Untuk generasi saat ini, T-34 menjadi simbol kemenangan Soviet dalam Perang Dunia II. Sejak dioperasikan langsung dari Lapangan Merah untuk menghentikan gerakan Nazi di luar Moskow pada 1941, mesin tempur legendaris ini hampir tak pernah beristirahat.

Ketika T-34 Soviet memasuki Berlin pada 1945, hari-hari pertempuran tank sepertinya hampir berakhir. Namun 'sang kacang', sebutan tank ini oleh para kru karena bentuk pucuknya yang segi enam, hanya awal dari pengembaraan tank ini di konflik-konflik dunia. Lebih dari lima dekade, mesin tempur ini berdesing melintasi pasir Mesir, hutan Kuba, savana Angola, dan banyak lagi.

Saat ini, T-34 masih dapat ditemukan di gudang senjata Bosnia dan Herzegovina, Vietnam, Guinea, Guinea-Bissau, Yaman, Korea Utara, Republik Kongo, Kuba, Laos, Mali, dan Namibia.

T-34 pernah bertempur melawan Amerika Serikat dan sekutunya di Korea dan Kuba. Sementara, tank Amerika yang menginspirasi pembuatan T-34 ternyata tak seterkenal 'keturunannya'.

Tank Amerika Christie pertama kali dibawa ke Uni Soviet sebagai contoh tank yang tak memiliki turret (pucuk). Tank tersebut dirancang dari "traktror sawah". Christie dan tank sejenis dari Spanyol menjadi inspirasi perancang Soviet Mikhail Koshkin. Kendaraan lapis baja Soviet berevolusi menjadi tank berkecepatan tinggi (Bystrokhodny Tank/BT) kelas ringan buatan 1930-an, yang dikembangkan dari tank Amerika M1931 Christie.

Di tahun-tahun sebelum Perang Dunia II, Koshkin bekerja secara intensif untuk menciptakan T-34, mengombinasikan baja kuat dan senjata berat, sambil mencari cara untuk mewujudkan kinerja gerak tank serta mengupayakan perawatan dan produksi yang mudah.

Produksi tank pertama ditinjau oleh Joseph Stalin di Moskow pada 17 Maret 1940, setelah berjalan sejauh 1.250 kilometer hingga mencapai ibukota. Itu merupakan keputusan yang penuh risiko yang diambil oleh Koshkin, untuk mengendarai tank melalui jalanan umum, karena polisi rahasia NKVD bisa saja menganggap hal tersebut sebagai pembongkaran rahasia negara.

Namun, tank tiba tepat waktu tanpa insiden berarti, berjalan melalui rute rahasia melintasi hutan penuh salju, ladang, dan medan kasar.

Terkesan dengan apa yang ia lihat, Stalin memberi julukan sayang "burung wallet mungil" untuk tank tersebut, dan kelanjutan tank ini tentu sudah dapat dipastikan. Namun, kesuksesan tersebut tercoreng dengan kematian Koshkin yang berusia 42 tahun, yang terkena serangan pneumonia selama perjalanan sulit menuju Moskow dan ia tak berhasil disembuhkan.

"Ayah angkat" tank tersebut adalah insinyur dan perancang tank Alexander Morozov. Ia menjadi orang yang akhirnya mengirim T-34 ke medan tempur dan memodifikasi tank ini untuk menghadapi Jerman yang kian tangguh di medan perang.

T-34-85 masih menjadi tulang punggung pasukan tank Soviet hingga pertengahan 1950-an. Tank tersebut juga digunakan sebagai media latihan oleh para tentara hingga 1970-an. Ia tak pernah benar-benar diberhentikan dari tugas. Pada Desember 1943, T-34-85 beraksi dengan turret baru dan senapan 85 mm, yang terlihat saat kemenangan pada 1945.

Penempatan paling lama tank ini pada masa Perang Dunia II adalah di Korea, ketika tank datang melawan mantan sekutu Soviet, Amerika. Korea memiliki lanskap pegunungan, dan itu menghalangi penggunaan tank tempur secara massal. Oleh karena itu, tank digunakan dalam jumlah kecil, dan kerap memberi hasil yang tak bisa diprediksi.

Pertempuran pertama antara T-34-85 dan tank Amerika M24 terjadi pada 10 Juli 1950 dalam Pertempuran Taejon. Meriam Amerika 75 mm terbukti tak efektif melawan senjata Soviet, sementara dua tank AS dengan cepat musnah. Namun saat infanteri AS menggunakan bazoka 3,5 inci, mereka berhasil menghancurkan tujuh buah T-34 milik Korea Utara.

Tank T34/85 buatan Rusia di Taejon, Korea, 20 Juli 1950. Sumber: Wikipedia.org

 Air pasang kembali menyerang dengan kehadiran M26 Pershing Amerika pada 17 Agustus 1950, ketika meriam Pershing yang berukuran 90 mm dengan mudah menghancurkan tiga buah tank T-34 dalam pertempuran pertama.

Tank tersebut secara teknis setara, namun AS memiliki kru yang dilatih dengan leibh baik dan lebih pandai menggunakan taktik, sehingga Korea Utara mudah ditaklukkan. Pada akhir tahun itu, Korea Utara kehilangan hampir seratus buah T-34-85 dalam pertempuran tank. Sementara, Korea Utara hanya berhasil menghancurkan 34 kendaraan AS.

Tank buatan Soviet kembali menjadi perbincangan hangat pada April 1961 akibat kekalahan pasukan kontra-revolusi Kuba di Teluk Babi. T-34-85 bahkan lebih unggul dari M24 Chaffee, modifikasi dari M4A3E8 Sherman yang memiliki persenjataan lebih baik.

Dengan dilengkapi sepuluh Sherman dan 20 buah mobil lapis baja M8, pasukan invasi yang disokong AS berhasil menghancurkan satu buah T-34 milik pemerintah Kuba.

Fidel Castro yang memimpin langsung pasukan Kuba berkendara di baris pertama tank T-34 yang berhasil melumpuhkan dua Sherman saat melakukan serangan balasan di darat.

Tanpa memperhitungkan kemenangan yang tercapai, T-34 jelas menunjukkan usianya dibanding tank tempur generasi baru.

Pada Perang Enam Hari 1967, Mesir kehilangan 251 buah T-34-85, hampir sepertiga dari jumlah keseluruhan tank mereka yang musnah. Ironisnya, T-34 juga bertempur bersama dengan musuh lamanya pada Perang Dunia II, PzKpfw.IV dan StuG.III milik Jerman dalam konflik Suriah.

Jika tank Israel memenangkan perang melawan Mesir, kekalahan Suriah merupakan kabar baik bagi Arab, yang kehilangan 73 tank T-34-85, T-54, dan PzKpfw.lV berbanding 160 tank Israel yang hancur.

Ini merupakan perang terakhir di Timur Tengah di mana T-34 berperang sebagai tank tempur. Namun, tank ini masiht terlihat di beberapa konflik sebagai dudukan meriam tak bergerak atau diubah menjadi senjata otomatis.

Tank ini kembali beraksi pada invasi Turki 1974 terhadap Siprus, ketika 32 tank T-34-85 milik Yunani mampu menghentikan 200 buah tank M47/48 Patton milik Turki. Yunani kehilangan 12 tank, termasuk empat yang ditinggalkan, sementara Turki kehilangan 19 tank Patton-nya.

Akhirnya, mesin tempur ini juga terlibat dalam perang sipil di Balkan, bertempur di kedua kubu sebagai benda warisan dari angkatan bersenjata Yugoslavia. T-34 kemudian ikut berperan dalam perang sipil Angola, ketika unit Kuba yang dipersenjatai oleh tank Soviet membantu melawan musuh dari Afrika Selatan dan Zaire.

Kini, saat T-34 sudah pantas untuk ditaruh di museum dan dicatat dalam buku sejarah, ia masih belum berhenti mengabdi.

Tank T-34 juga terlihat beraksi pada 2014, ketika pejuang pro-Rusia di Ukraina timur mencabut setidaknya satu contoh tank yang dipajang dari alasnya, dan setelah diperbaiki mereka membawanya ke medan tempur sekali lagi.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.