Sepuluh Fakta Luar Biasa Terkait Transplantasi Kepala Pemrogram Spiridonov

Foto: arsip pribadi Spiridonov.

Foto: arsip pribadi Spiridonov.

Dua minggu lalu, media dibanjiri laporan mengenai ahli bedah saraf Sergio Canavero yang siap mentransplantasikan tubuh ke kepala pasien lain. Pemrogram asal Rusia Valery Spiridonov menjadi kandidat utama operasi ini. RBTH berbincang dengan Spiridonov dan mengetahui sepuluh hal yang paling mengejutkan terkait operasi mendatang.

Seorang pemrogram dari Vladimir berusia 30 tahun, Valery Spiridonov, telah mengajukan diri untuk menjadi peserta transplantasi kepala pada tubuh donor, yang akan dilakukan oleh ahli bedah saraf Sergio Canavero. Spiridonov menderita atrofi otot (terhentinya pertumbuhan otot), yang membuat ia harus berada di kursi roda seumur hidupnya. Menurut Spiridonov, ia mengambil tindakan yang nekat ini untuk mendapatkan tubuh yang baru dan sehat saat ia masih hidup.

1. Valery Spiridonov tak bisa memilih tubuh donor.

Kemungkinan, tubuh tersebut diambil dari orang yang mengalami kecelakaan serius atau dihukum mati. Ia hanya berharap bisa mendapatkan tubuh laki-laki.

"Saya hanya ingin tubuh donor sedikit lebih sehat dari saya," kata Spiridonov pada RBTH. "Saya akan memenuhi kebutuhan olahraga dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh itu. Memilih tubuh sejauh ini adalah kemewahan yang tak mungkin didapatkan dan sebuah harapan bodoh."

2. Proses transplantasi akan memakan waktu lebih dari 36 jam.

Selain itu proses transplantasi juga akan melibatkan seratus ahli bedah sekaligus. Namun, memutuskan kepala dan menghubungkannya ke tubuh tak akan memakan waktu lebih dari satu jam.

"Berdasarkan kalkulasi, pasien akan menghabiskan waktu satu bulan dalam kondisi koma. Waktu tersebut dibutuhkan bagi jaringan untuk saling berpadu. Kemudian, perlu waktu sekitar satu tahun untuk menjalankan terapi fisik dan rehabilitasi untuk pemulihan kembali," kata Spiridonov

Ide mentransplantikan kepala donor ke sebuah tubuh pertama diusung oleh penulis fiksi ilmiah Rusia Alexander Belyaev.

Pada 1923, ia menulis buku "Professor Dowell's Head". Dalam novel tersebut, ahli bedah Profesor Kern secara diam-diam melakukan transplantasi kepala yang sukses. Namun, bukan kemampuannya sendiri yang membuat ia dapat melakukan operasi tersebut: itu adalah kepala mantan mentornya, Profesor Dowell yang tersohor, yang meninggal dalam keadaan yang mencurigakan dan dihidupkan kembali. Ialah yang menjadi otak kunci sesungguhnya.

3. Jika operasi tersebut berhasil, anak-anak Spiridonov mungkin akan mewarisi genetic tubuh donor.

"Genetik anak-anak saya akan didapatkan dari tubuh donor, namun tetap menjadi subjek penelitian," kata Spiridonov.

4. Operasi tersebut akan memakan biaya sebesar 11 juta dolar AS.

Sang profesor masih mengumpulkan dana yang dibutuhkan.

5. Canavero cukup terbuka.

"Canavero tak memiliki persyaratan spesifik bagi pasiennya," kata Spiridonov pada RBTH. "Namun tentu harus orang dengan kerusakan tubuh yang parah, yang tak bisa ditolong dengan cara lain. Orang yang sudah tak punya harapan lain."

Orang pertama yang mentransplantasikan kepala ke tubuh donor adalah ilmuwan Soviet Vladimir Demikhov. Pada 1954, ia menjahit kepala anjing dengan bahu dan kaki depan ke tubuh seorang gembala Jerman.

Ia hanya bertahan hidup beberapa hari. "Kepala yang ditransplantasi dapat hidup dan bereaksi pada sekitar, memiliki lirikan penuh makna dan memandang orang-orang yang mendekatinya..." demikian ditulis Demikhov pada jurnal hariannya.

6. Spiridonov dan Canavero belum pernah bertemu dan baru berkomunikasi melalui Skype.

Pertemuan pertama mereka rencananya dilakukan dalam sebuah konferensi ilmiah di Amerika Serikat.

"Saya menghubungi dokter Canavero sendiri," kata Spiridonov. "Saya sungguh memikirkan transplantasi semacam ini dan telah mencari tahu mengenai semua eksperimen yang telah dilakukan sebelumnya. Kemudian saya membaca wawancara beliau, dan di situ ia mengaku telah menemukan solusi untuk masalah utama—penyatuan tulang belakang. Saya tak mengirim detil kondisi medis saya pada Canavero. Dia tahu mengenai diagnosis saya. Hal itu diterapkan dengan cara yang kurang lebih sama bagi orang-orang di usia saya. Kami tak perlu bertemu langsung sejauh ini."

7. Profesor Canavero tak bertanggung jawab atas hasil eksperimen, dan Spiridonov tak bisa menuntut apapun pada Canavero.

"Ia akan mencoba melakukan apa yang saya impikan," kata Spiridonov.

"Tapi saya tak bisa memaksa ia melakukan apa-apa. Belum ada prediksi sejauh ini. Banyak detil yang akan diumumkan dalam konferensi di Amerika Serikat. Mungkin kelak akan ada gambaran dan ekspektasi. Tentu saja, tujuan utamanya adalah memulihkan seutuhnya kontrol terhadap semua organ dan tungkai."

8. Pisau bedah ultra-tajam memainkan peran penting dalam operasi ini.

Pisau itu akan digunakan untuk memotong saraf tulang belakang.

Ekperimen pertama untuk menghidupkan kembali kepala dilakukan oleh fisiologis Sergei Bryukhonenko, yang juga menciptakan mesin paru-paru dan jantung pertama di dunia pada 1926.

Bryukhonenko menunjukan bagaimana kepala anjing yang terlepas dari tubuhnya dan dihubungkan dengan sistem pasokan darah artificial, dapat menunjukan tanda-tanda kehidupan. Saat merespon rangsangan, anjing tersebut berkedip, menjilat, bahkan memakan sepotong keju, yang kemudian jatuh ke kerongkongan.

9. Agar kepala bisa bekerja di tubuh yang baru, ahli bedah harus "mengelas" akson (benang panjang bagian dari sel saraf yang mengirim impuls dari sel tubuh ke sel lain).

Akson merupakan perpanjangan saraf yang digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain. Mereka mengirim informasi antara sel saraf, serta mengirim sinyal pada otot dan kelenjar.

10. Spiridonov tak akan berubah pikiran.

"Jika saya kehilangan kesempatan ini, hidup saya sungguh tak berarti lagi. Kondisi saya terus memburuk dari tahun ke tahun," kata sang pemrogram.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.