Merambah Pasar Asia, Start-up Rusia FreshOffice Akan Buka Cabang di Indonesia

Aplikasi FreshOffice menggantikan penyimpanan berkas-berkas, lead generator, chatting, katalog indeks, pengelolaan keuangan serta transaksi. Foto: Press photo

Aplikasi FreshOffice menggantikan penyimpanan berkas-berkas, lead generator, chatting, katalog indeks, pengelolaan keuangan serta transaksi. Foto: Press photo

Start-up (badan usaha atau pun bisnis perorangan yang baru memulai usahanya) asal Rusia menjadi mitra perusahaan raksasa Microsoft di Singapura. Tahun depan, perusahaan ini berencana akan membuka kantor di Hongkong, Indonesia, Malaysia, dan India. Aplikasi FreshOffice menawarkan solusi lengkap bagi otomatisasi bisnis skala menengah dan kecil.

Satu Solusi untuk Semua

Aplikasi FreshOffice menggantikan penyimpanan berkas-berkas, lead generatorchatting, katalog indeks, pengelolaan keuangan serta transaksi. Saat ini FreshOffice telah digunakan oleh 20 ribu manajer di 1.200 perusahaan dengan jumlah karyawan rata-rata 50 orang.

Perusahaan Rusia ini mendapat keuntungan melalui penjualan lisensi program dan penggunaan dengan skema abonemen. Biaya abonemen bulanan untuk penggunaan aplikasi FreshOffice per satu pengguna Rusia ialah sekitar 16 dolar AS. Pembelian lisensi untuk satu komputer atau smartphone berkisar 312 dolar AS. Seorang programer asal Saint Petersburg Igor Sugnach mengatakan bahwa dengan menggunakan FreshOffice, klien dapat menghemat hingga 50-60 dolar AS per bulan, dari segi waktu dan sumber daya manusia.

Bagaimana Ide Ini Muncul?

Di pertengahan era 2000-an, Sugnach sempat bekerja di salah satu grup perusahaan besar Eropa. Di sana, ia menyadari adanya perbedaan dalam kegiatan operasi bisnis skala menengah di Rusia dengan negara lain. Di Barat, sudah ada solusi lengkap untuk proses otomatisasi kegiatan bisnis skala kecil, sedangkan di Rusia hal itu masih memanfaatkan program Excel. “Perusahaan-perusahaan skala besar Rusia sudah menggunakan program SAP atau Oracle, namun belum ada program bagi bisnis kelas menengah dan kecil. Para raksasa pencipta perangkat lunak dunia menilai promosi produk untuk kantor yang hanya terdiri dari lima hingga 15 staf tidaklah menguntungkan,” ujar Sugnach.

Sugnach pun mulai mengerjakan proyek FreshOffice dan pada 2012 ia meluncurkan versi beta dari proyek tersebut. Di tahun 2013, ia mulai menjual program tersebut secara komersil. Awalnya program tersebut berupa sistem CRM (Customer Relationship Management) semata, namun secara bertahap Sugnach menambahkan fungsi-fungsi baru ke dalamnya seperti analisa keuangan, pengelolaan gudang, pengendalian pekerja di kantor, dan telephony. Kini FreshOffice memiliki dua versi: pertama berupa aplikasi klasik yang dipasang pada komputer ataupun smartphone dan kedua adalah versi cloud (tersimpan di internet).

FreshOffice dapat di-install di smartphone. Foto: Press photo

Belum lama ini, perusahaan telah membuka kantor di Singapura, di mana Microsoft menjadi mentor bagi perusahaan tersebut. Perusahaan ini menawarkan solusi berupa program FreshOffice, yang masuk dalam kategori program go-to-market,  untuk bisnis skala menengah dan kecil.

Penaklukan Asia

Pada Agustus lalu, Sugnach telah membuka kantor di Singapura dan menginvestasikan 450 ribu dolar AS. “Kami menganalisis click through rate proyek internet kami di Singapur dan hasilnya tidak kalah dari Moskow dan Saint Petersburg, meski jumlah penduduk yang tinggal di Singapura empat kali lebih sedikit dibanding dua kota terbesar di Rusia tersebut,” ujar Sugnach.

Kemajuan pesat start-up asal Rusia di antara perusahaan-perusahaan skala menengah dan kecil di Singapura ini dibantu oleh Microsoft sebagai mitranya. FreshOffice menyimpan data miliknya di pusat data Microsoft Azure. Perusahaan Rusia ini harus merogoh kocek sebesar 50-70 ribu dolar AS per tahun untuk membayar jasa tersebut. jumlah tersebut cukup signifikan bagi cloud. Sugnach menambahkan bahwa Microsoft tertarik melakukan kerja sama lanjutan di dalam pasar dunia.

Tahun depan, perusahaan ini berencana membuka kantor di Hongkong, Indonesia, Malaysia, dan India. Setelah FreshOffice mendapatkan posisi di pasar-pasar Asia, Sugnach berencana untuk masuk ke AS. Namun, ia mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika sangat berhati-hati terhadap perusahaan-perusahaan startup asal Rusia.

Peluang dan Hambatan

Menurut Aleksander Anastasin, Managing Partner StarCatalyst, jumlah perusahaan yang menggunakan sistem otomatisasi alternatif (cloud) untuk bisnis terus bertumbuh setiap tahunnya. Oleh karena itu, perusahaan start-up ini sudah memilih segmen pasar yang benar. Namun, Anastasin menambahkan, di Rusia juga terdapat pemain-pemain lokal yang kuat dan percaya diri, dan mereka secara terus-menerus muncul dalam versi lokal produk-produk buatan asing. “Di sini yang mendapatkan tempat pertama adalah kenyamanan penggunaan dan pelayanan klien. Jika FreshOffice mampu membuat kenyamanan penggunaan secara maksimal dan pelayanan klien miliknya menjadi yang terbaik, maka prospek program ini terbuka lebar di Rusia,” kata Anastasin.

Ia juga menambahkan bahwa pasar Rusia bersifat konservatif, terutama di skala menengah dan kecil. “Bahkan jika menawarkan produk-produk canggih, inovatif, dan aplikatif sekalipun, klien-klien di Rusia hanya tak terlalu tertarik untuk melakukan perubahan,” kata Anastasin. Namun, hal tersebut tidak terlalu tecermin dalam perusahaan-perusahaan besar Rusia. Sementara, tambah Anastasin, kekonservatifan pasar yang menghambat pertumbuhan proyek di pasar asing tentu lebih rendah, namun persaingan mungkin saja lebih ketat.

Secara keseluruhan, Anastasin menilai produk ini terlihat menarik. “Desain dan blok–bloknya terukur dan logis. Jika produk ini bekerja sebagus penampilannya, maka perusahan ini pasti bisa berhasil,” kata Anastasin.

Artikel Terkait

Aplikasi Pemandu Perjalanan di Rusia, Sebelum Datang Hingga Setelah Pulang

Permainan Digital Terbaik di Katalog Aplikasi "Made in Russia"

Situs dan Aplikasi Buatan Rusia yang Berguna bagi Orang Asing

Aplikasi Smartphone Museum Rusia, Terobosan Baru untuk Wisatawan

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.