Pesawat Ermak Rusia Akan Gantikan Sang Raksasa Ruslan Buatan Ukraina

Salah satu dampak berakhirnya hubungan ekonomi Rusia dan Ukraina adalah kedua negara tersebut kehilangan pesawat kargo terbesar di dunia An-124 Ruslan. Foto: Listseva Marina/TASS

Salah satu dampak berakhirnya hubungan ekonomi Rusia dan Ukraina adalah kedua negara tersebut kehilangan pesawat kargo terbesar di dunia An-124 Ruslan. Foto: Listseva Marina/TASS

Sebelum konflik dengan Ukraina terjadi, pesawat kargo terbesar dalam sejarah dunia, Ruslan, aktif membantu angkatan bersenjata Rusia. Perpecahan hubungan ekonomi antara Rusia dan Ukraina membuat Rusia harus mengembangkan pesawat kargonya sendiri.

Perlombaan untuk menciptakan pesawat kelas berat dimenangkan oleh biro konstruksi Ilyushin yang dikenal melalui pesawat kargo buatannya Il-76, yang memiliki kapasitas angkut hingga 50 ton. Baru-baru ini, Direktur Umum perusahaan Il Sergey Sergeyev mengumumkan bahwa pada 2016 perusahaan Il akan memulai proyek pembuatan pesawat kargo berindeks Ermak yang memiliki daya angkut lebih dari 80 ton.

Kelebihan utama pesawat An-124 Ruslan buatan Ukraina yang mengundang ketertarikan Rusia adalah kemampuan pesawat tersebut yang dapat mengangkut kargo dalam jumlah besar, hingga 150 ton. “Pengangkutan kargo yang sangat besar dan berat merupakan kebutuhan aktual bagi negara besar sekelas Rusia,” terang pemimpin Avia.ru Roman Gusarov. Menurut Gusarov, badan pesawat Ruslan yang lebar membuat pesawat ini mampu mengangkut satelit antariksa dan roket penggerak pesawat antariksa. “Begitu juga untuk pelatihan pendaratan brigade kendaraan tempur dengan pelindung baja dan personelnya dalam jarak yang jauh,” terang Gusarov.

Perusahaan Antonov Kehilangan Pijakan

Salah satu dampak berakhirnya hubungan ekonomi Rusia dan Ukraina adalah kedua negara tersebut kehilangan pesawat kargo terbesar di dunia An-124 Ruslan. Ukraina menolak untuk melakukan modernisasi dan pengiriman pesawat angkut strategis ke Rusia, yang membuat negara itu pada dasarnya telah menghancurkan pijakan berdirinya perusahaan Antonov.

Rusia merupakan satu-satunya pemesan pesawat kargo kelas berat tersebut, karena Eropa tidak membutuhkan pengangkutan dengan berat sebesar itu untuk perjalanan lebih dari seribu kilometer.

Pangsa pasar pesawat An-22 Antey dengan daya angkut 80 ton di pasar dunia saat ini tanpa diragukan lagi telah diambil oleh pesawat buatan Amerika C-17 Globemaster. Oleh karena itu, pesawat buatan Ukraina Antonov praktis tidak memiliki klien lagi.

Perusahaan Antonov dulu dibuat sebagai bagian dari struktur besar kompleks industri militer masa Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet, banyak perusahaan besar yang berorientasi ke Moskow terpisah-pisah di negara-negara independen baru, yang sebelumnya adalah bagian dari Republik Uni Soviet. Sebelum terjadinya krisis politik di Ukraina, terdapat ide besar untuk melakukan pengembangan dan produksi gabungan antara Rusia sebagai pemesan dengan perusahaan Motor-Sich, produsen mesin penggerak asal Ukraina. Saat ini, wacana tersebut sudah dipastikan tidak terwujud.

Mulai dari Nol

Pernyataan Sergeyev mengenai pembuatan pesawat kargo Rusia Ermak menunjukan bahwa Ilyushin telah memenangkan persaingan dari biro konstruksi Tupolev dalam proyek pembuatan pesawat kargo kelas berat. “Pada dasarnya, perusahaan Il tidak memberikan janji nyata, namun hanya menunjukan keinginan dan niat mereka saja,” terang Roman Gusarov.

Pendapat tersebut juga diamini oleh pakar lain. “Tenggat waktu sudah ditentukan, namun kapasitas produksi perusahaan Il saat ini tidaklah mencukupi. Itu dibuktikan oleh proses pembuatan pesawat terbang ringan Il-212 yang berjalan lamban dan tempo perancangan pesawat terbang kelas menengah Il-214 yang lebih lambat lagi. Perusahaan tersebut hanya bisa selamat jika dimasukan ke program Rusia-India MTA,” kata pakar bidang militer independen Oleg Zheltonozhko.

Kebutuhan untuk mengganti Ruslan (An-124) dengan Ermak bukanlah hal yang mendesak. Armada pesawat An-124 yang telah dimodernisasi di Rusia sudah mencukupi, komponen pendukung dan tenaga ahli untuk perawatan dan perbaikan pesawat tersebut juga masih mencukupi.

Selain itu, ada tuntutan untuk menciptakan pesawat yang merupakan peralihan antara Il-76 (40 ton) dengan An-124 (150 ton). Jadi, terdapat kebutuhan akan pesawat dengan daya angkut 70-80 ton, seperti halnya pesawat C-17 buatan AS. “Il-76 tidak dapat mengangkut beberapa kargo militer karena panjang diameter badan pesawat yang tidak mencukupi. Pesawat Ruslan sendiri memiliki masalah tipikal, yaitu ketika kendaraan beroda rantai dijalankan satu per satu, sehingga dimensi badan pesawat tidak dapat digunakan secara maksimal. Pengangkutan “udara” (pengangkutan dengan kapasitas tidak penuh) menurunkan kepraktisan pengangkutan. Diperlukan sebuah pesawat yang memiliki diameter badan pesawat yang mendekati diameter Ruslan, namun memiliki volume kompartemen kargo dan daya angkut yang mendekati Il-76,” kata Oleg Zheltonozhko.

Untuk program pembuatan pesawat Ermak, Zheltonozhko menyarankan untuk menggunakan desain konseptual pesawat Il-106. Pesawat Il-106 harus mempermudah dan mempercepat pekerjaan bongkar muat, maka pesawat ini perlu memiliki dua pintu besar untuk kargo yaitu di depan dan belakang.

Suka dengan dunia aviasi dan ingin tahu lebih banyak? Baca lebih lanjut. >>>

Artikel Terkait

Aviadarts, Unjuk Kemampuan Akurasi Pilot Rusia

PAK TA, Rancangan Pesawat Angkut Militer Rusia Terbaru

PAK DA, Pesawat Pembom Strategis Baru Angkatan Udara Rusia

Tahun 2006, Pesawat Be-200 Bantu Padamkan Kebakaran Kalimantan

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.