Pembuat Pedang Abad Pertengahan Rusia yang Hilang

Alexander Bychkov, seorang pandai besi, sedang mengolah baja dengan menggunakan teknologi baja Damaskus. Suzdal, 2006. Foto: Sergey Pyatakov/RIA Novosti

Alexander Bychkov, seorang pandai besi, sedang mengolah baja dengan menggunakan teknologi baja Damaskus. Suzdal, 2006. Foto: Sergey Pyatakov/RIA Novosti

Pada zaman dulu, pedang memiliki status khusus di Rusia. Pedang diwariskan sebagai sebuah simbol kekuatan, sumpah diucapkan di atasnya, dan bahkan bisa digunakan sebagai alat tukar. Tapi yang terpenting, pedang merupakan senjata yang tangguh dan tidak banyak orang yang mampu menandingi kehebatan para empu Rusia abad pertengahan dalam membuat pedang.

Kronik-kronik Rusia penuh dengan referensi tentang pedang. Para tentara Pangeran Rusia dimakamkan bersama dengan bilah pedang mereka yang berkarat dan Pangeran Svytoslav dari Kiev menenggelamkan pedangnya ke Sungai Dnieper agar tidak diambil musuhnya. Pedang-pedang Slav pun dikagumi di seluruh dunia.

Kitab Arab menilai pedang Rusia lebih unggul dibanding jenis pedang lain di Eropa, sementara para pengagum dari Timur meyakini bahwa pedang Rusia adalah pedang ajaib yang memiliki kekuatan magis. Rusia merupakan negara pertama di Eropa yang memulai produksi pedang secara terorganisasi setelah kekaisaran abad pertengahan Karel yang Agung. Membawa ciri kualitas masing-masing pandai besi, pedang Rusia umumnya memiliki panjang satu meter, lebar lima hingga tujuh centimeter, dan tebal enam milimeter.

Pada awalnya, ujung pedang tidak diasah, karena sebuah sabetan keras pun sudah mampu membelah baju baja yang paling kuat. Pedang dijual tersendiri karena tidak setiap prajurit memiliki keahlian atau kekuatan untuk menggunakan pedang yang berat secara efektif. Selain itu, hanya orang-orang terkaya yang bisa membeli pedang karena kompleksitas dan harga pembuatannya yang menggunakan baja Damaskus. Bagi mereka, sebuah pedang yang bagus sama berharganya dengan seekor kuda perang.

Pisau belati ini dihadiahkan kepada Tsar Nicholas II sebagai hadiah dari Kaisar Jerman, Raja Prussia William II, pada tahun 1901 di Danzig (sekarang Gdansk, Polandia). Foto: PhotoXpress

Dengan kandungan karbon yang tinggi dan proses penempaan khusus, sebuah pedang berbahan baja Damaskus memiliki pola permukaan yang unik dan kekuatan yang istimewa. Pedang ini bisa memotong besi dan tidak akan patah meski mengalami cacat berat. Tetapi karena baja tidak bereaksi dengan baik terhadap suhu rendah, pedang ini tidak sesuai dengan kondisi iklim Rusia.

Untuk memecahkan masalah ini, para pandai besi Rusia memilin beberapa batang baja menjadi satu dan kemudian menempanya. Setelah diulangi hingga sepuluh kali, proses ini menghasilkan sebuah pedang baja Damaskus dengan kekuatan dan fleksibilitas ekstra. Lembaran besi panjang kemudian dipatri pada baja untuk menghasilkan sebuah pedang kosong untuk disempurnakan. Karena tahan karat, bilah-bilah ini tidak tajam, tapi tidak akan patah dan akan kembali ke bentuknya semula dengan cepat jika bengkok. Pedang yang berkualitas dinilai dari suaranya, yakni dari ketukan ringan yang berbunyi panjang dan jelas. Pedang juga diharapkan bisa memotong lembaran kain tipis dengan rapi di udara. Sebagai bentuk pengakuan atas kekuatan dan reputasinya, Khan Crimea, seorang penilai senjata yang terkenal pada abad ke-15, meminta seorang pangeran Moskow mengiriminya sebuah baju baja yang terbuat dari baja Damaskus.

Pekerjaan membuat pedang berkualitas sama seperti pekerjaan pembuat perhiasan yang membutuhkan kecermatan. Besi dan baja bereaksi pada suhu yang berbeda, sehingga membuat pedang yang hebat membutuhkan keahlian pandai besi yang luar biasa. Pada abad ke-10, para pembuat pedang Rusia hanya dengan sebuah palu dan landasan, namun pedang mereka merupakan yang terbaik di dunia. Berabad-abad kemudian, sejarawan dan ilmuwan tetap meragukan bahwa para perajin Slav sudah memiliki keahlian pengerjaan logam yang baik pada awal abad pertengahan. Di akhir abad ke-19, sebuah pedang yang terbuat dari baja Damaskus ditemukan di pemakaman kuno di Kiev dan selama lebih dari seratus tahun pedang itu dianggap berasal dari Skandinavia. Tetapi setelah dibersihkan, simbol pandai besi pada pedang membuktikan bahwa pedang tersebut dibuat di Kiev oleh pandai besi bernama Lyudota.

Lama-kelamaan, pedang Rusia mengalami perubahan menjadi lebih pendek, lebih ringan, dan semakin banyak digunakan sebagai senjata tebas dan senjata tusuk. Sejak abad ke-15, pedang menggantikan sable, sebelum berubah menjadi senjata pedang lebar yang lebih berat untuk digunakan kavaleri.

Para empu Rusia membuat baja Damaskus hingga abad ke-17. Tekniknya dilestarikan pada sebuah bengkel di Sungai Volga yang membuat pedang untuk Tsar Romanov. Akan tetapi, penemuan peluru pada abad ke-20 mengakhiri evolusi baja Damaskus. Rahasia baja Damaskus tertinggal di masa lalu, dan hanya menyisakan contoh, kenangan dan legenda tentang pedang unik ini. Beberapa orang bahkan meragukan apakah teknik itu pernah ada, hingga pedang itu bisa dibuat kembali pada akhir abad  ke-20 menggunakan komputer dan alat bubut modern.

Tsar Rusia Nicholas II (kiri), Raja Inggris George V (tengah) and Raja Belgia Albert. Ini adalah portret kartu pos yang dicetak di awal abad XX di Rusia. Foto: RIA Novosti

Masa pedang Rusia yang indah telah lama berlalu. Tetapi kini para pengganti pandai besi kuno masih membuat senjata tajam yang hebat di pabrik senjata di St. Petersburg, Zlatoust, dan Tula.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.