Perusahaan Rusia Bangun Dua Pembangkit Nuklir di Iran

Presiden Direktur Rosatom Sergey Kiriyenko (kanan) dan Kepala Organisasi Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi menandatangani kontrak untuk pembangunan PLTN Bushehr tahap kedua dan proyek pembangunan unit PLTN di Iran. Foto: Press photo

Presiden Direktur Rosatom Sergey Kiriyenko (kanan) dan Kepala Organisasi Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi menandatangani kontrak untuk pembangunan PLTN Bushehr tahap kedua dan proyek pembangunan unit PLTN di Iran. Foto: Press photo

Perusahaan negara Rusia Rosatom dan Iran telah menandatangani kontrak pembangunan unit pembangkit listrik kedua Bushehr NPP dan pembangunan unit pembangkit di wilayah lain. Para ahli menyebut ini sebagai proyek asing terbesar Rosatom. Realisasi proyek ini diprediksi dapat mendorong pembangunan ekonomi kedua negara.

Kontrak ini mencakup pembangunan dua unit nuklir Bushehr NPP, yang mungkin akan diikuti dengan pembangunan empat unit lain di wilayah yang belum ditentukan.

Nilai kontrak tersebut belum diumumkan, tetapi proyek serupa di luar negeri sebelumnya diperkirakan mencapai sepuluh miliar dolar AS.

Menurut laporan resmi Rosatom, seluruh proyek pembangunan unit pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran, termasuk suplai peralatan dan bahan bakar nuklir, akan diawasi oleh IAEA dan akan sepenuhnya mematuhi komitmen nonproliferasi bahan nuklir, sama seperti pembangunan unit pembangkit pertama Bushehr NPP.

Bahan bakar nuklir untuk NPP akan diproduksi oleh Rusia. Bahan bakar nuklir yang telah digunakan akan dikembalikan ke Rusia untuk diproses ulang dan disimpan. Sebagai bagian dari ekspansi pembangunan unit pembangkit nuklir rancangan Rusia di Iran, para mitra berencana meneliti kelayakannya secara ekonomi dan kemungkinan untuk memproduksi elemen bahan bakar nuklir yang akan digunakan di unit-unit pembangkit ini secara lokal.

Wakil Direktur Institute of Energy Problems Bulat Nigmatullin menilai ini adalah kontrak nuklir asing terbesar. “Minyak dan gas yang dimiliki Iran membuat negara itu mampu membayar utang, dan dengan uang yang didapat mereka akan membeli teknologi dan peralatan kita,” terang Nigmatullin pada surat kabar Vzglyad. “Perjanjian ini akan membuat industri listrik Rusia dapat memenuhi kapasitas produksi pembangkit listrik nuklirnya. Mengingat Iran takut terhadap embargo Barat, mereka akan membeli semua peralatan utamanya dari Rusia,” imbuhnya.

Iran, sebagai imbalannya, punya kesempatan untuk mendiversifikasi kebijakan energinya. “Bahkan sebelum revolusi Islam, pembangunan tenaga nuklir telah menjadi prioritas. Mereka telah mengusulkan pembangunan 20 unit nuklir,” kata peneliti senior RAS Institute of Oriental Studies Vladimir Sazhin kepada Vzglyad.

Menurut para ahli, pertumbuhan fasilitas energi nuklir akan memungkinkan Iran untuk mengekspor lebih banyak minyak dan gas, sehingga secara drastis meningkatkan pendapatan negara. Selain itu, hal tersebut akan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak dibutuhkan di Teheran.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.