Mesir Perkuat Pertahanan Militer dengan S-300 dari Rusia

Setelah pengadaan S-300, kemungkinan akan menyusul kontrak pengadaan pesawat jet tempur MiG-29M/M2, senjata pertahanan udara Tor dan Pantsir, komplek peluncur roket antitank Kornet, serta helikopter Mi-17 dan Mi-35 ke Republik Arab Mesir. Foto: RIA Novosti

Setelah pengadaan S-300, kemungkinan akan menyusul kontrak pengadaan pesawat jet tempur MiG-29M/M2, senjata pertahanan udara Tor dan Pantsir, komplek peluncur roket antitank Kornet, serta helikopter Mi-17 dan Mi-35 ke Republik Arab Mesir. Foto: RIA Novosti

Rusia akan memasok sistem antirudal balistik S-300VM senilai 500 juta dolar AS untuk Mesir. Hal tersebut diberitakan oleh media massa Rusia berdasarkan informasi yang didapat dari beberapa narasumber perindustrian senjata militer dan perusahaan perantara ekspor-impor senjata Rusia Rosoboronexport. Namun, ia tidak mengungkapkan lebih lanjut rincian perjanjian tersebut.

Beberapa waktu sebelumnya, berbagai media massa memberitakan bahwa Mesir akan memperoleh empat divisi S-300 (24 sistem antirudal bergerak), yang pernah dipesan oleh Suriah pada 2010 lalu. Wakil Direktur Layanan Federal Bidang Kerja Sama Militer Rusia Konstantin Biryulin menjelaskan pemutusan kontrak pengiriman S-300 senilai 900 juta dolar AS untuk Republik Arab Suriah (RAS), yang akhirnya dialihkan ke Mesir, dikarenakan adanya sanksi-sanksi dari PBB pada Suriah.

Realisasi kontrak militer dengan Mesir telah mencapai tahap akhir. Pada awal September, media massa Rusia mengumumkan pabrik Kirovskiy Zavod di kota Saint Petersburg telah merakit 22 set sasis roda rantai untuk S-300 berwarna kuning gurun pasir.

Menariknya, sejumlah transaksi besar bidang kerja sama senjata militer Rusia-Mesir, termasuk sistem senjata pertahanan udara, dilakukan baru-baru ini. Realisasi kerja sama tersebut menimbulkan banyak pertanyaan mengenai dampak kerja sama tersebut terhadap situasi di Timur Tengah.

Kekhawatiran Israel

Wakil Direktur Institut Politik dan Analisa Militer Rusia Aleksander Khramchikhin mengungkapkan bahwa kekhawatiran akibat penambahan senjata Mesir adalah hal yang tak berdasar. “Penambahan senjata tersebut bukan berarti Mesir telah bersiap berperang melawan negara lain. Mesir sudah menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di regionnya sejak dulu, dan hingga sekarang hal itu dapat terlihat dari ambisi kebijakan luar negerinya untuk menjadi yang terdepan di dunia Arab,” terang Khramchikhin pada RBTH.

Khramchikhin mengatakan terdapat kebutuhan obyektif dalam proses penambahan senjata tentara Mesir, sebab senjata yang mereka miliki saat ini sudah usang dan menyebabkan penurunan kemampuan militer dan ketahanan negara.

Sergey Demidenko, pakar ahli Institut Penilaian Strategis dan Analisa Rusia, memperkirakan bahwa pembelian komplek senjata pertahanan udara milik Rusia tersebut merupakan langkah Mesir mendemonstrasikan ketidakpuasannya terhadap AS atas penurunan nilai bantuan militer hingga sepertiga. Dalam wawancara bersama RBTH, Demidenko juga berpendapat nilai kontrak pertahanan Mesir dalam skala regional tidak terlalu besar dan tak akan memengaruhi keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah.

Demidenko menegaskan munculnya komplek sistem antirudal balistik S-300 di Mesir tidak akan menjadi ancaman bagi Israel. “Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman perang Arab-Israel 1948, kala itu Mesir sedang mengalami masa kejayaan kerja sama militer dengan Uni Soviet dan sekutunya, namun mereka tidak berhasil melumpuhkan tentara Israel. Inisiasi perang seorang diri dengan Israel atau negara-negara besar lain seperti Iran akan menciptakan kehancuran bagi Mesir,” terang Demidenko.

Sehubungan dengan perspektif hubungan kerja sama militer Mesir dengan Rusia, Demidenko mengatakan bahwa hubungan tersebut sangat terbatas. “Setelah penggulingan Presiden Mubarak, Kairo mengalami kebangkrutan. Mereka tidak memiliki sumber daya dan kontrak-kontrak luar negeri mereka dibayar menggunakan uang milik Arab Saudi, yang tentunya terbatas,” papar Demidenko.

Tetangga Mesir Harus Berhati-hati

Terlepas dari itu, setelah pengadaan S-300, kemungkinan akan menyusul kontrak pengadaan pesawat jet tempur MiG-29M/M2, senjata pertahanan udara Tor dan Pantsir, komplek peluncur roket antitank Kornet, serta helikopter Mi-17 dan Mi-35 ke Republik Arab Mesir.

Persenjataan di atas dapat digunakan untuk berbagai aksi militer lain, seperti melawan Etiopia yang sedang membangun bendungan di Sungai Nil Biru. Dengan mendapatkan jet tempur MiG-29M/M2 yang memiliki jangkauan tembak yang cukup untuk menghancurkan bendungan milik Etiopia, Mesir punya kesempatan untuk menetralisir ancaman tersebut. S-300 juga dapat berguna untuk mengeliminasi serangan balasan Etiopia dan sekutunya lewat udara terhadap bendungan Aswan milik Mesir.

Sementara, helikopter tempur Mi-35 dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan separatis Islam di Semenanjung Sinai dan wilayah pantai negara tetangga milik Libya, Kirenaika.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.