Misi Luar Angkasa Rusia, Eksplorasi Bulan dan Mars

Peluncuran roket Soyuz-FG dari Kosmodrom Baikonur, Rusia. Foto: AP

Peluncuran roket Soyuz-FG dari Kosmodrom Baikonur, Rusia. Foto: AP

Program eksplorasi ruang angkasa Rusia kini sepenuhnya difokuskan kembali pada ekspedisi jarak jauh yang mencakup eksplorasi ke bulan secara bertahap—sebuah program yang telah diabaikan selama 40 tahun, dan misi pengiriman pesawat berawak ke Mars. Kedua misi tersebut membutuhkan roket pengangkut yang sangat berat yang mampu membawa muatan berbobot ratusan ton ke orbit.

Angara dan Yenisey

Ekspedisi ke bulan membutuhkan roket pengangkut super-berat berdaya angkut 74-140 ton, sementara Proton, roket paling kuat milik Rusia saat ini, hanya berdaya angkut 23 ton. “Untuk terbang ke bulan dan kembali ke bumi, dibutuhkan dua roket yang memiliki daya angkut 75 ton. Jika roket hanya mampu mengangkut 25-30 ton, seperti yang sedang diusulkan, rencana eksplorasi bulan menjadi tidak masuk akal,” kata Vitaly Lapota, kepala sebuah perusahaan antariksa Rusia terkemuka, Energia.

Proton adalah roket terbesar Rusia dengan daya angkut sebesar 3,7 ton untuk orbit geostasioner dann 23 ton untuk orbit yang lebih rendah. Kini, Rusia tengah mengembangkan keluarga roket baru, Angara, yang memiliki daya angkut 1,5 hingga 35 ton. Roket Angara versi ringan akan diluncurkan pertama kali dari kosmodrom Plesetsk awal musim panas ini. Kepala Badan Antariksa Rusia Roskosmos juga mengumumkan rencana untuk membuat versi berat Angara yang mampu membawa muatan berbobot hingga 25 ton ke orbit rendah.

Namun, karakteristik tersebut belum memadai untuk melaksanakan misi antarplanet serta eksplorasi luar angkasa. Menurut Kepala Roskosmos Oleg Ostapenko, saat ini Roskosmos sedang menyusun proposal menciptakan roket super-berat yang mampu membawa muatan lebih dari 160 ton ke orbit rendah. Proposal tersebut akan segera diajukan ke pemerintah Rusia.

Sulit memprediksi kapan rencana ini dapat terealisasi. Namun, industri roket Rusia telah memiliki landasan pembuatan kendaraan peluncuran angkat-berat. Pada akhir 1980-an, sebuah roket propelan-cairan berat, Energia, diciptakan dengan daya angkut hingga 120 ton ke orbit rendah. Meski program ini belum bangkit sepenuhnya, desain kasar roket pengangkut yang lebih berat berdasarkan Energia pasti tersedia.

Roket baru ini bisa memanfaatkan elemen kunci Energia RD-0120, mesin roket propelan-cairan yang sukses. Sebuah desain roket berat yang menggunakan mesin ini berada di Pusat Antariksa Khrunichev, yang bertanggung jawab memproduksi satu-satunya roket berat Rusia, Proton.

Pengerjaan roket baru bernama Yenisey-5 ini telah dimulai pada 2008. Roket dengan panjang 75 meter ini akan segera memasuki tahap pertama pengembanganya yang terdiri dari pembuatan tiga mesin bahan bakar cair oksigen hidrogen RD-0120. Para ahli dari Pusat Khrunichev yakin bahwa program ini dapat dengan mudah dihidupkan kembali. Selanjutnya, mesin-mesin ini dapat digunakan beberapa kali di masa depan.

Namun, selain keunggulannya yang jelas, Yenisey memiliki satu kelemahan yang serius yakni ukurannya. Sebagian besar peluncuran antariksa Rusia di masa depan akan berlangsung dari kosmodrom di Vostochnyy yang saat ini sedang dibangun di bagian Timur Jauh Rusia. Kosmodrom ini menjadi tempat peluncuran roket pengangkut berat dan super-berat ke luar angkasa di masa mendatang. Namun, diameter tahap pertama roket Yenisey-5 adalah 4,1 meter, membuat roket ini tidak memungkinkan diangkut oleh kereta api, kecuali infrastruktur rel yang ada ditingkatkan terlebih dahulu.

Rencana pengembangan roket berat Rusia cukup prospektif. Pada pertengahan Mei lalu, Ostapenko menjelaskan Program Antariksa Rusia untuk 2016-2025 akan mencakup upaya untuk merancang sebuah roket pembawa super-berat dengan daya angkut sebesar 70-80 ton. “Saat ini program tersebut masih dalam tahap penyelesaian. Kami akan menerbitkannya dalam waktu dekat,” ujar Ostapenko.

Artikel ini adalah versi ringkas dari materi yang dipublikasikan di VPK-news.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.