Ilmuwan Rusia Berencana Mengkloning Mamut

Seorang ilmuwan mengukur bangkai mamut yang terawetkan secara utuh, yang ditemukan oleh penambang di permafrost di dekat sungai Kirkish, di distrik Susumansky, wilayah Magadan pada tahun 1977. Foto: ITAR-TASS

Seorang ilmuwan mengukur bangkai mamut yang terawetkan secara utuh, yang ditemukan oleh penambang di permafrost di dekat sungai Kirkish, di distrik Susumansky, wilayah Magadan pada tahun 1977. Foto: ITAR-TASS

Ilmuwan Rusia tengah berupaya membangkitkan mamut. Bulan ini, Pusat Internasional Penelitian Sel-sel Hewan Prasejarah akan dibuka di Yakutia.

International Center for the Collective Use of Molecular Paleontology for the Study of Cells of Prehistoric Animals (Pusat Internasional Pemanfaatan Kolektif Paleontologi Molekuler untuk Penelitian Sel-sel Hewan Prasejarah) akan dibuka di Yakutia, salah satu daerah paling utara Rusia, pada September mendatang sebagai bagian dari proyek Kebangkitan Mamut.

Para peneliti memiliki banyak bahan untuk digarap. Sebanyak 75 persen sisa peninggalan mamut yang dikenal di dunia telah ditemukan di daerah terpencil di Yakutia. Setiap tahun, es membawa sisa-sisa baru hewan tersebut. Setelah laboratorium memiliki perlengkapan yang lebih canggih untuk melakukan penelitian genetik, ilmuwan Rusia akan mulai melakukan isolasi DNA dan kloning mamut.

Proyek Kebangkitan Mamut

Pada 2012, Direksi Lazarev Mammoth Museum Northeastern Federal University’s Institute of Applied Ecology (Museum Mamut Lazarev dari Institut Ekologi Terapan Universitas Federal Daerah Timur Laut) dan Soam, sebuah yayasan Korea untuk penelitian bioteknologi, sepakat untuk bekerja sama dalam proyek Kebangkitan Mamut.

Menurut Kepala Museum Semyon Grigoriev, pusat internasional ini didirikan sebagai laboratorium Yakutia-Korea. Para mitra Korea telah membeli peralatan senilai beberapa juta dolar, dan Northeastern Federal University (Universitas Federal Daerah Timur Laut) telah menawarkan dan merenovasi ruangan-ruangan yang akan dibutuhkan para ilmuwan untuk bekerja. Ilmuwan Rusia telah mempelajari DNA mamut selama bertahun-tahun, namun baru pada 2013 museum ini mengirim karyawannya ke Korea Selatan untuk mempelajari metode kloning.

Mamut yang ditemukan di Rusia utara yang tidak cocok untuk diteliti atau dipamerkan dikembalikan pada orang-orang yang menemukannya. Namun, sebagian besar temuan merupakan sumber informasi yang sangat berharga bagi para ilmuwan genetika.

“Kami membutuhkan sel punca yang tersimpan baik untuk mengkloning mamut. Karena tidak ada mamut hidup yang tersisa, masalah utamanya adalah menemukan sel-sel untuk prosedur kloning standar. Proses ini pada dasarnya mengambil inti dari sel asli dan menanamkannya ke dalam nukleus sel telur dari organisme lain,” kata Direktur Ilmiah Pusat Genotek Valery Ilinsky. “Hambatan utama kloning mamut adalah sedikitnya, bahkan tidak ada, sel-sel dengan inti yang diawetkan,” tutur Ilinsky.

Mempercepat Proses Kloning

The Center for the Collective Use of Molecular Paleontology (Pusat Pemanfaatan Kolektif Paleontologi Molekuler) diciptakan untuk mempercepat proses kloning. Para ilmuwan dapat melakukan penelitian di Rusia dan tidak perlu mentransfer materi ke negara lain. Apalagi, pengangkutan materi genetik ke luar negeri harus melewati prosedur birokratis yang rumit.

Ahli Rusia sudah mulai berusaha membangkitkan mamut sebelum pusat ini dibuka. Sisa peninggalan terbaik mamut Malolyahovsky yang diawetkan telah diserahkan pada ilmuwan Korea. Hasil penelitian genetik hewan ini akan diumumkan dalam upacara pembukaan pusat penelitian.

Untuk Apa Membangkitkan Mamut?

Mamut telah menjadi semacam maskot bagi Rusia. Sejumlah besar sisa hewan ini dapat ditemukan di Rusia. Gading dan tulang mamut yang ditemukan oleh penduduk setempat dipajang di museum kota kecil dekat Moskow, di pegunungan Kaukasus, serta di Siberia.

Peta genetik dari mamut telah dibuat. Struktur hewan ini dapat dibandingkan dengan kromosom gajah Asia. Setelah itu, kromosom gajah akan diubah dan kromosom mamut hidup akan dibuat. Bahan yang dihasilkan akan ditanamkan ke sel telur gajah untuk pembuahan berikutnya.

Jika percobaan ini berhasil, para peneliti berencana memelihara sang mamut di Siberia. Namun, beberapa anggota komunitas ilmiah di Rusia menganggap ide tersebut tidak realistis.

“Percobaan ini belum dilakukan di mana pun di dunia. Ya, bakteri telah dikloning, tetapi bakteri bukanlah mamut. Pada tahap ilmu pengetahuan ini, semua komentar mengenai suatu proyek yang kompleks dapat disimpulkan ‘secara teknis tidak layak’,” ujar Svetlana Borinskaya, ahli genetika dan ahli genomik dan bioteknologi di Institute of General Genetics of the Russian Academy of Sciences (Institut Genetika Umum Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia). "Jika Anda melakukannya dengan metode yang telah diketahui, akan ada sejumlah besar kesalahan genetik yang tidak kompatibel dengan kehidupan hewan tersebut.”

Kloning hewan prasejarah telah menarik minat ilmuwan selama beberapa dekade. Menurut perkiraan awal, proses membangkitkan mamut dapat membutuhkan waktu antara lima hingga 30 tahun. Namun, hasilnya tidak dapat diprediksi. Sejauh ini tidak ada hewan kloning, baik katak atau kambing gunung, yang bisa bertahan hidup selama lebih dari beberapa jam.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.