Kehidupan Digital Setelah Kematian

Internet bisa mengambil alih dan mengurus akun-akun jejaring sosial Anda setelah Anda meninggal. Foto: Alamy/Legion Media

Internet bisa mengambil alih dan mengurus akun-akun jejaring sosial Anda setelah Anda meninggal. Foto: Alamy/Legion Media

Tidak lama lagi, orang tak hanya dapat mewariskan harta mereka setelah meninggal, tetapi juga hak untuk mengelola akun jejaring sosial. Selain surat perpisahan, keluarga yang ditinggalkan dapat menerima catatan berisi username login dan password sang pemilik akun. Koresponden RBTH Sophia Savina mencari tahu bagaimana pendapat warga Rusia mengenai keberlanjutan kehidupan di dunia maya setelah pemilik akun berpulang.

Wasiat Elektronik

Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada halaman jejaring sosial Anda setelah Anda meninggal? LivesOn menjawab hal tersebut dengan salah satu slogan iklannya, “When your heart stops beating, you'll keep tweeting”. Jejaring sosial tersebut berjanji akan tetap melanjutkan aktivitas akun Twitter Anda bahkan setelah Anda tak lagi bernyawa. Sistem mereka akan menghasilkan pesan tweet baru yang diolah dari topik-topik yang menarik bagi sang pengguna ketika masih hidup serta kata-kata yang mereka sering gunakan.

Sumber: http://liveson.org

Bagi mereka yang tak mau mempercayakan kehidupan digital setelah kematian pada robot elektronik, ada beberapa alternatif lain. Situs seperti Entrustet, Legacy Locker, dan My Webwill menyarankan klien mereka untuk menunjuk seseorang yang akan menjadi ‘ahli waris’ akun tersebut. Perusahaan lain seperti Future.tk dan Deathswitch menawarkan layanan surat warisan yang ditangguhkan. Pengguna dapat menyusun catatan atau video perpisahan yang menyampaikan kata-kata terakhirnya, surat cinta, bahkan informasi keuangan yang akan dikirim ke penerima yang ia pilih saat komputer mendeteksi bahwa aktivitas internet pengguna telah berhenti.

Pomni Pro, Pemakaman Dunia Maya

Rusia juga punya jejaring sosial berupa pemakaman virtual, yakni memorial virtual Pomni Pro. Halaman jejaring sosial ini dibuat oleh keluarga atau orang-orang terdekat almarhum. Pomni Pro menyediakan menyediakan ruang untuk foto dan biografi orang yang telah meninggal. Pada dinding memori, setiap orang dapat menulis pesan, testimoni, bahkan hadiah elektronik.

Sumber: http://pomnipro.ru

Sebagian orang berterima kasih pada sang pencipta jejaring tersebut. “Hidup kita saat ini sangat lekat dengan dunia maya, karena itu memorial ini sungguh berguna. Kita bisa meninggalkan kenangan bersama orang-orang yang kita cintai selama bertahun-tahun dalam bentuk elektronik. Mungkin anak cucu mereka kelak dapat mengenal nenek moyangnya melalui jejaring ini,” ujar salah seorang pengguna. Ada pula pengguna yang bercerita, anaknya yang telah meninggal dimakamkan di Novosibirsk, sementara ia tinggal di pinggiran kota Moskow. Berkat situs tersebut, ia seolah bisa mengunjungi ‘makamnya’ setiap hari.

Namun, ada beberapa orang yang kurang setuju dengan kehadiran situs ini. “Situs ini tidak dapat menghapus kesedihan dan kehilangan, tapi pasti dapat menimbulkan masalah psikologis,” kata salah seorang narasumber. Sementara, ada pula orang yang berharap situs ini dapat dikembangkan untuk mengenang hewan peliharaan. “Kapan saya akan dapat mengubur kucing saya?” tanya salah seorang pengguna.

Menghina Tuhan?

Layanan digital setelah kematian tak terlalu populer di Rusia. “Setelah saya tiada, aktivitas di halaman jejaring sosial saya akan membuat keluarga dan teman-teman saya ketakutan. Ini akan menjadi pengingat kesedihan yang konstan. Bagaimana mungkin saya sudah mati tapi bisa terus menulis pesan pada halaman jejaring sosial saya? Ini tidak sesuai dengan ajaran Kristen,” kata Ilya, seorang mahasiswa berusia 24 tahun. Pavel (48), seorang direktur seni, juga sepakat dengan Ilya. “Jika seseorang serius mempertimbangkan penggunaan hal ini, saya pikir hal itu sangat kejam dan menghina Tuhan,” tutur Pavel.

Alexander Voiskunsky (67), seorang pakar pengaruh internet terhadap pikiran manusia dan perintis psikologi maya Rusia, tidak percaya bahwa layanan ini akan populer. “Tidak banyak orang di luar sana yang seumuran saya atau lebih tua dari saya, tertarik untuk menggunakan layanan tersebut. Sementara, kebanyakan anak muda tidak terlalu peduli tentang apa yang terjadi setelah kematian mereka,” kata Alexander.

Faktor lain yang dapat membuat layanan tersebut gagal menurut Voiskunsky adalah orang Rusia tidak mempertimbangkan sisi spiritual wasiat tersebut. “Orang Rusia kebanyakan tidak peduli dengan urusan setelah kematian,” kata Voiskunsky.

Sebuah Awal Baru

Namun, ada juga orang Rusia yang menyambut gagasan ‘keabadian’ digital tersebut. Beberapa orang memiliki pendekatan pragmatis. "Surat wasiat elektronik di dunia maya adalah sebuah konsep yang menarik. Sebagai contoh, beberapa blogger terkenal bisa mewariskan situsnya pada putranya sebagai bisnis keluarga,” ujar Vladimir (22), seorang mahasiswa.

Ada pula yang memerhatikan kemungkinan dampak positif psikologis layanan tersebut. “Saya akan menggunakan layanan yang menawarkan publikasi bertahap artikel-artikel saya setelah kematian yang telah saya siapkan sebelumnya,” kata Vladislav (25), seorang pengusaha. “Saya bisa mendukung keluarga saya dengan pesan saya. Orang dapat terbiasa menghadapi kematian itu sendiri, namun dampak dari kematian mendadak dapat menimbulkan konsekuensi buruk pada pikiran keluarga seseorang,” ujar Vladislav.

Yulia (35), seorang instruktur yoga, menjelaskan bahwa ia ingin situs tersebut dapat menanamkan wawasan dan harapan ke jiwa para pengguna. “Saya harap ini dapat membuat keluarga yang ditinggalkan berpikir, ‘Apakah ini benar-benar akhir atau hanya permulaan baru?’,” kata Yulia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.