Sanksi Barat Hambat Perkembangan Angkatan Laut Rusia

Wakil Presiden Pertama Akademi Masalah Geopolitik Rusia Konstantin Sivkov: Masalah serius muncul dalam kegiatan modernisasi Angkatan Laut Rusia, karena ada ketergantungan terhadap komponen mikroelektronik buatan negara lain. Foto: ITAR-TASS

Wakil Presiden Pertama Akademi Masalah Geopolitik Rusia Konstantin Sivkov: Masalah serius muncul dalam kegiatan modernisasi Angkatan Laut Rusia, karena ada ketergantungan terhadap komponen mikroelektronik buatan negara lain. Foto: ITAR-TASS

Peningkatan kekuatan angkatan laut Rusia merupakan unsur krusial dalam peningkatan kemampuan pertahanan negara Rusia secara keseluruhan. Hal tersebut diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada perayaan Hari Jadi Angkatan Laut Rusia di Severomorsk, Senin (28/7).

Prioritas: Kapal Selam Balistik

Pada hari yang sama, tiga kapal selam balistik, yakni Khabarovsk dan Krasnoyarsk (proyek 885 Yasen), serta Knyaz Oleg (proyek 955 Borey), masuk dalam barisan persenjataan Angkatan Laut Rusia. Hingga akhir 2014 ini, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal perang baru dan kapal bantu (auxiliary ship) untuk berbagai kelas.

Dalam pidatonya, Putin memerintahkan agar Moskow melanjutkan program penambahan persenjataan Angkatan Laut Rusia dengan kapal perang baru, serta meningkatkan kemampuan personelnya. Putin juga mengumumkan bahwa tahun ini kapal selam tenaga nuklir Severodvinsk akan bergabung bersama dua kapal selam nuklir lain, yakni Yuriy Dolgorukiy dan Aleksandr Nevskiy, yang telah masuk lebih dulu dalam koleksi persenjataan Angkatan Laut Rusia.

Kremlin berencana menambah kekuatan angkatan bersenjata mereka untuk menanggapi tekanan yang kian bertambah dari Barat. Pemerintahan Rusia memprioritaskan kapal selam tenaga nuklir, yang merupakan komponen penting dalam kekuatan persenjataan nuklir Rusia. Kapal selam tersebut mampu bertarung melawan armada laut musuh dan menaklukkan senjata pertahanan udara milik lawan secara efektif.

Armada Laut Hitam Versus NATO

Rusia berniat untuk memodernisasi kapal-kapal kelas satu (kapal perang dan kapal selam besar) dan kelas dua (kapal dan kapal selam ukuran besar dan sedang) milik mereka, termasuk kapal penjelajah (cruiser). Selain itu, Rusia hendak merealisasikan program pembangunan kapal perusak terbaru dengan sistem pertahanan antirudal, yakni proyek Leader. Kapal perusak dalam program tersebut harus mampu melumpuhkan rudal balistik milik lawan dan menembakkan roket supersonik pada musuh.

Moskow berencana meningkatkan kekuatan persenjataan komando dan armada Angkatan Laut Rusia, terutama Armada Laut Hitam. Hal tersebut disebabkan adanya penambahan kekuatan pasukan NATO di sekitar Laut Hitam. Hingga tahun 2020, Rusia akan menerima 30 kapal perang, termasuk enam kapal selam tenaga diesel dan enam fregat (beberapa kapal perang dengan jenis bervariasi), untuk koleksi persenjataaan Armada Laut Hitam.

Sekitar sehari setelah informasi mengenai usaha peningkatan kekuatan Angkatan Laut Rusia diumumkan, Amerika Serikat langsung menetapkan sanksi pada  produsen kapal dan kapal selam Rusia Obyednennaya Sudostroitelnaya Korporatsiya (OSK), yang menjadi pemasok utama kapal perang muktahir bagi Rusia.

Pemulihan Produksi Kebutuhan Militer Dalam Negeri

Wakil Direktur Institut Analisa Politik dan Militer Aleksander Khramchikhin mengatakan, sanksi AS tidak akan memengaruhi pemenuhan pesanan pemerintah Rusia dalam bidang pertahanan dan persenjataan Angkatan Laut Rusia. “Hampir tidak pernah ada interaksi nyata antara Rusia dan AS di bidang itu. Namun, melihat penerapan sanksi dan pemutusan hubungan bisnis dengan pabrik Nikolaev di Ukraina yang memproduksi mesin penggerak untuk kapal kami secara menyeluruh, masalah ini dapat menjadi semakin runcing di masa yang akan datang. Masalah tersebut perlu diselesaikan dengan segera mengambil keputusan untuk membangkitkan produksi mandiri di bidang militer serta pengembangan hubungan dengan negara-negara ketiga,” ujar Khramchikhin.

Wakil Presiden Pertama Akademi Masalah Geopolitik Rusia yang juga merupakan pensiunan Kapten Angkatan Laut Rusia Konstantin Sivkov menilai tidak adanya perangkat buatan asing dalam persenjataan muktahir Rusia merupakan hal yang patut disyukuri terkait sanksi. “Namun masalah serius muncul dalam kegiatan modernisasi Angkatan Laut Rusia, karena ada ketergantungan terhadap komponen mikroelektronik buatan negara lain,” papar Sivkov.

Namun, ketergantungan tersebut bukanlah hal yang kritis karena Rusia punya cadangan komponen-komponen tersebut untuk beberapa tahun ke depan. Dalam jangka waktu tersebut, Rusia sudah bisa menghilangkan kelemahan tersebut, atau meminimalkan dampak ketergantungan melalui pelaksanaan kebijakan impor subtitusi dan diversifikasi produk tersebut dengan Tiongkok.

Akan tetapi, Sivkov menekankan bahwa pemulihan usaha produksi kebutuhan militer dalam negeri dan teknologi harus diprioritaskan untuk meningkatkan kekuatan pertahanan Rusia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.