Irak Impor Pesawat Tempur Rusia untuk Lawan Ekstremis

Irak memilih Rusia sebagai pemasok pesawat tempur karena mereka berseberangan dengan Amerika Serikat dan situasi genting menyelimuti Baghdad. Foto: ITAR-TASS

Irak memilih Rusia sebagai pemasok pesawat tempur karena mereka berseberangan dengan Amerika Serikat dan situasi genting menyelimuti Baghdad. Foto: ITAR-TASS

Rusia telah menandatangani perjanjian jual-beli pesawat tempur yang mencengangkan dengan Irak.

Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki memperhitungkan dapat menghancurkan para ekstremis Negara Islam di Irak dan Syam (ISIL atau ISIS) dalam kurun waktu satu minggu dengan bantuan pesawat tempur asal Rusia. Pesawat tersebut dijadwalkan akan tiba di Irak dalam waktu 2-3 hari setelah permintaan bantuannya secara resmi ke Moskow.

Transaksi jual-beli pesawat tempur tercepat sepanjang sejarah ini didorong oleh keadaan dalam negeri Irak yang memburuk secara drastis karena pasukan ISIL menduduki daerah-daerah Irak. Menurut saluran televisi berita Al Arabiya, pasukan ISIL sudah mendekati kota Baghdad dan telah merebut obyek-obyek strategis industri migas milik Irak.

Irak memilih Rusia sebagai pemasok pesawat tempur karena mereka berseberangan dengan Amerika Serikat dan situasi genting menyelimuti Baghdad. Terlebih lagi, Nouri al-Maliki menyalahkan Washington, yang terikat kontrak penyediaan jet tempur multi peran F-16 dengan Irak, dalam kekalahan para tentaranya melawan kelompok ekstremis. Menurut Nouri, kelompok ekstremis ISIL dapat merebut daerah Irak secara signifikan dalam waktu singkat dikarenakan Irak tidak punya persenjataan serangan udara yang cukup memadai.

Sementara itu, pihak AS bersikukuh dengan pandangannya sendiri terhadap situasi di Irak. Mereka menerangkan bahwa pengambilan posisinya terhadap babak baru konflik di Irak disebabkan “ketidakinginan mereka untuk mempertajam konflik kaum Syiah dan Sunni di Irak”. Hal tersebut disampaikan oleh saluran berita Al Arabiya.

Beberapa waktu terakhir ini, kelompok Mujahidin berhasil melemahkan kekuatan Angkatan Udara Irak dengan menduduki salah satu markas angkatan udaranya serta menghancurkan helikopter tempur milik Irak. Hal tersebut diperparah oleh adanya serangan kelompok Mujahidin ke salah satu markas terbesar Irak lain, Camp Anaconda, yang berada di kota Yatsrib, Baghdad Utara, pada Rabu (25/6) kemarin.

Setelah peristiwa mengenaskan itu, Angkatan Udara Irak lebih membutuhkan pasokan persenjataan kilat untuk menghentikan pergerakan kelompok Mujahidin yang tidak memiliki senjata perlindungan terhadap serangan udara dari ketinggian menengah ke atas.

Untuk menggambarkan betapa seriusnya situasi di Irak tersebut, pemerintahan Assad di Suriah sampai harus mengirimkan jet tempurnya untuk membantu Nouri al-Maliki mempertahankan kedaulatannya.

Kepentingan Rusia

Rusia juga memiliki kepentingan nyata di kawasan tersebut, salah satunya terkait perusahaan migas Lukoil Rusia yang beroperasi di wilayah kerja  di lapangan West Qurna.

Penyediaan pesawat tempur Rusia untuk Irak bukanlah hal yang tidak pernah diperhitungkan. Sebelumnya, Moskow sudah pernah memasok helikopter tempur, senjata pertahanan udara, dan persenjataan lainnya dengan nilai lebih dari 4,3 miliar dollar AS untuk Baghdad.

Al-Maliki dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah mendiskusikan pasokan mesin tempur untuk Irak lewat telepon pada Jumat (20/6). Hal ini menunjukkan betapa besarnya dukungan berskala internasional oleh Rusia kepada pemerintahan Irak dalam percepatan pembebasan wilayah negara dari para teroris. Informasi mengenai hal tersebut sudah pernah dimuat dalam situs Institut Timur Tengah Rusia.

Karakteristik Pesawat Tempur Rusia untuk Irak

Tipe dan jumlah pesawat tempur Rusia yang dibeli Irak menjadi salah satu hal penting dalam lingkup kerja sama ini. Menurut harian Vedomosti, pembelian tersebut terdiri dari delapan hingga 12 jet tempur multi guna Su-27SM dan enam pesawat tempur Su-30K. Pesawat Su-30K saat ini ada di Belarusia, yang sebenarnya diperuntukkan bagi Angola pada 2015 mendatang. Nilai pembelian pesawat tempur Irak tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS.

Pesawat tempur yang akan dikirim ke Irak dalam waktu dekat bukanlah pesawat baru, melainkan pesawat milik Angkatan Udara Rusia Su-27SM dan enam pesawat tempur Su-30K yang masih aktif digunakan. Su-27SM adalah tipe pesawat tempur yang sama dengan pesawat milik Angkatan Udara Rusia.

Sebenarnya, tindakan ini melanggar peraturan ekspor senjata Rusia. Di zaman Uni Soviet, ada peraturan yang menyebutkan bahwa setiap ekspor senjata Rusia ke negara lain dapat dilakukan dengan penurunan spesifikasi dari senjata aslinya. Misalnya, untuk pesawat jenis Su-27 seharusnya Irak mendapatkan pesawat tipe Su-27SKM. Pesawat itu merupakan salah satu modifikasi Su-27 untuk ekspor.

“Aturan resmi penurunan spesifikasi dalam lembaga negara yang mengatur ekspor senjata Rusia ke negara lain memang sudah tidak ada, akan tetapi peraturan tersebut masih tetap dijalankan,” kata Wakil Presiden Akademi Masalah Geopolitik Konstantin Sivkov pada RBTH. Sivkov menyatakan bahwa perwujudan perjanjian Rusia-Irak ini merupakan penyimpangan peraturan pemerintah yang berlaku saat ini.

Kabar yang menyatakan kemungkinan Bagdad akan beralih ke pesawat tempur Su-30K dianggap janggal, sebab jenis tersebut adalah pesawat tempur modifikasi yang dirancang untuk pertarungan udara (dogfight) dengan pesawat tempur lain, sedangkan Irak sekarang ini membutuhkan pesawat tempur untuk serangan darat. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan adanya pengiriman pesawat terbang tipe Su-30MK atau Su-30MK2 untuk Irak.

Artikel Terkait

Pesawat Tempur MiG-35 Lebih Ringan dan Canggih

Pesawat Tempur Tanpa Awak Bergabung dengan Pasukan Rusia

PAK TA, Rancangan Pesawat Angkut Militer Rusia Terbaru

Helikopter-helikopter Pemegang Rekor Milik Rusia: Dari Sapi Hingga Aligator

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.