Rusia Akan Jual Jet Tempur Canggih ke Mesir

MiG-35 adalah pesawat tempur canggih yang diklasifikasikan sebagai jet tempur generasi 4++. Anton Denisov/RIA Novosti

MiG-35 adalah pesawat tempur canggih yang diklasifikasikan sebagai jet tempur generasi 4++. Anton Denisov/RIA Novosti

Pesawat tempur canggih multi-peran MiG-35 milik Rusia akan terbang di wilayah udara Mesir dan melakukan pendaratan spektakuler di negeri Firaun tersebut. Aksi itu merupakan bagian dari pertahanan diplomatik Moskow di Timur Tengah.

Saat ini, Moskow dan Kairo sedang merundingkan kerja sama senilai tiga miliar dolar AS untuk pasokan 24 jet tempur MiG-35 ke Mesir. Mikhail Riyabov, anggota tim penasihat militer Rusia selama Perang Arab-Israel 1973 mengatakan pada Al Ahram Weekly Kairo bahwa Moskow dan Kairo telah mencapai kesepakatan dan kerja sama tersebut akan terealisasi dalam waktu dekat. Penjualan MiG-35 yang dibahas saat kunjungan delegasi militer Rusia ke Mesir pada April lalu tersebut merupakan kemajuan pesat bagi hubungan bilateral Kairo dan Moskow.

Perjanjian tersebut dibuat dalam bentuk lisan, tidak tertulis di atas kertas, karena Mesir dipimpin oleh pemerintah interim. Rusia bertaruh jika Marsekal Abdel-Fattah Al-Sisi memenangkan pemilu, ia harus melaksanakan perjanjian tersebut di awal masa jabatannya. Ternyata, Al-Sisi dengan mudah memenangkan pemilu tersebut.

Selain pasokan jet tempur, ruang lingkup kesepakatan Rusia dan Mesir bisa melebar untuk pasokan alutsista lain seperti rudal anti-tank dan sistem pertahanan pesisir.

Tentang MiG-35

Angkatan Udara Mesir selama ini bergantung pada jet F-16 usang buatan AS. Tentu mereka akan senang menerima pesawat tempur canggih baru buatan Rusia.

MiG-35 pertama kali dipamerkan dalam sebuah pertunjukan udara di Bangalore pada 2007. Pesawat multiperan tersebut mampu melakukan misi udara dengan baik serta menyerang target darat dalam semua kondisi cuaca. MiG-35 versi ekspor akan dilengkapi dengan radar Zhuk-AE jenis active electronically scanned array (AESA) dan kompatibel dengan sistem senjata Rusia dan Barat.

Para pengkritik mengatakan MiG-35 hanyalah MiG-29 dalam kemasan baru. Tapi kenyataannya, MiG-35 adalah pesawat yang jauh lebih canggih, yang diklasifikasikan sebagai jet tempur generasi 4++. MiG juga berukuran 30 persen lebih besar dibanding pendahulunya.

Pesawat ini tidak hanya piawai dalam pertempuran udara jarak pendek serta mampu menetralisir pesawat tempur serangan dan rudal jelajah, tapi juga dapat menghancurkan target di permukaan tanah dan laut dari jarak jauh, serta melakukan misi pengintaian udara. Pesawat ini juga memiliki beberapa karakteristik siluman karena penggunaan kompositnya.

Pesawat ini tidak lagi dianaktirikan dalam militer Rusia. Menurut Komandan Jenderal Angkatan Udara Rusia Alexander Zelin, militer Rusia akan menggunakan pesawat tempur multi-peran MiG-35D baru untuk menghadapi pesawat siluman terbaru Amerika F-35, sampai pesawat tempur siluman PAK-FA diperkenalkan. “Kelak kami akan beralih ke PAK-FA, tapi saat ini kami terus mengembangkan proyek pesawat ringan MiG-35D,” ungkap Zelin.

Perebutan Posisi di Timur Tengah

Jika transaksi pesawat tersebut berjalan lancar, maka dapat disimpulkan Rusia berhasil ke jantung Timur Tengah setelah 40 tahun bergelut di rimba diplomatik. Pada 1972, Presiden Mesir Anwar Sadat mengusir lebih dari 17.000 penasihat militer Soviet dari Mesir dan berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kesepakatan ini bukan hanya menandai melemahnya pengaruh AS di kawasan Mesir, tapi juga mengukuhkan prestasi Rusia dalam  pergumulan strategis dengan Barat, setelah kasus Suriah dan Krimea.

Menurut analis strategis Yiftah Shapir, Zvi Magen, dan Gal Perel dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Rusia telah menjadikan Timur Tengah sebagai medan lain dalam perjuangan global melawan Barat, untuk menyeimbangkan tekanan terhadapnya di Eropa Timur. “Jadi, Rusia memiliki kepentingan konkret dalam kerja sama bidang militer dengan Mesir, karena hal itu dapat meningkatkan posisi internasional Rusia secara signifikan dan menjadi contoh bagi negara lain di kawasan tersebut untuk memperluas kerja sama,” tutur para analis.

Siapa yang Membayar?

Kondisi Mesir saat ini nyaris pailit. Sejak kepergian Rusia pada 1970-an, kebutuhan pertahanan negara tersebut dipenuhi oleh Amerika Serikat. Namun pada Oktober 2013, AS mengatakan akan “mengkaji ulang” bantuan pertahanan ke Mesir dan menangguhkan sebagian bantuan karena ketentuan hukum AS yang melarang pengadaan senjata bagi rezim yang berkuasa melalui kudeta militer.

Mesir tentu kesulitan membiayai sendiri pembelian senjata skala besar tersebut. Tersiar kabar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bersedia membayari pesawat MiG tersebut. Kedua kediktatoran teluk itu jelas ada di kubu AS, tetapi akhir-akhir ini mereka berusaha memperbaiki hubungan dengan Moskow. Pihak Saudi, yang secara terbuka mendukung fundamentalis Islam di Suriah dalam upaya untuk menggulingkan Presiden Bashar Al-Assad, frustrasi ketika Amerika Serikat berbalik arah dan memutuskan untuk tidak menyerang Suriah.

Arab Saudi juga mengkhawatirkan tawaran diplomatik AS kepada musuh bebuyutannya, Iran. Karena itu, penguatan Mesir, satu-satunya negara Arab—setelah remuknya kekuatan Irak—yang dapat berdiri sebagai benteng melawan pihak Persia yang ditakuti, merupakan salah satu kepentingan Riyadh.

Namun, jika pembiayaan ‘petrodollar’ tersebut tidak terwujud pun bukan berarti Moskow akan mundur dari kesempatan strategis untuk bekerja sama dengan Mesir. Kartel ekspor senjata Rusia Rosoboronexport telah membukukan penjualan tinggi di seluruh dunia dan mereka dapat memanfaatkan pinjaman yang diberikan oleh pemerintah Rusia.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.