Pembangkit Listik Tenaga Nuklir Terapung, Solusi Rusia Mengatasi Krisis Energi

Pembangkit listrik tenaga nuklir terapung ini dapat menghasilkan tenaga listrik dan panas serta mampu melakukan desalinasi air laut. Sumber: ITAR-TASS

Pembangkit listrik tenaga nuklir terapung ini dapat menghasilkan tenaga listrik dan panas serta mampu melakukan desalinasi air laut. Sumber: ITAR-TASS

Pengembangan industri tenaga nuklir skala global, termasuk penggunaan teknologi nuklir di lautan, menjadi perhatian Rusia.

Salah satu agenda utama pada konferensi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pertengahan September lalu adalah menghasilkan acuan yang detail dan tegas dalam pengembangan industri tenaga nuklir skala global. Hal ini termasuk penggunaan teknologi nuklir di lautan, yang menjadi perhatian Rusia.

“Kami berharap konferensi ini menetapkan arah yang jelas untuk memperkenalkan teknologi baru di bidang pembangkitan tenaga nuklir dan keamaman nuklir,” kata Vladimir Voronkov, wakil tetap Rusia di organisasi internasional yang berbasis di Wina itu.

Ide memanfaatkan pembangkit tenaga nuklir di perairan muncul pada 1950-an. Savannah, sebuah kapal penumpang dan barang komersial pertama bertenaga nukilir, dibuat melalui program khusus Presiden Eisenhower pada 1964 di Amerika Serikat. Namun proyek yang merupakan inisiatif bersama Amerika, Jerman, dan Jepang ini gagal.

Sementara di Uni Soviet justru sedang dikembangkan kapal komersial bertenaga nuklir yang dapat menghasilkan pendapatan signifikan. Di samping itu penerapan prinsip konsentrasi energi kolosal di kapal komersial juga menjadi bahan pengujian untuk pengembangan mesin bertenaga nuklir untuk kapal selam dan kapal perang angkatan laut.

Kemampuan berlayar secara otonom dalam waktu lama memunculkan pemikiran tentang kawasan yang tepat bagi pengoperasiannya nuklir, yaitu Artik. Di kawasan kutub mesin bertenaga nuklir menunjukkan keunggulannya, contohnya kapal pemecah es yang selalu beroperasi dengan tenaga penuh. Kapal pemecah es berada di laut lepas untuk jangka waktu sangat lama sebelum kembali ke pelabuhan. Ini merupakan efisiensi luar biasa sebab bila misi belum selesai tapi harus meninggalkan rute untuk mengisi bahan bakar, akan menyebabkan kerugian besar.

Kapal pemecah es komersial pertama di dunia, Lenin, dibuat pada 1957. Kapal ini memiliki banyak keunggulan dibanding kapal konvensional, dan menjadi kapal permukaan pertama dalam sejarah yang melalui jalur utara Novaya Zemlya pada 1971.

Dengan sembilan kapal pemecah es bertenaga nuklir, armada Rusia adalah yang terkuat di dunia. Kapal pemecah es bertenaga nuklir telah mengubah rute Laut Utara menjadi jalur utama pelayaran yang ramai dan mendukung navigasi sepanjang tahun di Artik Barat.

Namun demikian sebuah armada kapal pemecah es bertenaga nuklir, kemampuan optimalnya masih jauh dari industri tenaga nuklir Rusia. Meski pun teknologi sumber daya alternatif dan yang dapat diperbarui masih jauh dari implementasi industrial yang efisien, solusi untuk mengatasi krisis energi adalah nuklir.

Salah satu gagasan yang mempunyai prospek cerah adalah pembangkit listrik tenaga nuklir terapung yang dibangun pertama kali oleh Rusia. Gagasan ini juga berkembang di negara-negara lain, tetapi selalu ditolak – terutama karena penentangan dari kelompok yang cemas terhadap dampak bagi lingkungan hidup.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama, Academician Lomonosov, dimulai pada 2009. Menurut Sergei Kirienko, CEO Rosatom, sebuah perusahaan milik negara, “Kami sudah memiliki calon pelanggan internasional, tetapi mereka ingin melihat terlebih dahulu bagaimana proyek percontohan ini berjalan”.

Wujud pembangkit listrik tenaga nuklir terapung ini adalah kapal tanpa mesin dengan dua reaktor di atasnya. Pembangkit ini dapat menghasilkan tenaga listrik dan panas serta mampu melakukan desalinasi air laut. Batas usai pengoperasiannya diperkirakan minimal mencapai 36 tahun yang terdiri dari tiga siklus 12 tahunan dengan pemuatan ulang reaktor di akhir tiap-tiap siklus. Para kru yang ditugaskan, termasuk para pengganti dan cadangan, berjumlah kurang lebih 140 orang.

Pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik semacam ini diperkirakan jauh lebih murah dibanding pembangkit konvensional, dan tentu saja mendapatkan banyak permintaan. Selain ekspor, unit tenaga terapung akan menjadi sumber listrik, panas, dan air bersih yang mumpuni bagi kawasan terpencil Rusia.

Namun faktor keamanan merupakan alasan utama di balik kesuksesan setiap proyek nuklir. Sebab setiap proyek berlandaskan pengalaman yang mumpuni dalam pengoperasian kapal pemecah es dan kapal selam, maka tingkat keamanannya pun sangat tinggi. Menurut ahli, fasilitas semacam ini adalah yang paling dapat dunia andalkan saat ini.

Secara umum, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung dapat menjadi proyek nasional yang unik; jika sukses, Rusia akan terus menjadi pemasok utama energi global.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.