Bagaimana Putra Para Pemimpin Soviet Bertempur dalam Perang Dunia II?

Archive photo; Wolfram von Richthofen
Selama perang melawan Nazi Jerman berlangsung, putra-putra para petinggi Soviet tidak menikmati hak istimewa apa pun. Mereka tetap dikirim untuk berperang di medan tempur bersama para prajurit biasa lainnya.

Yakov Dzhugashvili

Yakov Dzhugashvili saat ditahan oleh Jerman.

Ketika Perang Dunia (PD) II atau yang disebut Perang Patriotik Raya di Rusia pecah pada 22 Juni 1941, putra sulung Joseph Stalin, Yakov, yang memiliki nama keluarga asli sang pemimpin Soviet, Dzhugashvili, adalah komandan baterai artileri di Resimen Howitzer ke-14 dari Angkatan Darat ke-20.

Namun, ia hanya terjun sebentar di dalam perang karena berhasil ditangkap musuh selama pertempuran di Belaruspada 16 Juli 1941.

Jerman dengan cepat mengetahui siapa yang mereka tangkap dan mencoba segala cara untuk membujuknya agar mau bekerja sama. Akan tetapi, Yakov bersikeras menolak dengan mengatakan: "Saya merasa malu kepada ayah saya karena saya tidak terbunuh." 

Beberapa misi penyelamatan diluncurkan untuk menyelamatkan Letnan Senior Dzhugashvili, tetapi semuanya berakhir dengan kegagalan. Tawaranl Jerman yang diterima Stalin melalui Palang Merah untuk menukar Yakov dengan jenderal Jerman yang ditangkap di Stalingrad ditolak mentah-mentah oleh sang pemimpin Soviet. 

“Jerman menawarkan untuk menukar Yasha dengan salah satu orang mereka. Mereka pikir saya akan tawar menawar dengan mereka. Tidak! Perang adalah perang!” ujar putri Stalin, Svetlana Alliluyeva, mengenang perkataan ayahnya.

Mayat Yakov menggantung pada kawat berduri.

Setelah gagal memetik keuntungan dari tahanan istimewa mereka untuk tujuan propaganda, Jerman lalu mengubah perlakuan baik mereka menjadi sangat kejam terhadapnya. Pada 14 April 1943, Yakov melemparkan diri ke kawat listrik berduri kamp konsentrasi Sachsenhausen dan segera ditembak oleh seorang penjaga. Namun, masih belum diketahui apakah dia ingin bunuh diri, melarikan diri, atau itu semua direkayasa oleh Jerman, 

Vasily Stalin

Vasily Stalin.

Pada awal perang, putra bungsu Stalin, Vasily, yang lulus dari sekolah pilot pada 1940, bertugas di markas Angkatan Udara di Moskow. Dia tidak senang tinggal di garis belakang dan tidak ingin orang berpikir bahwa dia mendapatkan posisi yang nyaman berkat ayahnya.

Pada musim panas 1942, Vasily Stalin akhirnya berhasil mendapatkan penugasan di garis depan dan pada bulan Februari tahun berikutnya, ia diangkat menjadi komandan Resimen Penerbangan Tempur Pengawal ke-32. Dia terlibat aktif dalam pertempuran udara, melakukan 26 serangan mendadak, dan menembak jatuh dua pesawat musuh secara pribadi.

“Pada Februari—Maret 1943, kami menembak jatuh selusin pesawat musuh, termasuk tiga pesawat dengan partisipasi Vasily,” kenang Sergei Dolgushin, seorang komandan skuadron di resimennya. “Perlu dicatat bahwa menurut aturan, yang pertama menyerang pesawat musuh adalah Vasily dan setelah mereka kehilangan kendali, barulah kami menghabisi mereka. Menurut undang-undang penerbangan kami, pesawat-pesawat itu dapat dianggap ditembak jatuh secara pribadi oleh Vasily. Namun, dia lebih suka menganggapnya sebagai upaya tim. Saya pernah memberi tahunya tentang itu, tetapi dia hanya melambaikan tangannya dan berkata: 'Jangan!'.”  

Putra pemimpin Soviet itu selalu terbang dalam misi tanpa parasut. Dia telah memutuskan sendiri bahwa dia tidak berhak jatuh ke tangan musuh hidup-hidup.

Ketika perang berakhir, Kolonel Vasily menjabat sebagai komandan Divisi Penerbangan Tempur ke-286, yang turut ambil bagian dalam Operasi Berlin. Ia dianugerahi lebih dari selusin tanda jasa militer, termasuk tiga Ordo Bendera Merah, salah satu penghargaan tertinggi di Uni Soviet.

Leonid Khrushchev

Leonid Khrushchev.

Leonid Khrushchev, putra pemimpin masa depan Soviet Nikita Khrushchev, menjadi pilot berpengalaman jauh sebelum PD II ia telah menerbangkan burung besi sejak 1933. Selama Perang Soviet-Finlandia (Musim Dingin), ia mendaftar sebagai sukarelawan untuk terbang ke garis depan dan melakukan lebih dari 30 serangan mendadak dengan bomber tukik Ar-2.

Saat PD II dimulai, Khrushchev bertugas di Resimen Penerbangan Pengebom Berkecepatan Tinggi ke-134. Dia sering membuat tiga atau empat serangan mendadak dalam sehari, terkadang bahkan tanpa perlindungan pesawat tempur.

Sepulang dari misi pada 26 Juli 1941, pesawatnya diserang oleh sekelompok pesawat tempur Jerman. Dengan pesawat yang penuh lubang peluru, Leonid berhasil mencapai pangkalan udaranya dan mendaratkan pesawat dengan selamat. Akan tetapi kakinya terluka parah saat mendarat. “Pesawat berhenti tiba-tiba sehingga terbalik ke arah depan dan baling-baling menabrak tanah. Operator radio berhasil memanjat keluar melalui jendela gelembungnya, navigator Blinov terbunuh di udara, dan Leonid tergantung dengan tubuh terbalik di kokpit yang terkompresi selama satu jam. Dia ditarik keluar dari kokpit dengan bantuan beberapa orang mekanik dan kemudian dilarikan ke rumah sakit dengan patah tulang parah di kakinya,” kenang rekannya, Viktor Fomin . 

Pada musim dingin 1942, Leonid kembali ke garis depan dan dianugerahi Ordo Bendera Merah untuk keberaniannya dalam pertempuran. Namun, dia tidak ingin lagi menerbangkan pesawat pengebom. Dia memutuskan untuk berlatih kembali dan beralih ke pesawat tempur.

Pertempuran terakhir Letnan Senior Leonid Khrushchev terjadi pada 11 Maret 1943 di dekat kota Zhizdra (300 km dari Moskow). Namun ia tak pernah kembali ke pangkalan dan mayatnya tidak pernah ditemukan.

Timur Frunze

Timur Frunze.

Timur Frunze memiliki dua ayah, keduanya adalah tokoh senior dalam kepemimpinan Soviet. Ayah kandungnya adalah Mikhail Frunze, seorang revolusioner terkemuka dan komisariat rakyat (menteri) urusan militer. Namun, pada awal 1930-an, kedua orang tua Timur sudah meninggal dan dia diadopsi oleh Kliment Voroshilov, yang menggantikan Frunze sebagai komisariat rakyat.

Setelah memutuskan untuk meniti karier di kemiliteran, Timur awalnya memasuki sekolah artileri. Namun, minatnya berubah dan memutuskan untuk menimba ilmu penerbangan militer. Dia lulus dengan pujian dari sekolah pilot militer pada 1940. 

Timur benar-benar berbakat dan berkembang menjadi salah satu pilot andalan Tentara Merah. Dalam waktu kurang dari dua minggu di Front Barat Laut sebagai bagian dari Resimen Penerbangan Tempur ke-161, dia melakukan sembilan serangan mendadak, menembak jatuh dua pesawat musuh sendirian, dan satu pesawat lagi secara berkelompok.

Namun, nasib tidak memberi Timur cukup waktu untuk menyadari potensinya secara penuh. Pada 19 Januari 1942, tidak jauh dari Staraya Russa, pesawatnya terlibat dalam pertempuran melawan sekelompok pesawat tempur Jerman dan dia terbunuh.

Mikoyan Bersaudara

(Dari kiri) Aleksey, Stepan, dan Vladimir Mikoyan.

Wakil Ketua Dewan Komisariat Rakyat Uni Soviet (pemerintah Soviet) Anastas Mikoyan memiliki tiga putra yang berperang dalam Perang Patriotik Raya. Seperti kebanyakan putra para pemimpin Soviet yang lain, mereka juga bergabung dengan Angkatan Udara.

Putra tertua, Stepan, yang bertugas di Resimen Penerbangan Tempur ke-11, ikut serta dalam Pertempuran Moskow, setelah melakukan sepuluh serangan mendadak. Salah satunya hampir merenggut nyawanya. Pada 16 Januari 1942, pesawat Yak-1 miliknya ditembak jatuh oleh pesawat tempur Soviet lainnya secara tidak sengaja. Untungnya Stepan berhasil mendaratkan pesawatnya yang terbakar itu dengan “perutnya’. Mengalami luka bakar dan patah kaki, Stepan kemudian diselamatkan oleh penduduk desa setempat, yang membawanya ke rumah sakit lapangan.

Pada musim gugur 1942, Stepan pulih dari luka-lukanya dan mulai terbang kembali. Dia memutuskan akan ikut ambil bagian dalam Pertempuran Stalingrad. Hal itu sejalan dengan karakter pribadinya bahwa dia selalu siap untuk "selalu berada di tempat yang diperlukan untuk mencegah musuh udara mencapai objek atau untuk membantu seorang kawan keluar dari situasi yang sulit."

Adik Stepan, Vladimir, yang lulus dari kursus kilat di sekolah pilot pada Februari 1942, juga ikut serta dalam pertempuran yang sama. Vladimir yang berusia 18 tahun adalah pilot termuda di resimennya. Ia tewas dalam serangan mendadak seriusnya yang pertama pada 18 September 1942. Setelah kematian saudaranya, Stepan ditangguhkan dari misi tempur terbang untuk sementara. 

Menurut rumor, Stalin memanggil putranya Vasily, Komandan Resimen Penerbangan Pengawal ke-32, tempat Stepan bertugas dan berkata: “Timur Frunze sudah mati. Leonid Khrushchev juga mati. Begitu pula dengan Vladimir Mikoyan. Setidaknya, bisakah kau menjaga yang satu ini agar tetap hidup!”  

Namun, sebelum perang usai, Kapten Stepan Mikoyan berhasil melakukan puluhan misi tempur lagi. Dia juga mengambil bagian dalam mengawal serta menjaga pesawat dan kereta api yang sangat penting.

Mikoyan yang ketiga, Aleksey, juga tetap hidup setelah perang usai. Sebagai bagian dari Resimen Penerbangan Tempur Pengawal ke-12, ia melakukan 19 serangan mendadak hingga pada akhir 1944, ia menderita cedera tulang belakang dan wajah, karena kerusakan roda saat mendarat. Setelah keluar dari rumah sakit, dia kembali terbang dan terus mengudara hingga akhir perang.

Valery Chkalov adalah pilot pemecah rekor Uni Soviet yang paling populer dan dikenal nakal. Dia menjadi favorit Stalin, tetapi sayangnya meninggal dalam keadaan yang tragis.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki