Bagaimana Patung Lenin Muncul di Tengah-Tengah Area yang Paling Sulit Dijangkau di Antarktika?

Tim Norwegian-US Traverse

Tim Norwegian-US Traverse

Institut Kutub Nowergia
Patung itu membuktikan keberhasilan penjelajah Soviet dalam mengeksplorasi Antarktika.

Pada 19 Januari 2007, tim N2i yang terdiri dari penjelajah Inggris dan Kanada, mencapai area kutub yang tak dapat diakses (pole of inaccessibility) di Antarktika dan menemukan patung Lenin menyembul di tengah hamparan salju. Tak hanya itu, mereka bahkan menemukan stasiun Soviet tua yang terkubur di bawah lapisan salju tebal.

Markas Soviet

Puluhan tahun lalu, pada 14 Desember 1958, ekspedisi Soviet yang dipimpin penjelajah kutub Rusia Yevgeny Tolstikov mencapai apa yang disebut sebagai kutub yang tak dapat dijangkau di Antarktika. Istilah ini mengacu pada titik terjauh dari segala penjuru laut yang mengelilingi benua itu. Inilah pusat lingkaran imajiner yang dapat digambar dengan radius maksimum tanpa menyentuh garis pantai mana pun. Oleh karena itu, kutub yang tak dapat diakses adalah lokasi terjauh dan sekaligus paling sulit dijangkau, terutama di benua tak berpenghuni seperti Antarktika.

Ekspedisi Soviet ke kutub yang tak dapat diakses pada 1958 merupakan respons Uni Soviet terhadap pembangunan Stasiun Amundsen-Scott milik AS di Kutub Selatan pada 1956. Untuk mengimbangi pencapaian Amerika di Antarktika, Uni Soviet meluncurkan ekspedisi Kutub Selatan ketiga, yang terdiri dari 18 ilmuwan, dan berhasil mencapai kutub yang tak dapat diakses dengan traktor.

Traktor-traktor Ekspedisi Antarktika ketiga Soviet, 1959.

Di antara peralatan lainnya, tim Soviet membawa markas portabel berukuran 24 meter persegi yang telah dirakit sebelumnya. Markas itu dilengkapi dengan tungku listrik dan kompor minyak serta generator dan radio. Namun, yang paling penting, tim itu juga membawa patung Lenin. Patung dada (bust) itu kemudian diletakkan di atas markas yang mereka dirikan tepat di kutub yang tak dapat diakses.

Ekspedisi Soviet ke kutub yang tak dapat diakses pada 1958 merupakan respons Uni Soviet terhadap pembangunan Stasiun Amundsen-Scott milik AS di Kutub Selatan pada 1956.

Tim Soviet membawa cadangan makanan dan bahan bakar yang cukup. Bagaimanapun, mereka angkat kaki setelah 12 hari dan meninggalkan seluruh fasilitas, perbekalan, serta patung Lenin. Markas itu kelak dapat digunakan sebagai tempat berlindung bagi para pemberani yang berhasil menaklukkan tempat yang sulit dijangkau tersebut. Tak hanya itu, tim Soviet juga meninggalkan catatan yang mempersilakan tamu masa depan untuk menggunakan markas dan perbekalan mereka.

Para penjelajah Soviet meninggalkan seluruh fasilitas, perbekalan, serta patung Lenin.

Beberapa dekade kemudian, patung Lenin menjadi bahan hiburan bagi segelintir penjelajah yang berhasil mencapai tempat paling sulit dijangkau di benua itu.

Lenin Menghadap Washington

Selain berada di lokasi paling terpencil di benua tak berpenghuni, kutub yang tak dapat diakses juga terletak 3.700 meter di atas permukaan laut. Karena itulah, lingkungan di sana amat ekstrem. Suhu rata-rata sepanjang tahun berkisar -58,2 derajat celsius.

Kondisi yang ekstrem membuat markas Soviet tersebut jarang dikunjungi. Namun, beberapa orang pernah menyambanginya sesekali.

Konon, beginilah interior markas Soviet, sebagaimana yang ditemukan tim yang bersiap berangkat Ekspedisi Kutub Selatan Queen Maud Land Traverse tahap II pada 1965—1966.

Pada 1965, sekelompok penjelajah Amerika mencapai kutub yang tak dapat diakses sebagai bagian dari ekspedisi Queen Maud Land Traverse. Setelah menemukan markas Soviet dengan patung di atasnya, penjelajah Amerika dilaporkan mengatur ulang posisi patung Lenin sehingga menghadap Washington D.C. alih-alih Moskow.

Patung Lenin pada 1965 menghadap ke arah Moskow.

Selang dua tahun kemudian, manusia kembali mengunjungi markas tersebut. Kali ini, ekspedisi Soviet lainnya kembali mencapai kutub yang tak dapat diakses. Setelah itu, tak ada tamu yang menginjakkan kaki di tanah beku ini hingga 40 tahun kemudian.

Tim N2i

Pada Januari 2007, sebuah tim penjelajah Kanada dan Inggris, termasuk penjelajah Kanada Paul Landry dan warga Inggris Rupert Longsdon, Rory Sweet, dan Henry Cookson, bertolak ke ujung dunia untuk mencapai kutub yang tak dapat diakses.

Tim N2i berhasil mencapai pangkalan sementara Soviet (Pole of Inaccessibility) pada 19 Januari 2007. Patung Lenin yang dipasang pada 1950-an terlihat menyembul dari bawah salju.

Setelah tim berangkat dari pangkalan riset Rusia Novolazarevskaya dan menempuh 1.700 kilometer dengan ski layang-layang tanpa bantuan kendaraan bermotor apa pun, para penjelajah melihat sesuatu yang menyembul dari bawah lapisan salju yang tebal.

Tim Norwegian-US Traverse berfoto bersama patung Lenin.

“Sekitar 32 kilometer di depan, kami melihat titik hitam di cakrawala. Ketika kami makin dekat, titik itu terlihat makin besar sehingga membuat kami ingin menghampirinya. Sebelum itu, saya hanya fokus pada cakrawala,” kata Rupert Longsdon kepada surat kabar Inggris The Independent, segera setelah tim itu mencapai markas lama Soviet yang berdiri di kutub yang tak dapat diakses.

“Begitu kami terpaut sekitar 200 meter dari titik hitam — patung Lenin — kami semua berhenti dan melepas alat ski kami. Kami berpelukan dan berteriak girang dan memutuskan untuk berjalan kali,” kata sang penjelajah.

Patung dada Lenin. Markas Soviet terkubur di bawah lapisan salju.

Ketia tim N2i telah mencapai markas Soviet, stasiun portabel itu hampir sepenuhnya terkubur di bawah salju. Hanya patung Lenin, yang ditaruh penjelajah Soviet pada puncak struktur itu, yang menyembul dari bawah salju.

Hingga kini, tak ada yang tahu apakah patung itu masih terlihat atau sudah tertutup salju sepenuhnya di area yang paling sulit dijangkau di Antarktika.

Stasiun-stasiun yang ditinggalkan oleh penjelajah kutub Soviet ini bisa hilang dan hanyut di lautan kapan pun. Meski begitu, agen intelijen Amerika tetap memburunya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki