Aksi-Aksi Heroik Unit-Unit Pasukan Tahanan Soviet pada Perang Dunia II

Dmitry Baltermanz
Mereka tidak pernah dijadikan sebagai pasukan bunuh diri seperti yang sering dikira orang-orang, tetapi justru sering diandalkan dalam misi-misi berbahaya selama Perang Dunia (PD) II. Banyak dari mereka menerima tanda jasa dan beberapa di antaranya bahkan diangkat menjadi pahlawan.

Kisah unit-unit Pasukan Tahanan Tentara Merah adalah salah satu yang paling dimitoskan dalam sejarah PD II. Banyak yang mengira bahwa mereka hanyalah umpan dalam pertempuran, tidak dipersenjatai dengan baik, sengaja dikorbankan di tengah medan perang, atau ditugaskan untuk membersihkan ladang ranjau supaya bisa dilewati tank-tank Soviet.

Pada kenyataannya, unit yang beranggotakan para prajurit yang tengah menjalani hukuman itu tidak pernah dijadikan sebagai pasukan bunuh diri. Sebagian besar waktu, mereka ikut bertempur berdampingan dengan pasukan reguler. Bagaimanapun, mereka memang diandalkan untuk menjalani misi-misi paling berbahaya.

Hukuman Sementara

Pembentukan unit-unit Pasukan Tahanan pada musim panas 1942 dimaksudkan untuk meningkatkan disiplin militer di Tentara Merah. Pada tahun pertama PD II, Tentara Merah terpaksa mundur ke Stalingrad dan Kaukasus dengan banyak korban jiwa.

Selama perang hingga dibubarkan pada Juni 1945, sekitar 428.000 prajurit telah bergabung ke dalam unit ini. Jumlah itu kurang dari 1,5 persen dari total jumlah personel yang bertugas di Tentara Merah.

Daftar pelanggaran yang dapat mengakibatkan seorang prajurit “direkrut” ke dalam unit ini sangat panjang: takut dalam pertempuran, desersi, pengabaian peralatan militer, sabotase, mabuk-mabukan, dan banyak lagi. Pangkat, medali, dan tanda jasa para shtrafniki ‘terhukum’ (panggilan yang diberikan kepada anggota unit itu) dilucuti. Meski dapat menjabat sebagai komandan junior di unit baru mereka, komandan senior tetap berasal dari unit reguler, bahkan sering kali dipimpin oleh komandan terbaik Tentara Merah.

Jangka waktu maksimum bagi seorang prajurit yang dihukum untuk bertugas di unit Pasukan Tahanan adalah tiga bulan. Setelah itu, pangkat dan semua penghargaannya dipulihkan dan dikembalikan ke unit reguler.

Pembebasan lebih awal bisa diberikan kepada anggota unit Pasukan Tahanan yang terluka setelah berperang dengan sangat berani di medan tempur. Shtrafniki yang seperti itu sering diganjar penghargaan dan bahkan beberapa dari mereka diangkat menjadi Pahlawan Uni Soviet.

Prestasi Letnan Yermak

Letnan Vladimir Yermak berakhir di unit Pasukan Tahanan karena kelalaiannya yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Saat membersihkan senjata yang berpeluru, dia tak sengaja menarik pelatuk sehingga menembak seorang prajurit yang sedang lewat.

Letnan Vladimir Yermak.

Sepuluh hari setelah dikirim ke batalyon unit Pasukan Tahanan, Yermak yang saat itu berusia 19 tahun melakukan aksi heroiknya yang pertama sekaligus terakhir. Pada 19 Juli 1943, selama operasi pengintaian di Leningrad, ia merangsek ke bunker Jerman dan menutupi senapan mesin musuh dengan badannya.

Komandan Batalyon Serangan Terpisah ke-14 Mayor Lesik menganugerahi Yermak Orde Bendera Merah secara anumerta dan segera merekomendasikannya secara resmi untuk diangkat sebagai Pahlawan Uni Soviet. Alhasil, Yermak menerima menerima gelar mulia itu pada 21 Februari 1944.

Aksi Heroik Pasukan Tahanan ke-65

Pada 14 Desember 1943, unit Pasukan Tahanan ke-65 bersama batalion pelatihan Divisi Pengawal Bersenapan ke-72 menerobos masuk ke desa Sotninsky Khutor, Ukraina tengah, yang diduduki Jerman. Menghadapi tembakan musuh yang ganas, mereka pun terpaksa mundur. Namun sekelompok shtrafniki  terpisah dari pasukan.

Pasukan Tentara Merah yang mundur akhirnya berhasil menahan pasukan Jerman selama tiga hari tiga malam dan melancarkan serangan balasan ke desa itu. Terlepas dari kegagalan misi secara keseluruhan, mereka berhasil membebaskan para shtrafniki.

Usai pertempuran yang heroik itu, sekitar 30 anggota unit Pasukan Tahanan ke-65 dipindahkan ke unit reguler. Lima anggota yang tewas di medan perang dianugerahi Ordo Perang Patriotik (kelas pertama dan kedua) secara anumerta.

Pengorbanan Besar Pasukan Bunyadov

Di tengah pertempuran sengit yang berlangsung di Polandia pada 14 Januari 1945, Kompi Tahanan ke-123 yang dipimpin Kapten Ziya Bunyadov diperintahkan untuk merebut sebuah jembatan di atas Sungai Pilica yang berada di belakang Jerman agar tidak diledakkan oleh sang musuh.

Kapten Ziya Bunyadov (kiri).

Setelah bersusah payah melewati beberapa garis pertahanan, kompi tersebut berhasil merebut jembatan dan menahannya selama beberapa hari sampai bala bantuan tiba. Dengan mengorbankan hingga 90 persen anggota kompi tersebut, pasukan reguler Soviet dapat memasuki wilayah penting dan strategis yang terletak di antara Sungai Vistula dan Sungai Oder.

“Hanya 47 dari 670 pejuang yang selamat dari pertempuran itu. Berapa banyak prajurit yang saya kubur dan berapa banyak surat yang saya tulis untuk keluarga mereka? Bagi mereka yang selamat, semua dianugerahi tanda jasa militer. Saya sendiri dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet pada 27 Februari 1945” kenang Bunyadov.

Unit-Unit Pasukan Tahanan Arktik

Terletak di ujung utara Soviet, punggung bukit Musta-Tunturi adalah satu-satunya front Soviet-Nazi yang dapat menghentikan serangan musuh sejak hari pertama perang. Selama lebih dari tiga tahun, garis depan di sini tetap tak beranjak.

Pasukan Soviet melintasi punggung bukit Musta-Tunturi.

Kemudian, pada 10 Oktober 1944, pasukan Soviet melancarkan serangan besar-besaran terhadap benteng pertahanan Jerman di punggung bukit. Kompi Tahanan ke-614 Armada Utara yang berkekuatan 750 (seukuran dengan batalion) menyerang posisi musuh dari Laut Barents, mengalihkan mereka dari serangan utama Soviet.

Di bawah tembakan senapan mesin berat, prajurit infanteri memanjat dinding tipis dan melalui kawat berduri. Akibatnya, sekitar 70 persen personel kompi itu tewas.

Selama pertempuran di Musta-Tunturi, tiga prajurit mengorbankan hidup mereka dengan menutupi senapan mesin musuh dengan tubuh mereka, sama seperti yang telah dilakukan Letnan Yermak sebelumnya. Salah satunya adalah Sersan Aleksandr Danilchenko, komandan peleton senapan mesin Pasukan Tahanan ke-614.

Inilah lima pahlawan muslim Soviet semasa PD II

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki