Siapa Saja Penguasa Rusia yang Merelakan Takhtanya?

Klavdiy Lebedev, Shakko (CC BY-SA 3.0), Domain Publik
Dalam sejarah Rusia, hanya ada lima penguasa yang mengundurkan diri secara resmi. Tsar pertama Rusia bahkan pernah dua kali naik turun takhta.

1. Ivan yang Mengerikan (1530–1584)

Ivan yang Mengerikan, karya Klavdiy Lebedev, 1916.

Ivan Vasilyevich (1530–1584) menandatangani pengunduran diri pertamanya pada 1565, saat dia mengantarkan kebijakan oprichnina (represi terhadap para bangsawan atau aristokrasi Rusia) di Rusia. Meskipun telah melepaskan tahtanya, tidak ada yang dinobatkan sebagai tsar untuk menggantikannya dan Ivan tidak pernah benar-benar menyerahkan kekuatan yang nyata apa pun. Sebaliknya, ketika tinggal di kediaman yang terletak di dekat Moskow, tak jauh dari Kremlin, dia tetap bertindak sebagai pengambil keputusan dan mengeluarkan berbagai aturan yang tidak populer dan keras untuk menghadapi para boyar (bangsawan) yang menentangnya.

Simeon Bekbulatovich (?–1616).

Ivan turun takhta untuk kedua kalinya pada September 1575, ketika ia menobatkan Pangeran Tatar Simeon Bekbulatovich–khan dari Kekhanan Qasim, pengikut Rusia. Setelah menerima takhta, Simeon bepergian dengan kereta kerajaan dan dikawal para pengawal kerajaan, serta tinggal di kediaman kerajaan, sementara, Ivan puas dengan peran sebagai "bangsawan biasa". Namun, tidak ada koin bergambar wajah Simeon yang dicetak dan terlebih lagi, Ivan tetap memegang kendali atas perbendaharaan.

Mengapa demikian? Menurut sejarawan, alasannya masih sama dengan ketika pertama kali  dia melepaskan takhtanya. Pengabaian tugas dan tanggung jawab kerajaannya "melepaskan" tangan Ivan yang Mengerikan untuk melaksanakan eksekusi dan reformasi. Pada 1576, Ivan kembali menduduki takhta dan mengangkat Simeon Bekbulatovich menjadi komandan militer di pasukannya, serta memberi Simeon kendali atas kota besar Tver. Simeon hidup 32 tahun lebih lama dari Ivan.

2. Raja Władysław IV Waza dari Polandia (1595–1648)

Władysław IV Waza (1595–1648)

Władysław IV Waza (Ladislaus IV Vasa) (1595–1648), putra Raja Polandia Zygmunt III Waza (Sigismund III Vasa), memperoleh klaim atas takhta Rusia sebagian besar secara kebetulan. Ketsaran Moskow pada awal abad ke-17 dirusak oleh Masa Kekacauankrisis dinasti Rurik setelah kematian putra Ivan yang Mengerikan, Fyodor Ioannovich, yang tidak meninggalkan pewaris takhta. Pada 1610, pasukan Persemakmuran Polandia-Lithuania mengancam akan menduduki Moskow. Pemerintahan boyar (yang disebut Tujuh Boyar) yang memerintah Moskow setelah Tsar Vasili Shuisky digulingkan secara paksa, mengundang Pangeran Władysław ke takhta Rusia untuk menjaga kemerdekaan kaisar dari Polandia.

Zygmunt III, ayah Władysław, bersikeras bahwa Rusia harus mengadopsi agama Katolik. Para bangsawan tidak berani mengusulkan ini kepada rakyat mereka karena konsekuensinya akan mengerikan. Pada Agustus 1610, para bangsawan dan orang-orang terhormat diam-diam "memilih" Władysław sebagai tsar, tetapi dia tidak pernah memerintah di Rusia. Pada 1616, empat tahun setelah pasukan Polandia diusir dari Rusia, Władysław mencoba merebut Moskow, tetapi tidak berhasil. Dia terus menggunakan gelar dan bahkan mahkota Tsar Moskow, tetapi menolak semua klaimnya pada 1634, di bawah ketentuan Perjanjian Perdamaian Polyanovsky yang mengakhiri perang lain antara Rusia dan Polandia.

3. Kaisar Pyotr III (17281762)

Pyotr III

Pyotr Fyodorovich (Adipati Karl Peter Ulrich von Schleswig-Holstein-Gottorf) adalah putra dari putri Pyotr I, Anna dan Karl Friedrich, Herzog von Schleswig-Holstein-Gottorp. Pyotr Fyodorovich sebenarnya tidak pernah ingin memerintah Rusia. Dia berharap mendapatkan takhta Swedia, yang menjadi haknya. Menurut perjanjian pernikahan yang dibuat di bawah Pyotr I, putra Anna (yang meninggal segera setelah dilahirkan) juga memiliki klaim atas takhta Rusia.

Putri Pyotr yang Agung lainnya, Elizaveta Petrovna (17091762), telah menerima takhta Rusia. Akan tetapi, ia tertarik untuk menyerahkan takhta kepada keponakannya dengan maksud agar takhta Rusia kembali diwarisi oleh keturunan Pyotr, bukan saudara laki-lakinya Ivan ( Elizaveta didahului di atas takhta oleh sepupunya Anna Ioannovna). Maka, Pyotr pun datang ke Rusia pada 1742, lalu menikah dengan sepupu keduanya Sophie dari Anhalt-Zerbst (yang dikenal sebagai Ekaterina II pada masa mendatang) pada 1745.

Setelah kematian Elizaveta Petrovna, Pyotr Fyodorovich mewarisi takhta Tsar Rusia. Akan tetapi, penguasa berusia 33 tahun itu dikutukdia bertingkah kekanak-kanakan dan pemarahsama sekali tidak siap untuk kehidupan dewasa. Selain itu, Pyotr juga kecanduan alkohol dan tidak pernah berhenti memainkan tentara mainan. Dia memerintah selama lebih dari enam bulan dan kemudian digulingkan melalui kudeta yang diorganisasi istrinya sendiri, Ekaterina. Dia menandatangani pengunduran diri resmi dan bahkan menulis surat kepada istrinya untuk memohon agar diizinkan pergi ke Eropa. Namun, itu tidak membantu. Beberapa hari setelah pengunduran dirinya, Pyotr Fyodorovich dibunuh oleh para konspirator di sebuah istana negara di Ropsha. Penyebab pasti kematiannya masih tidak jelas hingga hari ini.

4. Adipati Agung Konstantin Pavlovich (17791831)

Adipati Agung Konstantin Pavlovich

Meskipun diproklamasikan sebagai tsar Rusia, Konstantin (Konstantin), putra kedua Kaisar Pavel I (17541801), tidak pernah dimahkotai dan memerintah karena berada di Polandia selama masa "pemerintahannya". 

Di bawah Undang-undang Suksesi yang dibawa oleh Pavel I, Konstantin akan mewarisi takhta setelah kematian saudaranya Aleksandr (17771825) jika sang pewaris takhta tidak memiliki ahli waris laki-laki. Aleksandr tidak pernah memiliki anak laki-laki dan kedua putrinya meninggal saat masih kanak-kanak.

Ketika Aleksandr meninggal pada Desember 1825, secara resmi Konstantin yang akan naik tahta. Namun, Konstantin telah melepaskan klaim takhtanya pada 1823, menyatakan bahwa dia tidak mungkin memerintah Rusia. Selanjutnya, pada 1820, Konstantin menceraikan istri pertamanya Anna Fyodorovna, putri née Juliane Henriette dari Saxe-Coburg dan menikahi bangsawan Polandia Joanna Grudzińska. Joanna tidak terlalu berdarah bangsawan, suatu keadaan yang membuat anak-anaknya tidak bisa mengklaim takhta Rusia. Namun, hal itu tidak menghilangkan hak Konstantin. Namun demikian, Putra Mahkota Konstantin, yang tinggal bersama Joanna di Warsawa (dia adalah komandan tentara Rusia di Polandia), menyebut pernikahan kedua Konstantin-lah yang menjadi alasan pengunduran dirinya.

Atas perintah Aleksandr, pelepasan klaim takhta Konstantin dirahasiakan. Untuk beberapa alasan, bahkan Nikolai Pavlovich (17961855), putra bungsu Pavel dan calon Kaisar Nikolai I, tidak mengetahuinya. Alhasil, sebagai akibat dari intrik istana, beberapa pejabat senior yang dipercayakan oleh mendiang Kaisar Aleksandr mengenai pengunduran diri secara rahasia itu menunda proklamasi Konstantin sebagai kaisar. Setelah berita kematian Kaisar Aleksandr tiba di Sankt Peterburg pada 27 November, tentara, pengawal, dan pejabat mulai bersumpah setia kepada Konstantin. Koin bergambar wajahnya pun dicetak, yang kemudian dikenal sebagai ‘rubel Konstantin’. Saat ini, koin tersebut sangat langka di pasar koin kuno.

Nikolai juga bersumpah setia kepada Konstantin dan mengirim surat ke Warsawa meminta kakak laki-lakinya datang ke Sankt Peterburg untuk naik takhta. Konstantin menjawab, dia telah melespakan klaim atas takhtanya dan tidak akan pergi ke Sankt Peterburg. Setelah menerima berita ini dan sempat meragukan hal itu, Nikolai akhirnya naik takhta. Pada hari-hari pemproklamasian takhtanya, bangsawan Rusia melakukan pemberontakan yang dikenal sebagai Pemberontakan Desembris (14 Desember 1825), yang berhasil dibendung oleh Kaisar Nikolai, yang baru menduduki takhta.

Secara resmi, Konstantin adalah Kaisar Rusia selama sekitar tiga minggu meskipun tidak menerima tahta atau dimahkotai. Namun, dalam proklamasi kenaikan takhta, Nikolai Pavlovich diangkat sebagai kaisar sejak kematian Aleksandr pada 19 November 1825. Oleh karena itu, Konstantin tidak terdaftar di antara para kaisar Rusia. Enam tahun setelah kejadian ini, pada 1831, dia meninggal mendadak akibat menderita kolera.

5. Kaisar Nikolai II (18681918)

Nikolai Romanov, saat tak lagi menjadi kaisar, di Tsarskoye Selo, 1917.

Pada tahun 1917, Rusia berada dalam cengkeraman revolusi. Para pekerja melancarkan pemberontakan Sankt Peterburg, merebut kota, dan menggulingkan rezim kekaisaran. Duma Negara (majelis rendah) dibubarkan dan Dewan Menteri kehilangan kekuasaannya. Kaisar Nikolai II, yang saat itu baru kembali dari garis depan, mencoba masuk ke kediamannya di Tsarskoye Selo, dekat Sankt Peterburg. Namun, para pendukung revolusi memblokir jalur kereta api sehingga sang kaisar mengalihkan tujuanya ke Pskov.

Di kereta, Nikolai menerima laporan mengenai situasi terkini dari para pejabat dan komandan militer. Di bawah tekanan psikologis yang kuat dari Komandan Front Utara Jenderal Nikolai Ruzsky, Nikolai menyetujui pembentukan Pemerintahan Sementara di Rusia dan mengeluarkan instruksi bahwa proklamasi harus diterbitkan untuk tujuan tersebut. Keesokan harinya, banyak pejabat senior dan komandan militer mulai memohon kepada Kaisar untuk turun takhta guna menenangkan situasi. Pada 2 Maret 1917, Kaisar Nikolai II turun takhta atas nama dirinya dan putranya–penerus takhta Kaisar Alekseidemi saudaranya Adipati Agung Mikhail Aleksandrovich.

6. Adipati Agung Mikhail Aleksandrovich (18781918)

Adipati Agung Rusia Mikhail Aleksandrovich, adik laki-laki kaisar terakhir Rusia.

Ketika politisi Alekandr Guchkov dan Vasily Shulgin, yang telah menerima pengunduran diri Nikolai II, tiba di Petrograd (Sankt Peterburg) pada 3 Maret 1917 dini hari, para pekerja pendukung revolusi yang menemui mereka di stasiun kereta sangat marah saat mengetahui mengetahui Nikolai tidak “sepenuhnya” turun takhta, tetapi malah mewariskannya kepada saudaranya. Para pekerja menuntut pembentukan republik dan hampir membunuh Guchkov dan Shulgin.

Pada pagi harinya, Adipati Agung Mikhail Aleksandrovich mengadakan pertemuan di apartemennya dengan para menteri utama Pemerintahan Sementara, politisi, dan pemimpin militer terkemuka lainnya. Semua orang mencoba membujuk sang adipati agung untuk tidak mengambil alih kekuasaan dan menandatangani surat Pernyataan untuk Tidak Menerima Takhta. Menurut dokumen itu, Majelis Konstituante akan menentukan bentuk pemerintahan Rusia. Beberapa bulan kemudian, Pemerintah Sementara mengeluarkan instruksi yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun dari Keluarga Kekaisaran yang berhak menjadi anggota Majelis Konstituante. Menyusul pelepasan takhta Mikhail Aleksandrovich, Keluarga Romanov, sejalan dengan hukum yang mereka keluarkan sendiri, kehilangan klaim mereka atas takhta Rusia.

Pada 4 Maret 1917, kedua proklamasi pengunduran diri Nikolai dan Mikhail Aleksandrovich diterbitkan pada waktu bersamaan dan kekuasaan di Rusia diserahkan kepada Pemerintahan Sementara.

Meski tak pernah menjadi aturan resmi, pola rambut para pemimpin Rusia ini telah berulang sejak 1825, tanpa pengecualian.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki