Lima Komandan Militer Asing yang Membawa Kejayaan bagi Rusia

Koleksi Pribadi Museum Hermitage, Rybinsk Museum-Preserve, Domain Publik
Setelah kehilangan kesempatan untuk membangun karier di kampung halamannya, para perwira asing ini memutuskan hijrah ke Rusia dan memanen banyak pujian atas bakat dan kecakapan militer mereka.

1. Patrick Gordon

Sebelum mengabdi untuk Rusia, Patrick Leopold Gordon dari Auchleuchries bertugas di Swedia dan Polandia. Duta Besar Rusia untuk Polandia Zamatnya Leontyev sangat terkesan dengan keahliannya dalam perang Rusia-Polandia (1645-1667) sehingga ia berhasil meyakinkan lelaki asal Skotlandia itu untuk bergabung dengan barisan Tsar Aleksey Mikhailovich. 

Setelah bertahun-tahun beperang melawan Turki dan Tatar Krimea di perbatasan selatan Rusia, Gordon menjadi salah satu sekutu terdekat Pyotr I. Ia membantu sang tsar mewujudkan reformasi besar-besaran di negara itu. Seorang ahli teori dan ilmuwan militer yang brilian, Gordon menjadi bapak baptis dari para penjaga Rusia. Dia melatih anggota penjaga pertama dalam semua aspek, mulai dari berbagai jenis formasi hingga pembangunan benteng, pendirian kamp, dan sebagainya.

Dalam perannya sebagai salah satu komandan, lelaki Skotlandia itu mengambil bagian dalam operasi militer Azov (1695 – 1696), yang merupakan langkah pertama Rusia untuk memperkuat posisinya di wilayah Laut Hitam.

Ketika Gordon meninggal dunia pada 1699, Pyotr I menyampaikan hal berikut pada pemakamannya: "Aku memberinya sedikit tanah, sementara dia telah memberiku seluruh wilayah itu, bersama dengan Azov."

2. Christopher Minich

Pada 1721, ketika Pangeran Saxon Burkhard Christoph von Munich menerima undangan untuk bergabung dengan kedinasan Rusia di bawah Pyotr I, dia pernah menjabat sebagai insinyur militer di empat negara Eropa dan terlibat dalam banyak perang dan konflik. Di Rusia, ia yang kemudian mengadopsi nama Christopher Antonovich Minich, kesibukan pertama yang ia jalani adalah sebagai instruktur sipil, membangun jalan, pelabuhan, dan saluran jalan pintas. 

Ketika Anna Ioannovna dinobatkan sebagai Permaisuri Rusia pada 1730, Minich ditugaskan untuk mereformasi tentara. Christopher Antonovich melakukan tugas besar-besaran untuk membenahi tentara Rusia, di antaranya mendirikan garnisun pelatihan dan rumah sakit untuk yang terluka, serta mendirikan Korps Kadet Gentry, yang merupakan korps kadet pertama di Rusia. Pada masa kerjanya, Kekaisaran Rusia mendapatkan resimen prajurit berkuda dan ranjau pertamanya, serta memiliki 50 benteng yang dibangun dengan kuat.

Minich juga membuktikan kecakapannya sebagai komandan militer. Pada 1736, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Rusia memasuki ibu kota Krimea, Bakhchisaray, di bawah komandonya. Pada 28 Agustus 1739, sang komandan yang membawa 60.000 pasukan berhasil membuat tentara Ottoman yang berkekuatan 90.000 orang bertekuk lutut. Dalam pertempuran di Stavuchany ia hanya kehilangan 13 orang, sementara pihak musuh kehilangan lebih dari seribu orang. Kemenangan inilah yang mengakhiri mitos "Turki yang tak terkalahkan" dan menandai awal dari serangkaian keberhasilan militer abad ke-18 melawan Turki. 

Sebagai seorang prajurit inti, Minich tidak terlalu mahir berurusan dengan intrik istana. Pada 1741, atas perintah Permaisuri Elizabeth, dia diasingkan ke Ural dan menghabiskan 20 tahun di pengasingan. Pada 1762, Kaisar Pyotr III memboyong kembali Minich yang telah berusia 78 tahun ke Sankt Peterburg. Di kemudian hari, sang penguasa Rusia yang boros dan tak terduga berhasil membuat seluruh pengiringnya berbalik melawannya. Setelah berhasil digulingkan,  tampuk kekuasaan beralih ke tangan sang istri, Ekaterina II.

Selama kudeta berlangsung, Minich yang berhutang budi kepada Pyotr tetap setia dan berpihak kepada sang kaisar. Namun, alih-alih menghukumnya, sang permaisuri malah mengangkatnya sebagai gubernur Siberia. Mantan Marsekal Lapangan Jerman itu menjabat sebagai gubernur Siberia hingga menghembuskan napas pada 1767. 

3. Samuil Greig

Seperti banyak orang Skotlandia yang telah mendahului dan mengikuti jejaknnya, Samuil Greig tak menemui kemudahan dalam meniti karier di jajaran Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Ketika mengetahui bahwa Rusia merekrut perwira angkatan laut asing yang cakap, dia tidak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan.

Selama Pertempuran Chesma (1770), salah satu yang paling terkenal dalam sejarah Rusia, Greig memerintahkan ‘pasukan badai’ melakukan serangan yang menentukan pada armada Ottoman. Dalam pertempuran berikutnya, Turki kehilangan 15 dari 16 kapal baris, enam fregat , dan 11.000 tentara dan pelaut.

Greig membuktikan kecakapannya tidak hanya dalam pertempuran, tetapi juga dalam kontribusinya untuk Armada Kekaisaran Rusia. Berkat dia, ilmu artileri kapal berkembang, diikuti dengan pengembangan jenis kapal baru yang bagian bawahnya didesain ulang menggunakan lembaran tembaga sehingga memungkinkan pelayaran yang lebih mulus. 

4. Roman Crown

Pada 1788, letnan Skotlandia berusia 34 tahun dari Royal Navy Inggris, Robert Crown, memulai pengabdiannya di Armada Baltik Rusia. Menerima nama Roman Vasilievich, ia dipercaya untuk mengomandoi kapal dayung 'Mercury'. Tak lama setelah bergabung, ia pun langsung memperoleh kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dalam perang dengan Swedia yang pecah pada tahun yang sama dan berlangsung hingga dua tahun mendatang. 

Crown memiliki ketegasan dan keberanian yang memungkinkannya untuk melakukan penyerangan pada waktu yang tepat. Dengan hanya 24 meriam yang dimilikinya, ia berani menghadapi fregat 44 meriam 'Venus', serta kapal perang 64 meriam 'Rättvisan'. Dalam pertempuran untuk Vyborg pada 3 Juli 1790, Merkuriusnya berhasil menenggelamkan 12 kapal dayung Swedia. 

Perang berikutnya melawan Prancis berhasil membawa karier Crown ke tingkatan baru. Orang Skotlandia itu membuktikan kemampuannya dalam invasi Inggris-Rusia ke Belanda, serta blokade laut di pelabuhan Prancis dan Belanda. Pada 1814, Roman Crown yang saat itu menjabat sebagai Wakil Laksamana dianugerahi kehormatan khusus, yaitu membawa Raja Prancis Louis XVIII kembali dari pengasingannya di Inggris dengan kapal skuadronnya.

5. Login Geyden

Pada 1795, ketika tentara Prancis menduduki Belanda dan memaksa pemimpinnya Wilhelm V ‘Pangeran Oranye’ melarikan diri. Karena tetap setia kepada pangeran yang diasingkan, Perwira Angkatan Laut Pangeran Lodewijk-Sigismund Gustaaf van Heyden dijebloskan ke penjara selama beberapa bulan. Setelah menghabiskan masa hukumannya, sang perwira mengerti bahwa akan berbahaya jika dia tetap tinggal tanah kelahirannya. Oleh karena itu, dia pun bersumpah setia kepada Rusia. 

Menerima nama Login Petrovich Geyden, dia membawa kejayaan untuk Rusia dalam perang dengan Swedia (1808 – 1809), dan juga kemenangan dalam perang dengan Prancis, setelahnya. Namun, ia mencapai puncak kariernya setelah berhasil menundukkan armada Turki-Mesir dalam Pertempuran Navarino pada1827.

Skuadron yang dikomandoi oleh Geyden, yang pada saat itu telah naik pangkat menjadi Counter Admiral (setara dengan pangkat laksamana belakang), tidak hanya selamat dari serangan musuh, tetapi juga berhasil menghancurkan inti dan sayap kanan kapal musuh. Kemenangan itu memainkan peran utama dalam perjuangan pembebasan Yunani. Atas aksi heroiknya, Yunani mengabadikan nama Geyden menjadi nama jalan di Athena, sementara kota Pilos memiliki monumen dan perangko perayaan yang dibuat untuk memperingati seratus tahun pertempuran tersebut.

Inilah sepuluh orang Asing dan mantan musuh Soviet yang diangkat menjadi pahlawan Negeri Tirai Besi.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki