‘Monastyr’: Operasi Intelijen Tersukses Soviet Selama Perang Dunia II

Kementerian Pertahanan Federasi Rusia, Foto arsip, Vitold Muratov (CC BY-SA 3.0), Roman Kadygrobov (CC BY-SA 4.0)
Kelihaian “permainan radio” yang dimainkan agen ganda Soviet membuat Jerman kehilangan puluhan mata-mata, jutaan rubel, dan kemenangan dalam pertempuran paling penting di front Timur.

Suatu malam pada musim dingin (Desember) di akhir 1941, seorang pengkhianat Soviet mendatangi tentara Jerman yang berada di dekat Kota Mozhaysk, Moskow Oblast. Ia mengaku mewakili gereja anti-Bolshevik dan kelompok simpatisan monarki bernama 'Prestol' (Takhta), dan meyampaikan kesediannya untuk membantu Jerman menjatuhkan pemerintahan Soviet.

Pada kenyataannya, lelaki itu adalah agen intelijen Soviet Aleksandr Demyanov, yang tengah menjalankan operasi ‘Monastyr’ (Biara), salah satu operasi intelijen paling sukses dalam sejarah Soviet. 

Calon Ideal

Dengan penampilannya yang menarik, cerdas, berpendidikan, dan penguasaan bahasa Jerman yang sangat baik, Demyanov sangat cocok untuk ditempatkan di belakang garis musuh. Di Moskow, tak banyak yang mengetahui bahwa Demyanov yang berasal dari kalangan bangsawan telah direkrut oleh intelijen Soviet pada awal 1930-an. 

Mata-mata itu memiliki latar belakang yang bagus. Ibu dan kakeknya dikenal baik di kalangan para emigran kulit putih di Jerman, sementara kerabatnya yang lain tinggal di Italia yang ramah terhadap Reich Ketiga. Selain itu, Demyanov juga sering menghadiri resepsi di kedutaan besar negara asing di Moskow, tempat ia menarik perhatian perwakilan intelijen asing. 

Pada Juli 1941, dinas intelijen Soviet menciptakan organisasi Prestol fiktif, yang dikatakan tengah menunggu kedatangan pasukan Jerman di ibu kota Soviet. Pada organisasi itu, Demyanov menggunakan nama samaran "Heine". 

Tak Sesuai Rencana

Menurut rencana awal operasi Monastyr, Demyanov akan dikirim ke Berlin dan menyusup ke lingkaran emigran Rusia yang bekerja sama dengan Jerman, serta menjalin kontak dekat dengan aparat intelijen Jerman. 

Namun, rencana itu tak berjalan sebagaimana mestinya. Selain menjalani pemeriksaan yang panjang dan menyeluruh, dia bahkan dihadapkan dengan regu tembak. Pada akhirnya, Jerman memutuskan untuk menggunakannya sebagai mata-mata mereka di Soviet. 

Setelah beberapa bulan menjalani pelatihan di sekolah intelijen militer Jerman di Abwehr, Demyanov diberi nama baru, Flamingo, dan dikirim kembali ke Soviet. 

Permainan Dimulai

Demyanov sudah lama dianggap mati oleh Moskow. Ketika ia tiba-tiba muncul kembali, operasi Monastyr dialihkan menjadi "permainan radio" dengan Jerman. 

Hal pertama yang harus dilakukan adalah medapatkan kepercayaan Jerman dan membuktikan efektivitas gerakan bawah tanah anti-Bolshevik. Untuk itu, Flamingo melaporkan rencana Prestol yang akan melakukan sabotase di belakang garis Soviet. Tidak lama kemudian, surat kabar Soviet memberitakan pemboman fasilitas industri di Ural dan Siberia yang dilakukan oleh kaki tangan Nazi. Itu tentu saja tidak benar, tetapi kepercayaan Jerman atas kesetiaan Flamingo benar-benar meningkat berkali-kali lipat sejak saat itu. 

Agen yang Tak Tergantikan

Pada peringatan operasi Barbarossa (sebutan invasi tentara Nazi Jerman di Soviet) 22 Juni 1942, Luftwaffe (divisi perang udara Jerman) berencana melakukan serangan habis-habisan sebagai hadiah untuk Hitler. Demyanov ditugaskan untuk melakukan survei pertahanan antiudara di ibu kota. Segera setelah itu, Demyanov mengirimkan telegram kepada Nazi: "Kota ini berisi banyak pesawat tempur dan artileri antipesawat. Teknologi baru akan diterapkan dalam beberapa hari mendatang, yang memberikan kapasitas yang luas untuk mencegat pesawat musuh di ketinggian yang lebih tinggi." Jerman akhirnya membatalkan serangan itu. 

Di pihak Jerman, Flamingo secara bertahap menjadi salah satu agen Abwehr paling berharga di front Timur. Sementara di pihak Soviet, Demyanov akhirnya ditempatkan di Komisariat Rakyat untuk Komunikasi, dan kemudian berhasil menjadi seorang perwira di Markas Besar Soviet. 

Jerman diberi aliran informasi palsu yang diracik dengan beberapa kebenaran dari Markas Besar agar semuanya terlihat asli. Flamingo berhasil mengidentifikasi mata-mata Jerman di Soviet. Mereka akhirnya ditangkap dan beberapa di antaranya ikut bermain dalam "permainan radio" dengan mantan tuan mereka. Dengan pendekatan ini, lebih dari 20 mata-mata Jerman ditangkap dan jutaan rubel disita. 

Operasi Besar 

Operasi Monastyr memainkan peran penting dalam menentukan hasil pertempuran besar di sepanjang front Timur. Pada 4 November 1942, Flamingo mengatakan kepada Jerman bahwa Tentara Merah akan melakukan serangan balasan di Kaukasus Utara dan di dekat Rzhev, bukan di Stalingrad. Alhasil, Jerman mengirim pasukan mereka ke daerah-daerah itu. 

Serangan tentara Soviet di dekat Rzhev, yang dikenal sebagai operasi Mars, gagal. Tetapi pengepungan Angkatan Darat ke-6 Soviet di dekat Salingrad benar-benar mengejutkan musuh. 

"(Marsekal) Zhukov, yang tidak mengetahui tentang permainan radio ini harus membayar mahal. Dia kehilangan ribuan tentara dibawah komandonya di Rezhev," kenang Pavel Sudoplatov, atasan langsung Demyanov. "Dalam memoarnya, Zhukov mengakui bahwa hasil dari operasi di Rhzev tidak memuaskan. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa Jerman telah diperingatkan tentang serangan itu sehingga mengirimkan banyak pasukan ke sana," tambahnya. 

Informasi palsu yang disampaikan Flamingo juga memainkan peran utama dalam memaksa Jerman untuk menunda serangan mereka di dekat Kursk, yang memberikan kesempatan berharga bagi Tentara Merah untuk mempersiapkan diri. 

Pada 1944, tentara Soviet bergerak maju. Operasi Monastyr ditutup karena sudah tidak lagi dibutuhkan. Menurut cerita, Demyanov dipindahkan ke pos tidak penting, tanpa akses ke informasi sensitif dan meninggalkan permainan radio untuk selamanya. 

Menarikanya, Aleksandr Demyanov tidak hanya dianugerahi tanda jasa Orde Bintang Merah (penghargaan untuk pencapaian signifikan dalam pertahanan Soviet), tetapi juga Salib Besi Ksatria (penghargaan tertinggi dalam pasukan militer dan paramiliter Nazi) secara in absentia. Hingga perang berakhir, Jerman tetap percaya bahwa hati dan jiwa Flamingo adalah milik Reich Ketiga. 

Sekitar 300.000 orang Jerman tinggal di Siberia. Mereka berbicara bahasa Jerman di rumah, memasak hidangan Jerman, dan merayakan pernikahan dengan tradisi yang sama seperti di Bayern Jerman pada 200 tahun lalu. Baca lima fakta menarik tentang etnis Jerman yang tinggal di Siberia!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki