Bagaimana Soviet Pulih Setelah Kehilangan Hampir 27 Juta Orang Selama Perang Dunia II?

Vsevolod Tarasevich / MAMM / MDF / russiainphoto.ru
Perang Dunia II merenggut nyawa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pemerintah pun melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kesenjangan demografis.

Uni Soviet tidak langsung mengakui skala kerugiannya akibat Perang Dunia (PD) II. Perkiraan resmi jumlah kematian warga Soviet terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Di bawah pemerintahan Joseph Stalin tercatat hanya sekitar tujuh juta nyawa yang melayang. Namun angka itu terpaut jauh dari yang dicatat oleh pemerintahan Vladimir Putin, yaitu mencapai 26,6 juta jiwa (jumlah ini masih terus direvisi)

Beginilah perubahan perkiraan resmi jumlah korban yang ditanggung Uni Soviet akibat Perang Dunia II dari 1946 hingga 2015.

Banyaknya nyawa yang terenggut akibat perang sungguh sulit untuk dipercaya, tapi menutupi kesenjangan demografis yang dihasilkan jauh lebih sulit. 

Lalu bagaimana Soviet memecahkan masalah itu? Pada kenyataanya masalah tersebut belum teratasi, bahkan setelah lebih dari 75 tahun berlalu negara ini pun masih belum pulih.

Negara Perempuan

Pertama, situasinya diperparah oleh fakta bahwa kerugian tidak menyebar secara merata pada semua kelompok umur. Sebagian besar korban yang tewas merupakan penduduk usia wajib militer (17 – 55, yang juga dianggap sebagai usia subur). Kedua, laki-laki adalah yang paling banyak menjadi korban sehingga terjadi ketidakseimbangan gender yang besar dalam populasi.

"Ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan di Rusia ternyata lebih besar daripada di Ukraina atau Belarus, yang sepenuhnya diduduki selama perang. Sementara di RSFSR (Republik Sosial Federasi Soviet Rusia) kira-kira hanya seperempat dari populasi yang berada di bawah pendudukan," ujar Nikolai Savchenko, seorang peneliti kerugian manusia.

Menurut sensus pada 1959, jumlah perempuan 18,43 juta lebih banyak daripada laki-laki, dan dengan itu angka persalinan telah berkurang setengahnya. "Bahkan Jerman atau Polandia, yang mengalami kerugian signifikan selama PD II,  tidak memiliki perbedaan seperti itu," jelas Mikhail Denisenko, seorang ahli di Carnegie Moscow Centre dan Wakil Direktur Institut Demografi Higher School of Economics. Migrasi juga tidak mampu menyelamatkan — tidak banyak orang bermimpi pindah ke Soviet dan tidak banyak yang diizinkan untuk melakukannya.

Bagaimana Mereka Menghadapinya?

Kemudian, di Soviet pasca perang, ketidakseimbangan menurun secara signifikan. Pada akhir 1980-an, pertumbuhan populasi sudah pada tingkat yang layak, meskipun tidak merata. Misalnya, 2 juta 280 ribu bayi lahir di negara itu pada 1980-an — lebih dari yang diharapkan dari semua perkiraan.

Lompatan sementara ini sepenuhnya disebabkan oleh dua kondisi signifikan. Salah satunya bahkan telah diberlakukan sebelum awal PD II. Pada 1936, Stalin mengeluarkan dekrit tentang larangan aborsi, yang juga mempertimbangkan paket langkah-langkah untuk menyediakan dukungan keuangan bagi para ibu. Kemudian diikuti oleh dekrit rahasia oleh Narkomzdrav (pendahulu Kementerian Kesehatan) untuk mencabut semua alat kontrasepsi dari toko.

Semua itu terlepas dari kenyataan bahwa Rusia adalah negara pertama di dunia yang melegalkan pengakhiran kehamilan ketika diminta oleh seorang wanita (di negara-negara Eropa hal ini baru terjadi setelah PD II, pada 1950-an). Pada 1920, revolusioner Nadezhda Krupskaya, yang merupakan istri Lenin, menulis: "Para dokter dan bidan berspekulasi tentang aborsi. Aborsi murah yang dijahit oleh para penjahit, pelayan dan wanita lainnya biasanya dilakukan oleh individu yang tidak kompeten dan melibatkan risiko besar ... Penghapusan janin yang belum menjadi makhluk hidup dan masih merupakan bagian dari tubuh wanita tidak dapat dianggap sebagai tindakan kriminal." Retorika semacam ini tersebar luas saat itu. Tetapi karena kesulitan ekonomi, dan terutama kelaparan besar tahun 1932 – 1933, angka kelahiran mulai menurun secara signifikan. Pada 1930-an, kebijakan sosial membuat perubahan yang tajam.

Keadaan kedua adalah manfaat yang dibayarkan sebagai bagian dari kebijakan demografis negara. Mereka dapat mengambil keuntungan dari perempuan yang lahir pada akhir 1950-an dan 1960-an dan karena itulah lonjakan angka kelahiran terjadi selama 1980-an. Semua ini memastikan pertumbuhan populasi, meskipun tidak stabil. Pada 2010, kesenjangan antara jumlah laki-laki dan perempuan telah berkurang menjadi delapan juta.

Diakui, ini masih tidak dapat dibandingkan dengan situasi jika hampir 27 juta orang ini masih hidup. Para ahli masih mempercayai bahwa Rusia "sekarat".

Satu "Lubang" Lagi

Pada 2017, tingkat kelahiran di Rusia turun ke level terendah selama satu dekade, dan situasinya belum banyak membaik sejak saat itu. Untuk memperbaiki situasi, negara telah meluncurkan program nasional khusus yang dijuluki "Demografi", yang akan berlangsung hingga 2024, dengan anggaran lebih dari 40 miliar dolar. Program ini merupakan kelanjutan langsung dari program dukungan negara pada pertengahan 2000-an dan pendorong utamanya adalah pemberian tunjangan bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak.

Namun, bahkan itu pun diyakini masih tidak cukup dan para ahli demografi memprediksi satu "lubang" lagi. Selain itu, beberapa mengkritik program Demografi karena anggarannya yang terlalu besar. Sedangkan yang lain menilai sebaliknya, bahwa pembiayaan harus ditingkatkan setidaknya empat kali lipat, hingga 2 persen dari PDB. Menurut direktur jenderal Institute for Scientific and Public Expertise, Sergey Rybalchenko, "di negara-negara Eropa indikator ini berjumlah 3-4 persen, dan di Prancis khususnya, 5-6 persen dari produk domestik bruto (PDB)." Ini berarti Rusia masih harus meningkatkan apa yang sedang dilakukannya untuk membalikkan kecenderungan negatif.

Pada 2018, Badan Statistik Negara Federal Rusia (Rosstat) menghitung populasi penduduk Rusia. Ternyata, dari 146,9 juta orang yang tinggal di negara ini, 68,1 juta (46 persen) di antaranya adalah laki-laki, sedangkan 78,8 juta (54 persen) lainnya adalah perempuan. Klik di sini untuk mencari tahu lebih banyak!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki