'Back in the U.S.S.R.': Lagu Parodi The Beatles, Bahan Perbincangan Politik di Barat dan Soviet

Flickr/Marco Verch/Getty Images
Lagu pembuka untuk album ganda 'self-titled' milik The Beatles yang subversif mengejutkan Barat pada 1968. Namun, yang paling penting, itu membuat penggemar musik di Rusia tahu bahwa mereka tak sendirian.

"The Beatles menyuguhkan kepada kita ide demokrasi," ujar rocker Sasha Lipnitsky dalam buku karangan Leslie Woodhead How the Beatles Rocked the Kremlin. "Untuk kebanyakan dari kita, itu adalah lubang pertama di Tirai Besi."

Nyatanya, rekaman The Beatles yang diselundupkan merupakan barang musik utama di Uni Soviet pada 1960 - 1970-an. Kegagahan Tirai Besi tak sebanding dengan para penggemar berat The Beatles di Blok Timur, yang menyelundupkan rekaman dalam jumlah banyak dan kemudian menjadi hippies, pembangkang, dan musisi terkemuka.

Jika dipikir-pikir, cinta kepada para musisi ikonis asal Liverpool ini adalah salah satu dari beberapa hal yang menjembatani perbedaan antara orang Barat dan Soviet. Saat itu adalah era di mana McCarthyisme membahas "ancaman" komunisme dari kanan dan Kiri Baru sibuk menelaah Orwell dan Solzhenitsyn, serta memutuskan bahwa Uni Soviet tidak lagi keren. Dari pemikiran-pemikiran ini, Perang Dingin bukan lagi merupakan bahan tertawaan.

The Beatles mungkin telah menjadi salah satu ikon budaya populer saat itu, tetapi itu tak menghentikan mereka menjadi smart asses. Mereka tidak bisa tidak mencoba membantah gagasan Barat yang baru ini. Coba saja lihat lagu pembuka di The White Album, 'Back in the U.S.S.R'. Sebagai informasi, U.S.S.R. merupakan singkatan dari 'Union of Soviet Socialist Republics', atau lebih dikenal dengan Uni Soviet.

Lelucon, Gaya 1960-an

Dari awal hingga akhir lagu, segala sesuatu tentang 'Back in the U.S.S.R' bukanlah sesuatu yang serius. Sebelum lagu itu bahkan masuk ke dalam politik Perang Dingin, bunyi musik ini sudah dibahas - riff piano tujuh nadanya jelas merupakan lelucon dari musik khas The Beach Boys (meskipun untungnya, saat lagu ini ditulis Mike Love dari The Beach Boys berada di Rishikesh, India yang merupakan tempat pertapaan The Beatles, sehingga ia menyetujuinya). Selain itu ada lagi judulnya, yang mengolok-olok lagu Chuck Berry 'Back in the U.S.A' dan kampanye Perdana Menteri Inggris Harold Wilson 'I'm Backing Britain' pada saat yang sama.

Album self-titled The Beatles, alias 'The White Album'.

Tentu saja, trolling yang terlihat di lagu ikonis itu mengesankan tidak hanya karena kemajemukannya, tetapi karena kemampuannya untuk memancing kegemparan hanya dari sebaris lirik. Lirik seperti “The Ukraine girls really knock me out” dan “Let me hear your balalaikas ringing out,” berbobot sedikit lebih dari apa yang tertulis (anggap saja wanita Moskow dan Ukraina pada 1960-an tak memiliki reputasi seperti yang mereka miliki saat ini).

Lalu ada "Georgia’s always on my my my my my my my my my mind," dari hit Hoagy Carmichael tahun 1930 "Georgia on My Mind" – satu-satunya perbedaan, tentu saja, rujukannya ke negara di Kaukasus Utara daripada negara bagian di selatan AS.

Dalam artian, satir di dalam 'Back in the U.S.S.R' sama sekali tak ada hubungannya dengan Uni Soviet, dan kaitannya hanyalah fakta bahwa ia menyebutkan negara komunis itu. Untuk sebuah lagu yang dibuat sebagai lelucon dan kebalikan dari 'California Girls'-nya The Beach Boys, satu-satunya kemiripan dengan pesan politik yang mungkin bisa kita tarik dari lagu ini adalah penggambaran kesamaan orang-orang Rusia dan Amerika. Seperti yang dijelaskan Paul McCartney dalam biografinya, orang yang cocok dengan lagu ini adalah “seseorang yang tak punya banyak, tetapi mereka masih bangga menjadi seorang Amerika.”

Namun begitu, lagu ini sudah cukup untuk menjadi skandal.

Terpancing

Sebenarnya, mereka di tahun 1968 mengerti lelucon ini. The Whte Album yang kini mendapatkan 19 platinum adalah sekumpulan lagu The Beatles paling manusiawi dan ceria; sementara 'Back in the U.S.S.R.' cenderung lebih mentah sebagai bentuk keberanian yang menampar.

Namun begitu, tak semua terkesan akan lagu ini. Ia dianggap sebagai respons Uni Soviet atas politik 'munafik' AS. Contohnya, John Birch Society, kelompok Amerika yang ultrakonservatif, memprotes lirik “You don’t know how lucky you are, boys”, menganggap The Beatles mengobarkan komunisme dan bersimpati dengan musuh.

Dari amarah itu, datanglah teori konspirasi. Komentator sayap kanan Gary Allen menyejajarkan 'Back in the U.S.S.R.' dan lagu 'Revolution', juga dari The White Album, dan menyimpulkan bahwa The Beatles sebenarnya adalah Stalinis yang "melewati jalur Moskow melawan Trotskyisme". Allen juga memulai desas-desus yang tersebar luas bahwa The Beatles melakukan perjalanan rahasia ke Uni Soviet dan memberikan konser pribadi kepada Komite Pusat, sebuah teori yang tak begitu terdengar karena pemerintah Soviet melabeli The Beatles sebagai "serdawa budaya Barat".

Tak mengherankan, beberapa pihak dari Kiri Baru juga memberi banyak kritik minor pada lagu ini karena waktunya yang pas dengan pendudukan Soviet di Cekoslowakia pada 1968. Ian MacDonald menyimpulkan sentimen ini dalam bukunya tahun 1995 Revolution in the Head, mengenang mengingat lagu tersebut sebagai "lelucon tanpa taktik".

Lagu yang Abadi

Dalam sebuah wawancara pada 1964, John Lennon menanggapi kritik bahwa The Beatles "tidak Amerika": "Ya, mereka sangat mengamati, karena kami pun sebenarnya bukan orang Amerika."

Kuartet legendaris itu benar-benar tak terpengaruh oleh kritik seputar 'Back in the U.S.S.R.' 

Presiden Rusia Vladimir Putin dengan mantan anggota The Beatles Paul McCartney di Kremlin, Moskow. 26 Mei 2003.

Tentu saja, tak ada lagu yang lebih mampu menunjukkan hubungan terlarang The Beatles dengan penggemar Soviet-nya daripada 'Back in the U.S.S.R.' yang dibawakan secara 'ilegal' oleh Elton John di Olimpiade di Moskow pada 1980. Ketika Paul McCartney akhirnya membawakan lagu itu di depan Putin di Rusia pada 2003, suasana penonton langsung cair.

Itu juga bukanlah kejutan; 'Back in the U.S.S.R.' abadi, dan untuk alasan di luar popularitas global The Beatles. Di dunia yang penuh mata-mata dan perang proksi, lagu ini cukup politis untuk membuat jengkel penguasa dunia dan menjadi lelucon bagi semua orang. Tak ada musik yang lebih satir dari ini.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki