Bagaimana Para Pemimpin Komunis Bertarung Menduduki Takhta Stalin?

Poster propaganda Soviet (sekitar tahun 1940 – 1945) menunjukkan sosok Josef Stalin yang sangat dicintai dengan sebuah montase pendukung yang memujanya.

Poster propaganda Soviet (sekitar tahun 1940 – 1945) menunjukkan sosok Josef Stalin yang sangat dicintai dengan sebuah montase pendukung yang memujanya.

Global Look Press
Segera setelah kematian Stalin, orang-orang terdekatnya terlibat dalam pertarungan sengit demi merebut kekuasaan. Nikita Khrushchev keluar sebagaui pemenang, sedangkan para pecundang akhirnya tersingkir — beberapa secara politis, dan lainnya secara harfiah.

Josef Stalin memerintah Uni Soviet lebih lama dari pemimpin komunis lainnya. Pemerintahannya dimulai setelah ia berhasil mengalahkan pemimpin partai lawan pascakematian Vladimir Lenin pada 1924, dan berakhir saat ia meninggal akibat stroke pada 5 Maret 1953.

Selama berkuasa, tak seorang pun teman Stalin yang berani menentang perintahnya. Mereka sadar akan konsekuensi dan nasib menyedihkan yang menimpa orang-orang yang berselisih paham dengan Stalin. Namun, begitu Stalin meninggal, sekutu-sekutu terdekatnya mulai memperebutkan dan membagi-bagikan warisannya.

Aliansi Sekejap Mata

Karena tak ada seorang pun di kalangan elite Soviet yang cukup kuat dan mampu memusatkan kekuasaan di tangan mereka, seperti Stalin, tiga pejabat paling berpengaruh kala itu membentuk triumvirat (sebuah rezim politik yang didominasi tiga orang penguasa), dengan masing-masing mengendalikan satu cabang kekuasaan.

Georgy Malenkov, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Stalin, memimpin pemerintahan dan menjadi perdana menteri Uni Soviet, sedangkan Nikita Khrushchev, mantan pemimpin Soviet Ukraina, bertanggung jawab atas Partai Komunis.

Sementara, algojo polisi rahasia Soviet yang terkenal, Lavrenty Beria, yang juga mengawasi program nuklir negara, tetap menjadi menteri dalam negeri, yang memegang kendali atas badan penegak hukum tersebut. Sebagai saudara sebangsa Stalin dari Georgi dan mungkin antek terdekat sang diktator, Beria memimpin Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri (NKVD) yang menakutkan dari tahun 1938 sampai 1945, dan melakukan penindasan yang penuh kekejaman selama dan setelah Perang Dunia II.

Baik Malenkov maupun Khrushchev khawatir Beria akan menyingkirkan mereka. Jadi, mereka memutuskan untuk menyerang Beria lebih dulu sebelum dia bisa melakukannya.

Kejatuhan Menteri yang Kejam

Lavrenty P. Beria. Sumber: APLavrenty P. Beria. Sumber: AP

Pada musim panas 1953, posisi Beria sebagai kepala NKVD tampak tak tergoyahkan. Namun, serangan Malenkov dan Khrushchev benar-benar di luar dugaan. Pada Juni 1953, setelah kembali dari perjalanan ke Jerman Timur, Beria ditahan.

Selama sidang pleno Komite Sentral Partai Komunis, semua petinggi partai mencela Beria dan menyebutnya sebagai biang penindasan (yang merupakan fakta tak terbantahkan), dan mata-mata Inggris (yang sama sekali tidak benar).

Anehnya, saat menyusun daftar kekejaman selama era Stalin, para pejabat justru hampir tidak memasukkan nama sang diktator. Menurut dakwaan, semua itu adalah kesalahan Beria. Dia tidak memiliki kesempatan untuk membela diri dan dieksekusi pada tahun yang sama. Nasibnya ini pun mengulang nasib malang para pendahulunya di NKVD pada masa kepemimpinan Stalin — Genrikh Yagoda dan Nikolai Yezhov.

Bolshevik Lama Menyerang Khrushchev

Georgy Malenkov. Sumber: Global Look PressGeorgy Malenkov. Sumber: Global Look Press

Setelah kejatuhan Beria, Khrushchev dan Malenkov saling tembak satu sama lain. Sebagaimana yang dikatakan sejarawan Alexander Pyzhikov dalam bukunya, Khrushchev’s Thaw, Malenkov bukanlah figur yang karismatik dan aktif, seperti Khrushchev. Karena itulah, dia kalah. Pada 1955, selama sidang pleno lainnya, dia diskors dari jabatan perdana menteri.

Pertarungan belum usai. Malenkov membentuk aliansi baru dengan dua rekan lama Stalin lainnya, yaitu Vyacheslav Molotov, seorang menteri luar negeri yang dikenal karena menandatangani Pakta Nonagresi Soviet-Jerman pada 1939, dan Lazar Kaganovich.

Bersama-sama, mereka memulai pemungutan suara untuk menjatuhkan Khrushchev dari jabatan sekretaris pertama Partai Komunis selama sidang pemerintah tahun 1957. Ada banyak hal yang bisa dikritik dari Khrushchev. Misalnya, Khrushchev pernah berjanji akan membawa Uni Soviet mengungguli Amerika sebagai produsen susu dan daging. Hal itu — tentu saja — tidak realistis. Jadi, ketiganya hampir menang.

Tak Ada yang Suci

Nikita Khrushchev. Sumber: RIA NovostiNikita Khrushchev. Sumber: RIA Novosti

Khrushchev tak hilang akal. Ia mengatur ulang jadwal pemungutan suara untuk dilakukan pada sidang pleno Komite Sentral lainnya. Kali ini, pada Juni 1957. Mengantongi dukungan dari anggota-anggota muda partai, termasuk Leonid Brezhnev, Khrushchev mengubah topik pleno yang awalnya berfokus pada kesalahannya menjadi sebuah percekcokan tentang kejahatan tahun 1930-an dan 1940-an. Sekali lagi, para pendukung Khrushchev mengkritik keras Bolshevik Lama karena mereka dianggap bertanggung jawab atas segala penindasan dan pertumpahan darah.

Mereka tidak salah. Malenkov, Molotov, dan Kaganovich terlibat dalam pembunuhan orang-orang tak bersalah. Namun Khrushchev, yang secara keras mengkritik ‘trio antipartai’ — sebutan bagi Malenkov, Molotov, dan Kaganovich setelah pleno — juga tidak lebih baik.

Saat Kaganovich bertanya, “Dan bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda menandatangani surat eksekusi di Ukraina?” Khrushchev diam tak menjawab.

Pada akhirnya, Khrushchev menang, dan ‘trio antipartai’ kalah. Untungnya, kondisi saat itu jauh lebih ringan daripada saat pemerintahan Stalin sehingga tidak ada yang dieksekusi atau dipenjara. Sebaliknya, mereka diizinkan untuk hidup sebagai pensiunan.

Sementara itu, kursi kekuasaan Khrushchev bertahan selama tujuh tahun berikutnya, sebelum akhirnya digulingkan tahun 1964 oleh anggota-aggota muda partai yang mendukungnya pada 1957. Dia mengakhiri masa hidupnya dengan dilupakan secara politis, menulis memoar, dan mengeluhkan pengkhianatan mantan teman-temannya.

 

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.