Dipukul, Diusir, Bicara Kasar: Tiga Kasus Diplomatik yang Melibatkan Rusia

Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov,

Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov,

AP
Moskow baru saja mengusir 755 diplomat Amerika yang bekerja di kedubes dan konsulat di Rusia. Namun ini bukan pertama kalinya sisi kelam diplomasi terlihat. RBTH membahas beberapa yang paling mengejutkan.

Presiden AS Donald Trump pada 10 Agustus berterima kasih kepada Moskow karena mengusir 755 diplomat Amerika yang bekerja di kedubes dan konsulat di Rusia, yang merupakan respons terhadap sanksi terbaru dari Washington.

“Saya justru sangat bersyukur karena dia (Putin) mengusir sejumlah besar utusan diplomatik kami. Dengan begitu, beban gaji pemerintah jadi berkurang. Kami akan menghemat banyak uang,” kata Trump. Menurutnya, AS juga tidak membutuhkan begitu banyak orang untuk bekerja di Rusia.

Namun begitu, tampaknya tidak semua pejabat Amerika sepemikiran dengan Trump, karena seorang di Departemen Luar Negeri AS menyebut keputusan Moskow mengusir hampir dua pertiga diplomatnya di Rusia sebagai “tindakan yang sangat disayangkan.”

Skandal diplomatik ini — salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade — telah mengundang banyak perhatian, namun ada pula sebagian contoh di masa lalu terkait duta besar yang diusir, dihina, dan bahkan dipukuli. RBTH membahas beberapa yang paling mengejutkan.

1. Dubes Dipukuli Pegawai Bea Cukai

Duta Besar Rusia untuk Qatar Vladimir Titorenko. Sumber: TASSDuta Besar Rusia untuk Qatar Vladimir Titorenko. Sumber: TASS

Pada November 2011, Vladimir Titorenko, Duta Besar Rusia untuk Qatar yang bertugas di beberapa negara Arab, dipukuli oleh beberapa petugas bea cukai di Bandara Doha.

Para petugas meminta sang utusan Rusia beserta rekannya menyerahkan sebuah kantong diplomatik (yang mana, menurut hukum internasional, tidak boleh diserahkan). Penolakan dari para diplomat Rusia berujung pada pukulan yang bahkan menyebabkan retina Titorenko lepas.

Seperti dikatakan seorang pejabat anonim di Kemenlu Rusia, serangan tersebut mungkin adalah respons atas keterlibatan Rusia di krisis Suriah, di mana Negeri Beruang Merah mendukung Presiden Bashar Assad, sementara Qatar mendukung oposisi. Rusia langsung mengutuk insiden tersebut dan kemudian memutus dialog politik dengan Qatar.

2. Pengalaman Gagal McFaul

Mantan Duta Besar AS untuk Rusia Michael McFaul dalam sebuah sesi wawancara. Sumber: Alexey Filippov/RIA NovostiMantan Duta Besar AS untuk Rusia Michael McFaul dalam sebuah sesi wawancara. Sumber: Alexey Filippov/RIA Novosti

Ditunjuk menjadi Dubes AS untuk Rusia pada 2012, Michael McFaul — seorang spesialis isu Eropa Timur dan mantan penasihat politik luar negeri Barack Obama — mungkin pada awalnya tidak mengira jabatannya akan sangat menyulitkannya dalam waktu yang begitu cepat.

McFaul bertemu beberapa petinggi pihak oposisi Rusia di hari kedua menjabat, namun media di sana tidak menganggap hal ini menyenangkan dan kemudian mengkritik ia tajam. Seiring berjalannya waktu, situasinya semakin memburuk. Ia pada akhirnya dipaksa menjelaskan bahwa AS tidak mendukung oposisi Rusia secara finansial dan tidak mencoba menggulingkan pemerintahan.

McFaul hanya menghabiskan dua tahun di Rusia, meninggalkan jabatannya pada 2014. Setelah itu, ia mendapati dirinya di daftar sanksi Rusia dan dilarang bertolak ke sana. Mengenai hal ini, Juru Bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengatakan bahwa McFaul ingin melukai hubungan Rusia-AS. McFaul masih masuk di daftar hitam namun ia tetap berharap boleh kembali. Mungkin ia merindukan bir khas Rusia Baltika 7.

3. Pidato Kasar di Dewan Keamanan

Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov di Dewan Keamanan PBB. Sumber: ReutersWakil Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov di Dewan Keamanan PBB. Sumber: Reuters

Pada April 2017, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov terlibat dalam perselisihan diplomatik. Saat merespons Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft (yang mengkritik Rusia karena mendukung rezim Suriah), Safronkov menunjuk Rycroft dan berkata kasar dalam bahasa Rusia: “Rycroft! Jangan mengalihkan pandangan dari saya! Jangan lagi Anda hina Rusia!” Ini terjadi saat pertemuan Dewan Keamanan PBB.

Tindakan berani Safronkov memicu kritik dari Barat dan bahkan beberapa petinggi di Rusia. Sebagai contoh, Valentina Matvienko, Ketua Majelis Tinggi Parlemen Rusia (Dewan Federasi), mengemukakan bahwa ia tidak setuju dengan pilihan kata-kata Safronkov. Di saat yang bersamaan, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa tidak ada hal yang ofensif dalam aksi Safronkov, dan bahwa ia hanya termakan emosi.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.