Selain S-400 dan Suriah, Apa Saja yang Akan Putin-Erdoğan Bahas di Moskow?

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Reuters
Para ahli berpendapat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan akan membahas pencabutan sanksi ekonomi Rusia terhadap Turki, kerja sama dan kompromi dalam mengatasi isu di Rusia, dan pembelian sistem misil antipesawat S-400.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan akan mengunjungi Moskow pada 9 dan 10 Maret. Ia akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan turut berpartisipasi dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Tingkat Tinggi Rusia-Turki.

Agenda Erdoğan selama di Rusia diperkirakan akan cukup padat. Kedua belah pihak akan mendiskusikan pemulihan hubungan setelah konflik pada November 2015, ketika Ankara menembak jatuh sebuah jet tempur milik Rusia karena dituduh melanggar wilayah udara Turki. Setelah insiden tersebut, Rusia menjatuhkan sanksi terhadap produk-produk dari Turki, memberlakukan peraturan visa bagi warga Turki, dan melarang penjualan paket berlibur ke Turki.

Meskipun kedua negara sudah memperbaiki hubungan secara formal — terlihat dari adanya perjanjian antarpemerintah mengenai pembangunan saluran pipa gas Turkish Stream, pembatalan sanksi produk pertanian, serta pencabutan larang berlibur ke Turki — pemberlakuan visa bagi warga Turki dan sanksi terhadap beberapa produk Turki lainnya masih berlaku. Isu pemulihan hubungan kedua negara ini akan diangkat dalam kunjungan Erdoğan.

“Turki ingin Rusia mencabut semua sanksi ekonomi dan peraturan visa untuk warga Turki,” ungkap Kerim Has, seorang pakar isu Rusia dan Eurasia di USAK, think tank (wadah pemikir) independen yang berbasis di Ankara. Namun, Has percaya bahwa ini tidak akan terjadi. “Moskow tidak tertarik membahas itu. Mungkin saja sanksi terhadap beberapa produk atau visa dicabut, tapi tidak semuanya.”

Krisis di Suriah

Salah satu topik utama dalam kunjungan Erdoğan tentu saja peraturan terkait krisis di Suriah, demikian ungkap penasihat Erdoğan Ilnur Cevik kepada media Rusia.

Rusia dan Turki saat ini sedang mengampanyekan operasi militer di Suriah. Selain itu, sejak Januari keduanya telah mengadakan operasi gabungan terhadap militan ISIS. Turki, yang dianggap berpengaruh oleh oposisi Suriah, adalah partisipan kunci dalam kampanye yang bertujuan mengembalikan perdamaian di Suriah.

“Pokok pembahasan utama adalah Suriah,” kata Has. Menurutnya, ada empat poin inti dalam pembahasan Suriah. “Pertama, ini adalah bentuk kerja sama pertama di Aleppo dan daerah-daerah tetangganya. Kedua, penambahan partisipan kampanye (Qatar, Arab Saudi, dan lainnya) sedang dalam pembicaraan. Ketiga, beragamnya jenis kerja sama Rusia-Turki dalam membebaskan Raqqa dan Manbij setelah Ankara menyelesaikan operasinya di Al-Bab. Keempat, posisi Rusia dalam pertempuran tentara Kurdistan di Suriah.”

Masih mengenai Suriah, diperkirakan akan ada isu proses politik transnasional di sana, demikian pandangan Anton Madrasov, pakar isu Suriah dari Institut Inovasi Pembangunan. “Proses negosiasi membutuhkan kelonggaran dan kompromi. Penting bagi Rusia dan Turki untuk mendiskusikan bagaimana cara mempengaruhi Damaskus dan oposisi supaya dapat menemukan siapa yang bisa diandalkan dari mereka,” ungkap Madrasov.

Siapa yang harus dianggap teroris?

Putin dan Erdoğan juga akan membahas beberapa hal lain. Salih Yilmaz, analis politik dari Universitas Yildirim Beyazit di Ankara percaya bahwa kedua pemimpin akan menyentuh isu-isu penting di Ankara seperti aktivitas Partai Buruh Kurdistan (PKK) dan Kelompok Teror Gulen (FETO) di Rusia. FETO, yang didirikan oleh Fethullah Gulen, dan PKK adalah organisasi yang dianggap teroris di Turki, karena mereka diduga mengatur upaya kudeta pada 2016 di sana. Namun begitu, Rusia belum secara resmi menganggap keduanya organisasi teroris.

“Turki sangat khawatir dengan fakta bahwa ada kantor PKK di Moskow,” ujar Salih Yilmaz.

Pada Rabu (1/3), Dewan Federasi Rusia meratifikasi perjanjian Rusia-Turki mengenai kerja sama gotong royong terhadap tindak kejahatan dan ekstradisi pelaku kriminal. Para pakar percaya bahwa ini akan memberikan pemerintah Turki kesempatan memburu anggota-anggota FETO dan PKK di wilayah Rusia.

“Adanya perjanjian ini mengartikan bahwa kami ingin bekerja sama tidak hanya dalam isu terorisme tapi juga mengekstradisi orang yang Rusia dan Turki anggap tidak dapat dipercaya,” ujar Yuri Mavashev, Direktur Departemen Politik di Pusat Studi Turki Modern.

Pembelian S-400

Menurut Salih Yilmaz, Putin dan Erdoğan juga akan membahas kemungkinan pembelian sistem misil antipesawat S-400 milik Rusia.

Pertanyaan ini sudah didiskusikan secara luas November kemarin. Saat itu Kepala Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik-Militer Rusia (FSMTC) Alexander Fomin mengatakan bahwa isu pengiriman S-400 ke Turki akan menjadi salah satu topik utama di sesi pertemuan komite antarpemerintah Rusia-Turki. Menteri Pertahanan Turki Fikri Isik sudah mengkonfirmasi bahwa Ankara sedang mengusahakan pembelian S-400 dengan Rusia.

Namun begitu, belum ada keputusan pasti menyoal pembelian sistem itu hingga saat ini, meskipun komite sudah bertemu pada Desember tahun lalu.

“Pembicaraan mengenai pembelian S-400 dari Rusia hanyalah pengalihan,” ujar Mavashev. “Kita sudah sering mendengar pernyataan demikian dari Turki.”

Ia percaya bahwa pada akhirnya Ankara akan lebih memilih membeli teknologi militer dari AS, sementara kerja sama dengan Rusia akan tetap terbatas.