Tempatkan Sistem Antimisil, Rusia Perpanas Sengketa Wilayah dengan Jepang?

Pulau-pulau yang disengketakan sekarang berada di bawah administrasi Rusia sebagai Distrik Kuril Selatan, Sakhalinskaya Oblast, tapi di satu sisi juga diklaim Jepang sebagai teritorial negara tersebut yang disebut sebagau Teritorial Utara atau Chishima Selatan di bawah administrasi Subprefektur Nemuro, Prefektur Hokkaido.

Pulau-pulau yang disengketakan sekarang berada di bawah administrasi Rusia sebagai Distrik Kuril Selatan, Sakhalinskaya Oblast, tapi di satu sisi juga diklaim Jepang sebagai teritorial negara tersebut yang disebut sebagau Teritorial Utara atau Chishima Selatan di bawah administrasi Subprefektur Nemuro, Prefektur Hokkaido.

Ivan Dementievskiy / RBTH
Rusia telah menempatkan kompleks antimisil di Kepulauan Kuril Selatan sebulan sebelum jadwal kunjungan Presiden Putin ke Jepang. Dengan demikian, Moskow telah meningkatkan taruhan antara kedua negara yang belum mengakhiri Perang Dunia II secara formal karena ketiadaan traktat perdamaian.

Penempatan kompleks misil Bal dan Bastion (julukan NATO: Sennight dan Stooge) di Kepulauan Kuril, yang disengketakan pemerintah Jepang di wilayah Timur Jauh Rusia, diyakini merusak upaya baru-baru ini yang dilakukan kedua belah pihak demi mengompromikan sengketa teritorial yang seolah-olah tak terselesaikan.

Salah satu argumen yang mungkin digunakan untuk meningkatkan ketegangan ialah terkait kapabilitas senjata. Namun, ada satu ‘tapi’.

Kompleks Bal dilengkapi dengan misil antikapal X-35 yang dapat menyerang target pada jarak 120 km. Sementara, kompleks Bastion yang dilengkapi dengan misil supersonik Onyx dapat menyerang tak hanya kapal tempur permukaan, tapi juga menghancurkan target berbasis darat dengan jarak 600 km. Hal ini membuatnya tak hanya menjadi sekadar senjata pertahanan, tapi juga senjata penyerang.

Pada Maret tahun ini, kabar mengenai penempatan sistem antikapal yang dipublikasikan Japan Today mendapat komentar: “Inilah Rusia yang akan menerapkan program pelebaran sayap pasokan militer mereka dengan cepat jauh di luar garis batas mereka, jauh di atas kepentingan mereka. Untuk melindungi diri dari ancaman yang tak pernah ada. Dan dengan demikian, mereka mengalienasi sejumlah besar kesabaran.”

Komentar lainnya yang dilontarkan oleh seseorang dengan nama non-Jepang, Matt Hartwell, berspekulasi terlalu jauh terkait penempatan sistem misil tersebut. “Tak heran mereka akan berguna saat Rusia dan Tiongkok sepakat untuk menyerang wilayah Jepang. Jepang sungguh kalah jauh dalam persenjatan. Tiongkok bertaruh mereka akan ditinggalkan sendiri oleh AS.”

Kesimpulannya, baik Bal maupun Bastion telah memicu badai komentar yang gelisah, yang mungkin menjadi racun, jika bukan terhadap hasil dari negosiasi mendatang, menjadi racun terhadap atmosfer di sekelilingnya.

Tuntut Diplomasi Halus

Tak ada maknanya mendramatisasi peningkatan militer di Kepulauan Kuril, kata Ivan Konovalov, Kepala Divisi Kebijakan Militer dan Ekonomi Russian Institute for Strategic Studies (RISS). Namun, sepertinya hal itu hanyalah ‘pameran kekuatan’, tambahnya.

“Penempatan kompleks misil telah menjadi bagian dari reformasi angkatan bersenjata Rusia yang sedang berlangsung, yang diluncukan sejak 2008. Sejak lama, wilayah Timur Jauh telah diabaikan dalam konteks infrastruktur militer dan persenjataan. Ini sudah lama terlambat.

“Pembangunan saat ini telah direncanakan sejak lama. Hal ini mencerminkan peningkatan militer yang sama di wilayah paling barat Rusia, eksklave Kaliningrad di Laut Baltik. Saya tak akan menyingkirkan kemungkinan penempatan sistem misil antipesawat jarak jauh S-400, senjata yang setelah ditempatkan di Suriah telah mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.”

— Walaupun keputusan penempatan kompleks misil Bal dan Bastion telah diambil sejak lama, pelaksanaannya kebetulan berbarengan dengan persiapan kunjungan presiden Rusia ke Tokyo, di tengah ekspektasi yang mungkin terlalu tinggi untuk mencapai beberapa kompromi. Bukankah ini waktu yang tak tepat untuk membangun infrastruktur militer Kuril?

“Benar, langkah ini telah disusun dengan baik dari jauh-jauh hari. Namun, ‘kebetulan’ sungguh langka dalam konteks geopolitik. Menurut saya, hal ini jelas menunjukkan kehendak politik dan semacam pamer kekuatan.

Kompleks Bastion yang dilengkapi dengan misil supersonik Onyx dapat menyerang tak hanya kapal tempur permukaan, tapi juga menghancurkan target berbasis darat dengan jarak 600 km. Sergey Pivovarov / Ria NovostiKompleks Bastion yang dilengkapi dengan misil supersonik Onyx dapat menyerang tak hanya kapal tempur permukaan, tapi juga menghancurkan target berbasis darat dengan jarak 600 km. Sergey Pivovarov / Ria Novosti

— Namun momen penempatan terlihat kurang pantas.

“Saya tak akan bilang begitu. Hubungan bilateral sepertinya tertiup angin dan bergerak ke arah yang benar. Selain itu, Tiongkok menjadi semakin sombong di kawasan itu. Rusia melakukan ‘pivot ke Asia’ dan menegaskan jejak langkahnya. AS, jika dilihat dari perspektif kepresidenan Trump, sepertinya enggan untuk mempertahankan komitmen melindungi Jepang. Dalam situasi tersebut, Tokyo akan mengambil langkah pragmatis jika ingin berkompromi atas kepulauan yang menjadi sengketa.

“Dalam beberapa hal, penempatan Bal dan Bastion terjadi pada saat yang tepat: ketika hubungan antara Rusia dan Jepang tak berada di ambang jurang, melainkan menanjak lereng curam. Namun, Tokyo perlu kehalusan dalam level tertentu. Hal itu benar-benar berarti.”

Apakah Moskow Tak Mau Berkompromi?

Menurut Ivan Konovalov, di permukaan hal ini terlihat seperti ‘pameran kekuatan’. Benarkah langkah Moskow sungguh hendak memperparah situasi sehingga tak meninggalkan ilusi bahwa Moskow mungkin suatu hari akan mengabaikan sikapnya yang baru-baru ini kembali ditegaskan oleh Putin (“Kami tak memperjual-belikan wilayah”).

Cara pikir ini diragukan oleh Fyodor Shelov-Kovedyayev, seorang akademisi dan mantan Wakil I Menteri Luar Negeri Rusia, yang menilai hal ini tak lebih dari sekadar kebetulan. Penempatan Bal dan Bastion telah diumumkan sejak lama, diekspos dalam liputan mendetail pada kuartal pertama tahun ini. Hal ini bukan sesuatu yang baru.

“Saya rasa ini bukan sebuah pesan dan Jepang bukan penerimanya. Ada kemungkinan bahwa pemerintah AS di bawah Donald Trump yang akan menganggap langkah ini sebagai aksi tak bersahabat, daripada pemerintah Jepang itu sendiri. Saya rasa bagaimanapun ini akan berdampak negatif terhadap jadwal kunjungan Putin.”

Namun, pendukung teori konspirasi akan mengolah fantasi lebih jauh dengan menggambarkan hubungan perdebatan antara Kementerian Luar Negeri AS dengan Kementerian Pertahanan AS terkait ‘kemitraan’ dengan Rusia dalam memerangi ISIS di Suriah. Dalam pandangan berseberangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, John Kerry dan Ashton Carter saling melontarkan kata-kata hinaan.

Bisakah pembangunan militer di Kepulauan Kuril Selatan menggambarkan sabotase terhadap ketidaksukaan militer Rusia mengenai kemungkinan resolusi atas sengketa wilayah dengan Jepang?

“Mustahil. Di Rusia, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan memiliki pemikiran yang sejalan. Hubungan antara Sergey Lavrov dan Sergei Shoigu tak sama dengan Kerry-Carter,” kata Shelov-Kovedyayev pada RBTH.

Intrik dalam Kunjungan Putin

Negosiasi yang cukup panas terjadi pada tahun lalu antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan rekannya Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kisida. Hal itu memuncak saat Moskow menegaskan penolakannya: status kepulauan Kuri ‘tak bisa dinegosiasikan’. Lavrov menegaskan bahwa Jepang perlu mengakui hasil akhir Perang Dunia II.

Namun, menurut beragam sumber, ‘penolakan’ ini tak menggagalkan upaya kedua belah pihak untuk mempertahankan dialog.

Meski demikian, kunjungan Putin ke Tokyo yang telah ditunggu-tunggu, yang rencana awalnya dilakukan pada akhir 2015 lalu, sekali lagi kembali ditunda. Dalam beberapa hal, ini memperpanjang situasi ‘tak ada perang, tak ada perdamaian’ yang mengungkung kedua negara.

Kini, setelah Bal dan Bastion ditambahkan ke portofolio hubungan bilateral, intrik dalam substansi dan gaya (yang dianggap penting bagi Tokyo) terhadap kunjungan Putin ke Tokyo makin rumit.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.