Bagaimana Semialiansi Rusia-Tiongkok dapat Menstabilkan Asia?

Sebuah kapal milik Angkatan Laut Tiongkok menembakkan meriam selama latihan angkatan laut "Joint Sea 2014" di pesisir Shanghai di Laut Tiongkok Timur, 24 Mei 2014.

Sebuah kapal milik Angkatan Laut Tiongkok menembakkan meriam selama latihan angkatan laut "Joint Sea 2014" di pesisir Shanghai di Laut Tiongkok Timur, 24 Mei 2014.

Reuters
Penggunaan istilah ‘semialiansi’ oleh militer Tiongkok memiliki pengertian akurat dalam hubungan yang dibina antara Rusia dan Tiongkok. Latihan angkatan laut gabungan mendatang di Laut Tiongkok Selatan adalah cara bagi kedua negara untuk mendorong balik Barat.

Perubahan haluan Amerika ke Pasifik, yang ditujukan untuk menyeimbangkan ekspansi militer Tiongkok, telah bersinggungan dengan urusan Tiongkok dan Rusia. Menurut militer Tiongkok, Beijing dan Moskow bersatu dalam ‘semialiansi’ yang penuh intrik untuk menggelar latihan marinir di Laut Tiongkok Selatan. Latihan yang diberi nama Joint Sea 2016 ini akan digelar pada bulan ini.

Sama-sama tergerak untuk memantau ekspansi Amerika di Asia-Pasifik, Rusia dan Tiongkok menggelar sejumlah latihan gabungan beberapa waktu belakangan. Tahun lalu, latihan ini digelar di Laut Jepang, dan pada 2014 di Laut Tiongkok Timur. Namun, kali ini kedua negara akan menggelar latihan di zona maritim yang diperebutkan oleh enam negara — suatu wilayah perairan yang berisi pulau-pulau yang penting secara ekonomi dan strategis.

Selain itu, lokasi tepatnya latihan belum disampaikan pada negara-negara di daerah pesisir. Jika latihan tersebut digelar dekat pulau-pulau sengketa, tentu ini akan memperparah ketegangan yang sudah ada di sana. Karena hal ini bisa membuat Vietnam sebagai sekutu dekat Rusia beralih ke pelukan Amerika, Moskow akan menegaskan bahwa kedua pasukan akan bermain aman dan menggelar latihan di area tanpa konflik yang dekat dengan pesisir Tiongkok.

Pengarahan taktis skenario aksi maritim selama latihan Rusia-Tiongkok "Joint Sea 2015" di Laut Tengah. Sumber: RIA NovostiPengarahan taktis skenario aksi maritim selama latihan Rusia-Tiongkok "Joint Sea 2015" di Laut Tengah. Sumber: RIA Novosti

Dari luar, kelihatannya Rusia dan Tiongkok semakin dekat, tapi kenyataannya tidak — atau belum. Mungkin penggunaan istilah ‘semialiansi’ oleh militer Tiongkok sangat akurat untuk mendeskripsikan arah hubungan Rusia-Tiongkok. Latihan gabungan ini adalah cara bagi kedua negara untuk mendorong balik Barat.

Dari sudut pandang Tiongkok, pengumuman latihan gabungan disampaikan beberapa hari setelah Pengadilan Tetap Arbitrasi di Den Haag menolak klaim Beijing atas kedaulatan di Laut Tiongkok Selatan. Tiongkok hendak menunjukkan bahwa jika Barat akan berpihak dalam sengketa, mereka bisa berpaling pada Rusia untuk menciptakan ledakan beroktan tinggi di wilayah tersebut.

Bagi Moskow, yang berusaha diisolasi oleh Barat dengan sanksi-sanksi (boikot pada Olimpiade menjadi titik terendah Russophobia), latihan gabungan ini menunjukkan bahwa Rusia punya teman di tempat tinggi. Terdapat pula beberapa putaran strategis. Pertama, dengan meningkatkan ketegangan di Pasifik dan memaksa AS untuk mengirim lebih banyak sumer daya serta perhatian ke wilayah ini, Rusia dapat membuat Amerika mundur dari Ukraina dan Suriah. Saat ini, kekuatan militer Amerika sangat lebar hingga Washington menyerahkan kebijakan Timur Tengahnya pada para amatir, seperti Turki, Arab Saudi, dan Qatar, dengan hasil yang mengerikan.

Peran Asertif Rusia

Reuters melaporkan bulan lalu jumlah Pasukan Pertahanan Udara Jepang yang dikerahkan untuk menghadapi pesawat Rusia meningkat hingga rekor 45 persen menjadi 359 pasukan hingga Maret. 
Kebijakan umum Rusia pada Asia ialah tak berpihak dalam sengketa wilayah. Namun hal ini membuat pihak lain, sebutlah Tiongkok dan AS, memainkan peran dominan di wilayah ini. Hal ini berubah belakangan ini saat Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengeluarkan pernyataan gabungan yang menolak upaya AS menyelesaikan sengketa wilayah Laut Tiongkok Selatan padahal AS bukanlah negara yang bersinggungan langsung dengan area tersebut.

Lavrov berulang kali menyatakan bahwa Moskow menolak ‘internasionalisasi’ sengketa Laut Tiongkok Selatan. Menurut Kremlin, sengketa wilayah harus diselesaikan sendiri oleh pihak terkait. Moskow menegaskan bahwa pasukan eksternal seharusnya tak memengaruhi penyelesaian sengketa antara tetangga. Moskow mengambil posisi yang sama saat ia mendukung Tiongkok dalam sengketa dengan Filipina.

Kembali Kuat

Di saat yang sama, Rusia mendukung pernyataannya dengan berbagai kemungkinan. Latihan Joint Sea 2016 sejalan dengan kebijakan Moskow untuk meningkatkan patroli udara dan laut di Pasifik. Dari California ke Guam dan Alaska, pesawat pengebom Rusia jarak jauh, pesawat tempur pengintai maritim, serta kapal selam bersenjata nuklir ada di mana-mana. “(Terdapat) peningkatan signifikan dalam jumlah aktivitas Rusia di Asia Pasifik,” kata Komandan AU Pasifik Jenderal Herbert Carlisle. 

Berbicara di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, D.C., Carlisle menyebutkan Rusia telah memamerkan kapabilitasnya dan memata-matai latihan militer AS di di Pasifik.

Di Timur Jauh, militer akan menempatkan senjata canggih sistem misil antikapal Bal dan Bastion serta pesawat tanpa awak ke Kuril bagian selatan, yang juga diklaim oleh Jepang. Sistem misil antikapal akan ditempatkan di pulau-pulau sengketa dan mampu menyerang target berjarak lebih dari 300 kilometer.

Kapal-kapal Angkatan Laut Tiongkok dan Rusia bepartisipasi dalam latihan angkatan laut "Joint Sea 2014" di luar pesisir Shanghai di Laut Tiongkok Timur. Sumber: ReutersKapal-kapal Angkatan Laut Tiongkok dan Rusia bepartisipasi dalam latihan angkatan laut "Joint Sea 2014" di luar pesisir Shanghai di Laut Tiongkok Timur. Sumber: Reuters

Rusia juga membangun pasukan kapal selam di wilayah itu. Menurut analis militer Rusia Dmitry Gorenburg, “Armada Pasifik sepertinya menjadi armada terbesar Rusia pada dekade mendatang, melihat peningkatan kepentingan geopolitik dan konsentrasi kekuatan marinirnya di wilayah tersebut.”

Rusia hendak mengganti kapal selam Perang Dingin mereka dengan 12 kapal selam nuklir strategis Borei yang bertenaga nuklir dan membawa misil balistik hulu ledak nuklir. AL Rusia berencana menaruh enam kapal selam ungguh mereka di Armada Pasifik.

Kekuatan udara Rusia juga terus melaju. Reuters melaporkan bulan lalu jumlah Pasukan Pertahanan Udara Jepang yang dikerahkan untuk menghadapi pesawat Rusia meningkat hingga rekor 45 persen menjadi 359 pasukan hingga Maret. Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) mencegat 50 pesawat pengebom jarak jauh Rusia dalam lima tahun terakhir. 

Insting Dasar

Sebagai bagian dari pembangunan militer adidayanya, Rusia juga memperkuat markas-markas militer mereka. Menurut Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Rusia sedang mempertimbangkan kemungkinan mendirikan markas angkatan laut di Kepulauan Kuril. Kapal Armada Pasifik Rusia akan mengunjungi area tersebut untuk mencari lokasi yang cocok, terangnya.

Kehadiran militer Rusia di markas Perang Dingin raksasa Cam Ranh Bay di Vietnam saat ini berada di titik minimal, dengan sejumlah pesawat pengebom strategis Rusia Tu-95 secara berkala mampir untuk mengisi bahan bakar, tapi Hanoi berkukuh tingkat kehadiran Rusia lebih tinggi dari itu.

Kini, Rusia berupaya mencari teman di Pasifik Selatan, yang merupakan pemasok senjata utama bagi Fiji. Negara-negara kepulauan menjauhkan dirinya dari pengaruh Barat sebagai bagian dari Kebijakan Beralih ke Utara, sehingga Rusia bisa mendirikan markas di sana. Kapal mata-mata Tiongkok menyamar sebagai kapal nelayan untuk mengintai markas AL Amerika di wilayah tersebut, dan Rusia bisa saja meniru langkah Beijing tersebut suatu hari.

Akhir Permainan

Serangan adalah bentuk terbaik pertahanan, kata pepatah militer. Daripada menunggu blok AS menghantam Rusia dan Tiongkok dengan kekuatan militernya, kedua negara lebih memilih untuk menghadapi Barat dengan maju ke depan.

Lebih dari sekadar dorongan balik, kehadiran Rusia dapat menstabilikan wilayah tersebut. Sebagian besar wilayah Asia tak percaya pada Tiongkok. Sementara, langkah Rusia beralih ke Asia Pasifik secara diam-diam merupakan kabar yang disambut gembira oleh teman-teman dekat Moskow, yang juga merupakan lawan Tiongkok di wilayah tersebut. Menurut Miles Maochun Yu, profesor sejarah marinir dan militer serta pakar Asia Timur di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat, “Beberapa negara terjebak di tengah persimpangan Tiongkok-AS, kini mereka lega melihat Rusia hadir sebagai ‘tempat aman’ di Asia Pasifik.”

Rakesh Krishnan Simha merupakan jurnalis yang tinggal di Selandia Baru dan analis hubungan luar negeri, dengan ketertarikan khusus dalam sejarah pertahanan dan militer. Ia kini menjadi Dewan Penasihat Diplomasi Modern, portal hubungan luar negeri yang berbasis di Eropa. Ia berkicau di Twitter sebagai @byrakeshsimha. Pandangan yang disampaikan di sini bersifat personal dan tak merefleksikan pandangan RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.