ISIS Kembali Ancam Rusia

Para militan ISIS melakukan konvoi sambil mengibarkan bendera mereka dalam parade militer di sepanjang jalan di Provinsi Raqqa, sebelah utara Suriah, 30 Juni 2014.

Para militan ISIS melakukan konvoi sambil mengibarkan bendera mereka dalam parade militer di sepanjang jalan di Provinsi Raqqa, sebelah utara Suriah, 30 Juni 2014.

Reuters
Dengan menyebut nama Allah, kelompok teroris ISIS kembali mengancam Rusia dan Presiden Putin. Meskipun acaman itu tak akan memengaruhi kebijakan Rusia dalam memerangi terorisme, para pakar menilai ancaman tersebut sungguh nyata dan tak bisa disepelekan.

ISIS kembali memublikasikan sebuah video ancaman di YouTube pada 31 Juli lalu. Tampak seorang pria yang mengenakan penutup wajah, berkata dengan mata tertuju pada kamera, “Putin, Anda dengar? Kami juga akan datang ke Rusia dan akan membunuh Anda di sana, insya Allah.” Ia lalu menyerukan agar para milisi Islam meluncurkan jihad di Rusia. Menurut laporanReuters, tautan video tersebut dikirim oleh akun aplikasi Telegram yang terhubung dengan para milisi.

Kremlin menanggapi pesan teroris tersebut dengan menegaskan bahwa ancaman semacam itu tak akan memengaruhi kebijakan Rusia dalam memerangi terorisme. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Kepresidenan Dmitry Peskov, yang menambahkan bahwa Rusia tak perlu pontang-panting menghadapi ancaman teroris yang ‘ekornya sedang diinjak-injak’.

Mengapa Sekarang?

ISIS memanggil para pengikutnya untuk melakukan jihad di Rusia karena operasi militer yang dilancarkan Angkatan Udara Rusia di Suriah menciptakan kerusakan serius bagi mereka, demikian disampaikan Vladimir Akhmedov, peneliti senior dunia Arab di Institut Studi Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia. “ISIS benar-benar compang-camping. Berdasarkan beragam perkiraan, ISIS telah kehilangan sekitar 30 – 50 persen wilayahnya di Suriah,” kata sang pakar.

Sergei Goncharov, presiden asosiasi veteran antiteror internasional unit Alfa, juga sepakat dengan pandangan tersebut. Ia mengaitkan ancaman terhadap Rusia dengan serangkaian serangan baru-baru ini yang terjadi di sejumlah negara Barat. “Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.”

Seberapa Nyata Ancaman Itu?

Sejauh ini, ISIS belum melakukan aksi terorisme besar-besaran di tanah Rusia. Serangan terbesarnya sejauh ini ialah meledakkan pesawat penumpang Rusia Airbus A321 di atas Semenanjung Sinai, 31 Oktober 2015 lalu, yang menewaskan 224 jiwa. Namun demikian, para pakar mengingatkan bahwa ancaman teroris harus ditanggapi dengan serius.

“Ada sekitar dua ribu hingga empat ribu warga negara Rusia yang bertempur di pihak ISIS, sebagian besar warga suku Chechnya dan penduduk dari republik lainnya di Kaukasus Utara,” kata Vladimir Akhmedov. Seiring dengan kekalahan-kekalahan militer mereka di Suriah dan Irak, kemungkinan para milisi akan kembali ke Rusia dan melancarkan aksi terorisme, tambahnya.

Bagaimana Rusia Menghadapi Ancaman Teroris?

Di saat yang sama, pakar menilai bahwa Rusia tak serentan negara-negara Eropa, kata Sergei Goncharov. “Negara-negara Eropa dibanjiri oleh para pengungsi, termasuk para anggota ISIS yang menyamar. Mereka bisa aktif kapan saja. Hal itu tak mungkin terjadi di Rusia,” kata Akhmedov.

Secara umum, pasukan keamanan Rusia dinilai mampu mengatasi ancaman dan mencegah para milisi kembali ke Rusia. “Perbatasan kita di bawah kendali. Para petugas di lapangan memiliki data para bandit yang bertempur di Suriah,” kata Goncharov.

Tak lama sebelum video ancaman ISIS muncul, Direktur Badan Keamanan Federal Rusia FSB Alexander Bortnikov menyebutkan bahwa departemennya melakukan upaya sistemik untuk mencegah serangan teroris. “Jumlah pelaku potensial bom bunuh diri yang kami awasi mencapai lebih dari 220 orang,” katanya. Bortnikov menambahkan bahwa FSB bekerja sama dengan badan rahasia asing, termasuk dari AS sebagai upaya memerangi terorisme internasional.

Para pakar yakin meski ISIS telah mengeluarkan ancaman, operasi militer Rusia di Suriah akan tetap berlanjut, karena itu merupakan satu-satunya cara mengalahkan kelompok teroris tersebut dan mencegah perluasan serangan mereka. “Kita tak hanya perlu mengalahkan ISIS, tapi juga menghancurkan markas sosial mereka,” kata Akhmedov. Menurutnya, jika ISIS kehilangan wilayah dan dukungannya di Suriah, popularitas mereka akan mulai menyusut.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.