Tujuh Pertanyaan dan Jawaban Seputar Penembakan Helikopter Mi-8 di Suriah

Orang-orang memeriksa puing-puing helikopter Rusia yang ditembak jatuh di sebelah utara Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, 1 Agustus 2016.

Orang-orang memeriksa puing-puing helikopter Rusia yang ditembak jatuh di sebelah utara Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, 1 Agustus 2016.

Reuters
Pada 1 Agustus lalu, milisi dari front Al-Nustra menembak jatuh sebuah helikopter transportasi militer Rusia Mi-8 di Provinsi Idlib. Kelima kru pesawat tewas. Apa saja yang telah diketahui mengenai serangan tersebut dan bagaimana Moskow mencegah jatuhnya korban tewas tentara Rusia di Suriah lebih lanjut?

1. Ke mana Mi-8 hendak terbang?

Helikopter transportasi militer Mi-8 tengah berada dalam perjalanan menuju markas militer Hmeimim setelah membawa bantuan kemanusiaan bagi para penduduk Aleppo.

2. Siapa yang menembak helikopter?

Milisi front al-Nusra di Provnisi Idlib menembak jatuh helikopter dengan menggunakan misil darat-ke-udara.

3. Bagaimana helikopter dihancurkan?

Helikopter tersebut sedang terbang di ketinggian 4.500 meter saat mengalami serangan. Sebuah helikopter yang terbang di ketinggian itu dapat ditembak oleh sistem pertahanan udara (yang tak dimiliki para milisi) atau menggunakan sistem pertahanan udara MANPADS (man-portable air-defense systems).

Menurut pakar militer TASS Victor Litovkin, para teroris kemungkinan menembak Mi-8 dengan MANPAD Igla, yang mereka curi dari gudang senjata di Libya, atau MANPAD Stinger Amerika, yang dipasok untuk oposisi moderat, tapi jatuh ke tangan para milisi.

4. Bagaimana seharusnya awak helikopter merespons serangan misil darat-ke-udara pendeteksi panas?

Helikopter transportasi militer Mi-8 dilengkapi dengan sejumlah sistem perlindungan terhadap misil darat-ke-udara dan udara-ke-udara. Salah satunya berupa jebakan panas untuk mengalihkan rudal jelajah dengan inframerah dari helikopter, yang harus digunakan para kru saat diserang oleh MANPAD.

“Sistem ini menembakkan semacam rudal berlidah api dan ‘menarik’ hulu ledaknya ke mereka. Karena temperatur lidah api lebih tinggi dari temperatur mesin, hulu ledak yang dikendalikan inframerah terbang menjauhi helikopter,” kata Dmitri Safonov, pengamat militer dari surat kabar Izvestia.

Namun, alasan mengapa para kru tak meluncurkan jebakan panas ini tak diketahui.

Dokumentasi dari lokasi ditembak jatuhnya helikopter. Sumber: baladi- news / YouTube

5. Mengapa helikopter itu terbang tanpa pengawalan?

Menurut Litovkin, hal ini adalah kesalahan komando pasukan udara Rusia di Suriah, serta mata-mata Suriah, yang menyampaikan pada militer Rusia bahwa sepanjang rute yang akan dilalui Mi-8 tak akan ada militan.

6. Apakah Mi-8 membawa senjata?

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, selama melakukan misi, Mi-8 hanya dipersenjatai oleh senapan mesin yang dilengkapi amunisi.

Namun, sebuah tweet dari Eliot Higgins, seorang pendiri situs jurnalisme investigasi Bellingcat, dan satu lagi dari wartawan Jerman Björn Stritzel menunjukkan foto-foto yang menunjukkan rocket pod yang kosong di lokasi kecelakaan.

7. Misil apa yang ditemukan di lokasi kecelakaan Mi-8?

Menurut keterangan Wakil Direktur Institut Analisis Politik dan Militer Alexander Khramchikhin, rocket pod dengan hulu ledak reaktif kendali dan tanpa kendali dapat dipasang ke helikopter. Namun, dalam misi kemanusiaan di Aleppo, Mi-8 tidak membawa hulu ledak semacam itu.

“Dalam perang, tak ada moda transportasi yang ‘bersih’. Pertanyaannya adalah misi apa yang harus dicapai oleh helikopter tersebut. Mi-8 memiliki perangkat militer, tapi tak berarti mereka akan digunakan. Hal ini tak bisa dibandingkan dengan (helikopter) Ka-52, misalnya,” terang Khramchikhin.

Kekalahan Tentara Rusia di Suriah

Ini adalah pertama kalinya sejak awal operasi pada 30 September lalu kontingen Rusia di Suriah kehilangan lima tentara dalam satu insiden. Sebelum penembakan Mi-8, jumlah total korban tewas dari pihak Rusia ialah 14 orang.Terakhir kali tentara Rusia tewas di Suriah adalah pada 22 Juli, akibat ledakan perangkat peledak rumahan, yang juga terjadi dalam misi kemanusiaan di Aleppo.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.