Mengapa Erdoğan Minta Maaf pada Putin?

Surat permintaan maaf pemimpin Turki pada Vladimir Putin dianggap sebagai kemenangan politik bagi Moskow dan negara yang ingin bekerja sama dengan Rusia.

Surat permintaan maaf pemimpin Turki pada Vladimir Putin dianggap sebagai kemenangan politik bagi Moskow dan negara yang ingin bekerja sama dengan Rusia.

AP
Permintaan maaf Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kepada Rusia atas penembakan pesawat pengebom Rusia di Suriah pada November 2015 lalu mungkin tak setulus kelihatannya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan telah meminta maaf pada Presiden Rusia Vladimir Putin atas penembakan pesawat pengebom Rusia Su-24 di atas langit Suriah, demikian disampaikan juru bicara kepresidenan Rusa Dmitry Peskov. 

Menurut para pakar, Erdoğgan mengambil langkah tersebut akibat memburuknya hubungan dengan Uni Eropa karena masalah pengungsi dan konsekuensi ekonomi yang mereka tanggung setelah memutuskan hubungan dengan Moskow.

“Setelah insiden Su-24, Turki menguji kebijakan luar negerinya untuk mencari sekutu dalam isu ini dengan bermain di tengah kontradiksi antara Uni Eropa dan Rusia,” kata Alexei Arbatov, Kepala Pusat Keamanan Internasional di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, dalam wawancara dengan RBTH.

Menurutnya, situasi politik dan ekonomi memaksa Ankara mengubah posisinya: krisis keuangan dan memburuknya hubungan dengan Moskow memberi dampak negatif bagi keuangan negara tersebut.

“Hal ini diperparah dengan situasi pengungsi: kebutuhan untuk menahan arus migrasi ke Eropa, isu kompensasi bagi Ankara (atas penerimaan pengungsi), keluarnya Inggris dari Uni Eropa, yang dikaitkan dengan arus pengungsi dan penolakan Ankara masuk keluarga Eropa, dan sebagai konsekuensinya ialah memburuknya hubungan dengan Brussel,” terang sang pakar.

Alasan di Balik Permintaan Maaf

Pengembalian hubungan baik dengan Rusia akan memperkuat keamanan di wilayah tersebut dan menyelesaikan sejumlah tantangan yang dihadapi Turki saat ini, demikian disampaikan ilmuwan politik Turki Hakan Aksay.

Dalam enam bulan terakhir, Turki telah mengalami sejumlah serangan teroris dari militan Partai Buruh Kurdistan, serta sejumlah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan hak minoritas seksual di negara tersebut.

“Karena itu, Erdoğan mencoba untuk memperlunak situasi setidaknya dengan salah satu front dan meminta maaf dengan harapan akan bisa segera melanjutkan proyek gabungan dengan Moskow,” kata sang pakar.

Menurut Arbatov, proyek ini termasuk pengembalian sektor pariwisata, pencabutan sanksi ekspor agrikultur, melanjutkan pembangunan PLTN di Turki selatan yang bernilai lebih dari 20 miliar dolar AS, serta proyek Turkish Stream.

“Rusia akan diam sejenak — mereka tak akan buru-buru merangkul Turki,” kata sang pakar. “Sejumlah langkah perlahan menghapuskan konfrontasi dengan Turki akan dimulai.”

Kemenangan Politik bagi Moskow

Surat permintaan maaf pemimpin Turki pada Vladimir Putin merupakan kemenangan politik bagi Moskow dan negara yang ingin bekerja sama dengan Rusia, demikian disampaikan Dekan Departemen Politik dan Ekonomi Dunia di Higher School of Economics (HES) Sergei Karaganov.

“Perseteruan antara kedua negara telah menghancurkan Timur Tengah dan proses rekonstruksi di wilayah tersebut,” kata Karaganov. “Keputusan rekonsiliasi dengan Moskow telah diperdebatkan di Turki sejak lama. Konfrontasi mengenai isu ini, yang sebetulnya merupakan salah Turki, tak sesuai dengan kepentingan siapa pun.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.