Bagaimana Kehidupan Tentara Rusia di Suriah?

Nikolai Litovkin
Koresponden RBTH terbang ke Suriah dan menyaksikan bagaimana kehidupan para tentara Rusia di sana.

Pada pagi hari, 4 Mei 2016, sebuah pesawat Il-62 yang mengangkut 150 jurnalis dari Moskow tiba di markas militer Rusia di Hmeimim, Suriah. Para jurnalis tersebut lalu dipertemukan dengan delegasi kolonel dan jenderal Rusia yang memimpin operasi serangan udara.

Tepat saat kami keluar dari pesawat, sebuah pesawat tempur generasi ke-4++ Su-35S lepas landas dari landasan udara sebelah.

Meski sebagian besar pesawat tempur dan pengebom Rusia telah ditarik dari Suriah pada pertengahan Maret lalu, operasi militer melawan para militan ISIS dan front al-Nusra berlanjut. Demikian hal itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.

“Pesawat tempur dan pengebom kami bergerak menuju kota Raqqa dan Deir ez-Zor. Pertempuran berat dan panjang melawan ISIS telah menanti mereka di sana. Penerbangan dilakukan siang dan malam. Dalam empat hari terakhir, kami sudah melakukan 87 penerbangan militer,” kata sang mayor jenderal, 4 Mei lalu.

Kehidupan di Markas Hmeimim

Keseharian tentara Rusia di Suriah dimulai pada pukul 6 pagi. Jam beker berbunyi, para tentara bangkit dan membentuk barisan lalu melakukan jalan pagi sejauh 3 – 5 kilometer. Mereka kemudian diberi waktu 10 menit untuk menyegarkan diri sebelum sarapan.

“Ini adalah gaya hidup. Awalnya sulit, terutama karena kami berada di padang gurun. Tapi lama-kelamaan kami terbiasa,” terang salah seorang tentara yang berasal dari Timur Jauh.

Menurut pejabat militer Rusia di Suriah, hanya tentara terbaik Rusia yang bepartisipasi dalam operasi militer di Suriah, mereka yang ‘seefisien jam Swiss’. Semua tentara berbasis kontrak, bukan wajib militer. Banyak perempuan muda yang ikut bepartisipasi, mereka tinggal di barak terpisah dan kebanyakan bekerja sebagai tim medis.

Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
Nikolai Litovkin
 
1/12
 

Di sepanjang area markas, terdapat banyak sistem radar, termasuk sistem misil antipesawat Pantsir-S1 dan ZRK S-400. Markas tersebut juga memiliki unit khusus, pasukan penerjun payung, serta pasukan marinir.

Tentara yang tidak turun ke medan tempur bertugas merawat perangkat darat dan udara, mulai dari BTR-82A dan kendaraan lapis baja Tigr, hingga helikopter tempur Ka-52, Mi-28Ns, pesawat tempur, dan pengebom.

Pada pagi hari, selain melakukan lari pagi, mereka juga menjalani dua sesi latihan. Tentara dan para pejabat militer mengasah kecakapan tempur mereka dengan simulator yang ditempatkan di dekat permukiman.

Terdapat pula perpustakaan dan bioskop untuk para tentara sehingga mereka bisa menyaksikan kabar harian dan menonton film di akhir pekan.

Untuk kepentingan psikologis dan spiritual, markas juga memiliki psikolog dan pendeta.

Menurut pendeta Dmitri Solonin, ketika seseorang berada di antara hidup dan mati, biasanya mereka berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Tak ada ateis di sini,” kata sang pendeta mengutip jurnalis Amerika pemenang Penghargaan Pulitzer Ernie Pyle. “Saya yakin akan hal ini setelah menjalankan 16 misi di titik tempur.”

Keseharian Penjinak Ranjau di Palmyra

Pada 2 April 2016, pasukan teknik Rusia mulai menjinakkan ranjau di area Tadmur. Terdapat lebih dari seratus penjinak ranjau yang ikut beraksi.

Di area dekat kamp penjinak ranjau Rusia, masih berlangsung pertempuran melawan front al-Nusra. Militan berada di kota Sukhne, 44 kilometer dari Tadmur, dan terus mencoba merebut kembali kota tersebut. Bahkan kedatangan jurnalis Rusia di kamp penjinak ranjau perlu didampingi oleh meriam artileri yang mengarah ke posisi teroris.

Kepala Pasukan Teknik Rusia di Tadmur, Letnan Jenderal Yuri Stavitsky, menyebutkan bahwa mereka telah membersihkan 825 hektar area di kota, 8.500 bangunan, serta menemukan hampir 18 ribu bahan peledak.

“Para teroris menyebarkan ranjau dengan sangat rumit, menggunakan metode baru penempatan ranjau darat, bagian yang seharusnya tak dihilangkan,” kata Stavitsky.

Menurut Stavitsky, terdapat penjinak ranjau di kalangan teroris yang mampu menciptakan model baru bahan peledak.

Selain unit penjinak ranjau dan pasukan anjing militer, operasi tersebut juga dibantu oleh sistem robot canggih Uran-6.

Tim ahli telah membersihkan wilayah Tadmur seluruhnya dari bahan peledak dan saat ini melatih pasukan Suriah. Tentara biasa menunggu perintah untuk menutup kamp dan mendengar kalimat yang melegakan, “Waktunya kita pulang.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.