Vladimir Putin Ungkap Rahasia Keluarganya pada Masa Perang Dunia II

Vladimir Putin.

Vladimir Putin.

Mikhail Klementyev/TASS
Vladimir Putin menuturkan pengalaman orangtuanya yang tinggal di Leningrad (sekarang Sankt Peterburg) pada masa Perang Dunia II dalam sebuah artikel di majalah Russky Pioner. Dalam esai yang berjudul “Hidup itu sederhana, tapi kejam”, sang presiden Rusia mengungkapkan bagaimana ayahnya berhasil bertahan hidup di tengah misi sabotase Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri (NKVD), perjuangan ibunya, serta nasib tragis yang menimpa saudara laki-lakinya pada Pengepungan Leningrad.

Presiden Vladimir Putin pernah menulis artikel untuk majalah Russky Pioner (Pionir Rusia), mendeskripsikan masa-masa sulit yang dilalui orangtuanya pada masa Perang Dunia II. Sang pemimpin Rusia ini juga mengenang nasib tragis yang menimpa saudara laki-lakinya dan menuliskan bahwa baik ayah maupun ibunya tak pernah merasa dendam terhadap para tentara Jerman.

Menurut Putin, saat meletusnya perang, ayahnya bekerja di salah satu pabrik di Leningrad. Meski Putin Senior memiliki bron (hak untuk tidak ikut dalam peperangan), ia  mengajukan diri sebagai sukarelawan setelah bergabung dengan Partai Komunis.

Ia kemudian mendaftarkan diri untuk bergabung dengan NKVD (polisi rahasia pada masa itu). Dalam sebuah misi, karena pengkhianatan yang dilakukan salah satu anggota, pasukannya hampir dimusnahkan oleh pasukan Jerman, yang menewaskan 24 dari 27 rekannya. Putin Senior berhasil bertahan hidup setelah menghabiskan beberapa jam di dalam lumpur, bersembunyi di bawah tanah, bernapas sembunyi-sembunyi saat pasukan Jerman lewat.

“Kamu Akan Bertahan Hidup dan Saya Siap Mati”

Setelah itu, ayah Putin dikirim ke “Nevsky Pyatachok”, sebuah wilayah kecil namun penting di pinggir Sungai Neva dekat Leningrad, yang berhasil dipertahankan oleh pasukan Soviet dengan mengorbankan nyawa puluhan ribu tentara. Putin Senior terluka dalam pertempuran, tapi ia berhasil diselamatkan oleh salah satu rekannya yang merupakan tetangganya dari Leningrad.

Tentara pertama menggotongnya melintasi sungai beku yang disapu peluru, dan menggendong ayah Putin di punggungnya menuju rumah sakit. Seperti yang dideskripsikan dalam artikel, rekannya ini memastikan Putin Senior menerima perawatan medis yang dibutuhkan dan berkata padanya, “Ya, beginilah. Anda akan bertahan hidup dan saya akan menyambut kematian.” Namun, sang tentara berhasil bertahan hidup melewati masa perang, dan Putin Senior kembali bertemu penyelamatnya di Leningrad beberapa tahun kemudian.

“Ia Tak Akan Berhasil Melewati Ini”

Seperti yang dikenang sang presiden, saat berada di rumah sakit, ayahnya menyerahkan jatah makannya untuk istrinya, yang kemudian memberikan seluruhnya untuk putra bungsunya, adik Vladimir Putin. Sayangnya, dokter kemudian mengetahui tentang hal ini dan melarang istri Putin untuk mengunjungi suaminya yang masih terbaring di rumah sakit.

Pengepungan Leningrad

Pengepungan Leningrad pada masa Perang Dunia II (berlangsung dari 8 September 1941 sampai 8 Januari 1944) merupakan pengepungan Jerman terhadap kota Leningrad (sekarang Sankt Peterburg) di Soviet Rusia. Pengepungan ini merupakan pengepungan terbesar dan paling berdarah dalam sejarah, menewaskan lebih dari satu juta orang. Pihak Jerman menyebutnya Operation Nordlicht (Operasi Cahaya Utara).
Pada masa Pengepungan Leningrad, adik Putin mengidap difteria, dan orangtuanya bahkan tak tahu di mana ia dimakamkan. Baru beberapa tahun kemudian mereka mengetahui bahwa putranya dikubur di Pemakaman Piskarevskoye, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 500 ribu jiwa pada tahun-tahun pengepungan, baik tentara yang tewas di medan perang maupun warga sipil yang meninggal akibat penyakit dan kelaparan.

Putin juga menceritakan kisah ibunya yang selamat dari kematian secara menakjubkan. Ketika kembali ke rumah dari rumah sakit, saat ayah Putin hampir sampai di blok apartemennya, ia melihat paramedis menggotong mayat dan menyadari itu adalah istrinya. Yakin bahwa ia masih hidup, ia meminta paramedis untuk berhenti, tapi mereka bilang ia tak akan bertahan hidup dan ‘akan meninggal dalam perjalanan’.

“Ia bercerita, ia menyerang mereka dengan kruknya (peyangga kaki -red.) dan membuat mereka mengembalikan istrinya ke apartemen,” tulis Putin, menambahkan bahwa ayahnya merawat sang istri hingga sehat dan ia hidup sampai tahun 1999. Ayahnya wafat setahun sebelumnya.

“Bagaimana Orang Bisa Membenci Mereka?”

Vladimir Putin menyebutkan ayahnya memiliki enam saudara laki-laki dan lima di antaranya tewas dalam perang. Beberapa kerabat ibunya juga terbunuh dalam konflik berdarah tersebut. Di saat yang sama, ia menekankan bahwa orangtuanya tak menyimpan dendam terhadap tentara Jerman. “Bagaimana mungkin mereka membenci para tentara itu? Mereka hanya orang biasa dan mereka juga tewas dalam perang. Mereka adalah buruh, sama seperti kita. Mereka juga dikirim ke medan perang,” kata ibunya pada Putin.

Seperti yang disampaikan Putin dalam artikelnya, semua kisah yang diceritakan orangtuanya mengenai masa perang kemudian terbukti satu-persatu.

Artikel ini bukan kiriman pertama Vladimir Putin untuk Russky Pioner. Sebelumnya, sang presiden menulis kolom lain untuk majalah ini, mendeskripsikan sensasi yang menaungi kehidupannya serta caranya mengelola bawahannya.

Terbit sejak 2008, Russky Pioner disunting oleh jurnalis Andrei Kolesnikov, seorang kolumnis untuk surat kabar Kommersant yang dikenal akrab dengan presiden Rusia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.