Selalu Merasa Teracam, AS Terus Perkuat Sistem Pertahanan Misilnya di Eropa

Pasukan AS dari Batalion V Resimen Pertahanan Udara VII terlihat di medan pelatihan di Sochaczew, Polandia, pada 21 Maret 2015. Saat itu, pasukan AS tengah mengikuti latihan gabungan dengan pasukan Polandia dari Skuadron Rudal Pertahanan Udara ke-37 yang mendemonstrasikan kapasitas tentara AS dalam menyebarkan sistem Patriot secara cepat dalam wilayah NATO. Pelatihan ini merupakan bagian dari operasi Atlantic Resolve yang lebih luas, yang diadakan di tengah memanasnya konflik bersenjata di perbatasan timur NATO, di Ukraina, yang juga melibatkan Rusia.

Pasukan AS dari Batalion V Resimen Pertahanan Udara VII terlihat di medan pelatihan di Sochaczew, Polandia, pada 21 Maret 2015. Saat itu, pasukan AS tengah mengikuti latihan gabungan dengan pasukan Polandia dari Skuadron Rudal Pertahanan Udara ke-37 yang mendemonstrasikan kapasitas tentara AS dalam menyebarkan sistem Patriot secara cepat dalam wilayah NATO. Pelatihan ini merupakan bagian dari operasi Atlantic Resolve yang lebih luas, yang diadakan di tengah memanasnya konflik bersenjata di perbatasan timur NATO, di Ukraina, yang juga melibatkan Rusia.

AP
Para pakar Rusia menilai Washington menggunakan isitilah ‘ancaman Rusia’ sebagai alasan untuk mempromosikan sistem persenjataannya di wilayah Eropa.

Pentagon meningkatkan upayanya untuk menempatkan sistem pertahanan misil AS di Eropa. Langkah ini dilatarbelakangi oleh sikap saling tuduh antara AS dan Rusia terkait pelanggaran Traktat Armada Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/INF) yang seharusnya dikurangi secara bertahap.

Berpidato di hadapatan Komite Senat pada 13 April lalu, Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Milier Brian P. McKeon menyebutkan, “Melihat pelanggaran traktat INF yang dilakukan Rusia, kami mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk menjawab aksi militer Rusia termasuk memodifikasi dan memperluas keberadaan sistem pertahanan udara guna menangkal kapabilitas serangan Rusia.”

Pengamat militer dan mantan anggota Komisi Industri-Militer Rusia Viktor Litovkin menyampaikan pada TASS bahwa aksi AS ditujukan untuk mempromosikan dan ‘menegaskan’ keberadaan sistem senjatanya di Eropa. “Washington terus menakut-nakuti wilayah tersebut dengan ancaman Rusia dan mempromosikan sistem senjatanya pada negara-negara NATO. Artinya, AS akan mengantongi uang tambahan dengan memberi tekanan politik,” katanya.

Litovkin menambahkan bahwa AS berencana memasok Eropa dengan sistem misil yang setara dengan misil permukaan-ke-udara Rusia S-300, Patriot PAC-3. “Sistem ini akan melengkapi sistem pertahanan misil yang ditempatkan di Polandia dan Romania.”

Tuduhan AS

Pentagon menuduh Moskow bahwa rudal jelajah R-500 yang dipasang pada sistem misil Iskander-M mampu menyerang target dengan jarak lebih dari 500 km, sehingga Rusia melanggar batas yang ditetapkan oleh traktat INF. Ia juga menyebutkan bahwa misil balistik antarbenua RS-26 Rubezh melanggar traktat INF karena dapat digunakan menyerang target dengan jangkauan 5.500 km.

Moskow menyanggah tuduhan tersebut, menambahkan bahwa mereka tak bersedia memberi penjelasan detil karena Washington tak mengeluarkan bukti dan komunikasi yang terdokumentasi terkait isu ini.

“Mereka hanya bilang, Anda melakukan uji coba misil, Anda tahu apa artinya. Tapi ini bukan percakapan serius,” kata Menlu Rusia Sergei Lavrov dalam konferensi pers Juni 2015.

Kemenlu Rusia menegaskan bahwa pemimpin politik dan militer senior Rusia bersedia bekerja sama secara bilateral terkait isu INF.

Namun, Rusia tak menerima surat resmi dari AS terkait hal ini dan pada akhir 2015 Washington mengumumkan bahwa mereka mungkin mengeluarkan sanksi ekonomi baru bagi Moskow terkait pelanggaran traktat INF.

Posisi Moskow

Moskow khawatir jika sistem misil AS di Eropa Timur akan bertransformasi dari sistem defensif menjadi sistem ofensif, yang otomatis membuat AS melanggar traktat INF sendiri, tutur Wakil Kepala Institut Analisis Politik dan Militer Alexander Khramchikhin.

“Sistem misil AS bisa saja kelak digunakan untuk menempatkan rudal jelajah di situs peluncuran,” tuturnya. Secara khusus, fasilitas penuncuran misil pencegat Standard SM-3 dapat digunakan untuk meluncurkan rudal jelajah strategis Tomahawk.

“Rusia menyatakan bahwa traktat INF juga mencakup misil target yang dikembangkan oleh AS untuk menguji sistem pertahanan misilnya. Akibatnya, misil jarak menengah tersebut dibuat tanpa hulu ledak. Namun, AS tak menerima hal itu,” tambah Khramchikhin.

Menurut pakar Rusia, traktat INF juga seharusnya mencakup pesawat tanpa awak AS karena karakteristik teknis dan taktis mereka setara dengan rudal jelajah berbasis darat, yang tercantum dalam kesepakatan.

Haruskah Traktat Dibatalkan?

Namun, meski berselisih pendapat, Moskow dan Washington menyatakan komitmen mereka untuk bekerja sama terkait traktat INF.

“Kami terbuka dengan dialog jujur dan spesifik yang berisi untuk menghapuskan segala kekhawatiran,” kata Lavrov pada Juni 2015. Gedung Putih juga mendukung ide perlunya mempertahankan trakat ini di antara kedua negara.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.