Era Baru Hubungan Iran-Tiongkok Ancam Kepentingan Rusia?

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) disambut oleh Presiden Iran Hassan Rouhani saat upacara penyambutan sang presiden di Istana Saadabad di Teheran, Iran.

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) disambut oleh Presiden Iran Hassan Rouhani saat upacara penyambutan sang presiden di Istana Saadabad di Teheran, Iran.

AP
Tiongkok telah sepakat untuk membangun dua pembangkit energi tenaga nuklir di Iran dan mengimpor minyak Iran dalam jangka panjang. Kerja sama semacam itu mungkin mengancam posisi Rusia karena sebelumnya Moskow telah mengumumkan bahwa ia akan membangun delapan pembangkit nuklir di Iran. Posisi Rusia di pasar minyak Tiongkok, yang beberapa tahun terakhir telah menyingkirkan negara-negara Arab, juga akan terpengaruh.

Pada awal tahun ini, tepatnya 23 Januari, Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat bahwa Tiongkok akan membangun dua pembangkit energi tenaga nuklir di Iran selatan dan Iran akan memasok minyak dalam jangka panjang untuk Tiongkok. Kesepakatan berjangka sepuluh tahun tersebut akan meningkatkan nilai perdagangan antara kedua negara menjadi 600 miliar dolar AS, demikian dilaporkan Tehran Times. Rouhani menyebut pertemuan tersebut sebagai ‘fajar dari era baru’ hubungan Iran-Tiongkok.

Tiongkok telah menjadi mitra perdagangan utama Iran sejak lama. Pada 2014, perdagangan antara kedua negara mencapai 52 miliar dolar AS dan menurut Rouhani, pada 2026 angka tersebut akan meningkat menjadi 55 miliar dolar AS per tahun.

Ancaman bagi Minyak Rusia di Tiongkok

Kembalinya Iran telah memicu pertempuran baru di kalangan pemasok minyak di pasar Asia, yang di situ Rusia menempati posisi yang tinggi.

“Sejak awal jelas bahwa setelah pembatalan sanksi, Iran akan mulai memasok lebih dari satu juta barel minyak per tahun untuk Tiongkok. Namun, untuk saat ini hal tersebut tak mempegaruhi posisi perusahaan Rusia Rosneft di pasar Tiongkok,” kata Georgy Vaschenko dari Freedom Finance.

Kesepakatan minyak Iran-Tiongkok tak akan memengaruhi hubungan perdagangan Rusia-Tiongkok secara langsung, menurut Kepala Direksi Inzhinirigovaya Kompaniya 2K Ivan Andrievsky.

Pertama, minyak Rusia yang dipasok ke Asia memiliki kualitas yang lebih baik dibanding minyak dari negara-negara Teluk Persia. Kedua, pasokan logistik minyak Rusia dan Iran tak beririsan, tegas Andrievsky. Oleh karena itu minyak Iran tak akan bersaing dengan minyak Rusia, melainkan bahan bakar dari Arab Saudi, Kuwait, dan sebagainya.

Namun, biar bagaimana pun akan ada efek yang timbul. Iran sepertinya akan mengambil sepotong pasar minyak Tiongkok dari tiap pemasok. Namun, konsumen Asia tak akan ceroboh menghancurkan hubungan dengan produsen minyak lain demi Iran. Mereka tahu betul bahwa potongan harga yang diberikan Iran hanya bersifat sementara, tapi tentu saja akan sangat bodoh untuk tidak menyambut tawaran yang menarik tersebut.

Dalam kasus ini, peningkatan volume ekspor minyak Iran di Tiongkok diiringi dengan pelambatan permintaan bahan bakar Tiongkok (akibat pelambatan ekonominya), dan hal itu mungkin akan sedikit mengoreksi kehadiran Rusia yang lebih stabil di wilayah tersebut, tapi tak banyak.

Pada 2020, volume impor minyak Rusia per tahun ke Tiongkok akan mencapai 50 juta ton, sementara pada 2014 hanya 30 juta ton. Perkiraan itu dibuat tahun lalu oleh analis Wood Mackenzie Sushant Gupta di The Wall Street Journal.

Ancaman Terhadap Rosatom di Iran

Rusia dan Iran memiliki hubungan bisnis yang akrab dalam bidang penggunaan energi nuklir secara damai jauh sebelum kedatangan Xi Jinping ke Teheran setelah pembatalan sanksi. Cukup untuk mengingat bahwa Rosatom telah membangun pembangkit nuklir pertama di Busher.

Selain itu, pada November 2014 Moskow dan Teheran menandatangani kesepakatan untuk membangun delapan pembangkit energi nuklir secara bersamaan di Iran. Ini adalah kesepakatan terbesar dalam pasar nuklir selama beberapa tahun terakhir. Kesepakatan ini termasuk pembangunan tahap kedua reaktor Busher dengan menambah dua unit nuklir — yang mungkin diperbesar menjadi empat — dan rencana untuk membangun empat unit nuklir lainnya pada platform lain masih harus dipastikan.

Untuk sekarang, masih terlalu dini untuk bicara tentang ancaman Tiongkok terhadap proyek nuklir Rusia di Iran. Namun, fakta bahwa kali ini Tiongkok memenangkan tender pembangunan pembangkit energi nuklir merupakan pertanda negatif, kata Vaschenko. “Sebelumnya, perusahaan Rusia tak pernah kalah tender di Asia. Selain itu, Iran memperjelas bahwa mungkin ia kini punya banyak mitra strategis. Artinya, kerja sama di bidang minyak, gas, dan nuklir di masa mendatang mungkin tak akan berjalan mulus,” kata sang pakar.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Harian Vzglyad.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.