Adakah ‘Agenda Tersembunyi’ di Balik Penarikan Pasukan Rusia dari Suriah?

Kremlin sejak awal telah menekankan batasan misi Angkatan Udara Rusia dan keengganan Rusia untuk terlibat dalam operasi darat.

Kremlin sejak awal telah menekankan batasan misi Angkatan Udara Rusia dan keengganan Rusia untuk terlibat dalam operasi darat.

Iorsh
Keputusan penarikan pasukan Rusia dari Suriah tidak hanya mengejutkan negara-negara Barat, tetapi juga memunculkan sejumlah besar teori konspirasi mengenai alasan atas keputusan tersebut.

Keputusan penarikan tentara Rusia dari Suriah oleh Putin sesungguhnya tidak terlalu mengherankan. Putin akan terus berjuang sampai akhir hanya jika ia berada di situasi yang mempertaruhkan keamanan Rusia atau kelayakannya sebagai seorang pemimpin. Jika kepentingan kritis seperti itu tidak dipertaruhkan maka sesungguhnya presiden Rusia dapat dengan mudah “keluar dari situasi” tersebut.

Sang presiden selalu menyerang lebih dulu, demikian yang telah ia katakan berulang kali, dan ia pun selalu menjadi yang pertama keluar dari arena perkelahian jika hal tersebut dapat dilakukan dengan elegan dan tanpa kerugian. Hal tersebut dikenal sebagai prinsip dasar “judo politik” Rusia yang telah dipraktikkan sejak lama.

Barat yang mengevaluasi prospek operasi Rusia di Suriah terjebak di dalam perangkap “ketidakpercayaannya terhadap Moskow”. Kremlin sejak awal telah menekankan batasan misi Angkatan Udara Rusia dan keengganan Rusia untuk terlibat dalam operasi darat. Namun, Barat terus mencurigai Moskow memiliki “agenda tersembunyi”.

Moskow telah mengatakan bahwa operasi akan dilanjutkan selama tentara Suriah tetap berjuang melawan teroris. Namun kenyataannya, ketika tentara Assad mulai berpura-pura “mengepung Tadmur”, yang sebenarnya justru mengonsentrasikan pasukannya pada daerah di sekitar Aleppo, Rusia lantas memutuskan untuk menyelesaikan operasinya. Moskow telah jelas menunjukkan kepada Assad bahwa ia akan mendukung perlawan terhadap ISIS dan organisasi teroris lainnya, tetapi tidak akan membiarkan Assad memanfaatkan kemampuan militer Rusia demi menyelesaikan masalah politiknya.

Tentu saja, keputusan Moskow untuk membekukan operasi memiliki “dasar kedua”. Namun, dasar itu ternyata juga “transparan”.

Keputusan Kremlin berhubungan dengan tumbuhnya perbedaan pandang Rusia-Iran terhadap berbagai isu, termasuk mengenai kerja sama di sektor minyak. Namun, Moskow tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa ia ingin bertindak di Suriah sebagai bagian dari koalisi antiteroris dan memandang kebijakannya di Suriah sebagai bagian dari kebijakan geopolitik pada umumnya.

Pada saat Iran berhenti bersikap kooperatif, dan menunjukkan keengganannya untuk melanjutkan operasi aktif di Suriah (pasukan Hizbullah telah lebih dulu meninggalkan Suriah sebelum Putin mengumumkan keputusannya), salah satu kondisi yang paling penting untuk kelanjutan operasi Rusia pun lenyap. Bersamaan dengan itu, muncul risiko baru dan Kremlin memilih menarik diri pada tahap awal pengembangan. Jelas bahwa kepemimpinan Iran saat ini berkomitmen untuk menggunakan potensi dari pencabutan sanksi secara maksimal, termasuk menunjukkan kemampuan negaranya menjadi pemimpin regional.

Selain itu, yang lebih jelas adalah komitmen Moskow untuk melumpuhkan “kartu trump” tandem politik Merkel-Erdogan yang menghubungkan masalah migrasi di Eropa dengan tindakan Rusia di Suriah. Manuver Kremlin inilah yang kemudian membuat kampanye propaganda Eropa — yang benar-benar membuat Putin jengkel — tak membuahkan hasil. Dengan memperhitungkan dua tahun konfrontasi politik dengan Eropa dan perpanjangan sanksi secara terus-menerus, keinginan untuk menggunakan kesalahan politisi Eropa dirasa cukup logis.

Mesianisme

Suatu gerakan rakyat yang timbul atas kepercayaan bahwa seseorang tokoh akan datang untuk membebaskan orang dari segala penderitaan atau kesengsaraan.

Pragmatisme dan sinisme yang luar biasa dari kebijakan Rusia saat ini berlawanan dengan ideologi dan propaganda mesianisme Barat. Di dalam pragmatisme luar biasa Kremlin saat ini, anehnya, justru terbuka kejujuran dalam interaksi.

Kita juga tidak bisa melupakan hal berikut: Kremlin dikenal sangat sensitif terhadap fluktuasi opini publik, terutama dalam periode kesulitan ekonomi yang antara lain terkait kebijakan luar negeri. Meskipun keseluruhan operasi di Suriah menggunakan dukungan dari opini publik Rusia, yang melihatnya sebagai sebuah manifestasi status geopolitik Rusia yang baru, kemungkinan bentrokan militer di Suriah dengan Turki dan Amerika Serikat telah meningkatkan keprihatinan masyarakat ahli dan opini publik yang relatif luas.

Orang-orang bisa saja berdebat terkait seberapa nyata dan jauhnya Erdogan dapat melangkah dalam upayanya untuk mempertahankan kekuasaan “geopolitiknya” yang telah ia bangun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dalam opini publik Rusia, perspektif semacam itu dianggap nyata. Hal ini telah menunjukkan kepada Kremlin batas eskalasi yang diperbolehkan. Ketika tujuan operasi militer dan tugas-tugas politik untuk memulihkan hubungan dengan Washington telah diputuskan dan diumumkan, Kremlin tidak ingin mengambil risiko dan menciptakan ketegangan politik yang tidak perlu dalam opini publik.

Saat ini, setelah penarikan Rusia dari medan politik Suriah, Barat (khususnya Amerika) memiliki tantangan baru: apakah Washington dapat mengatasi situasi saat ini dan menunjukkan penetapan politik praktis?

Amerika kini ditinggalkan sendiri dengan masalah politik dan militer politik di wilayah tersebut, tidak hanya dengan Bashar al-Assad, tetapi juga dengan Erdogan yang semakin tidak terkendali, kemudian dengan para kelompok radikal yang mempertahankan potensi militer dan politiknya, dan tak lupa, Arab Saudi yang semakin jauh terjun ke dalam krisis internal. Namun, Putin akan akan tetap berkomunikasi dan memberikan Obama bantuan — jika itu diperlukan.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.