Bagaimana Reaksi Masyarakat Rusia Atas Kasus Penjagal Anak di Moskow?

Orang-orang tampak berduka di depan lokasi tempat seorang perempuan berpakaian hitam yang menenteng kepala seorang anak berusia empat tahun ditangkap, dekat stasiun metro Oktyabrskoe Pole di Moskow, Rusia, 1 Maret 2016. Pada 29 Februari 2016, polisi Rusia menangkap seorang perempuan berjilbab setelah ia mengeluarkan kepala anak yang ia penggal dari dalam tasnya dan mulai berteriak. Perempuan tersebut diketahui sebagai pengasuh sang anak.

Orang-orang tampak berduka di depan lokasi tempat seorang perempuan berpakaian hitam yang menenteng kepala seorang anak berusia empat tahun ditangkap, dekat stasiun metro Oktyabrskoe Pole di Moskow, Rusia, 1 Maret 2016. Pada 29 Februari 2016, polisi Rusia menangkap seorang perempuan berjilbab setelah ia mengeluarkan kepala anak yang ia penggal dari dalam tasnya dan mulai berteriak. Perempuan tersebut diketahui sebagai pengasuh sang anak.

EPA
Apakah benar ada ‘jejak Islam’ dalam pembunuhan balita berusia empat tahun di Moskow, dan apakah heningnya televisi dari pemberitaan mengenai tragedi tersebut disebabkan perintah dari pemerintah?

Pintu keluar stasiun metro Oktyabrskoye Pole di barat laut Moskow terbilang ramai. Di tempat inilah, pada Senin (29/2) pagi, seorang perempuan berpakaian hitam tampak menenteng kepala seorang anak berusia empat tahun sambil meneriakan “Allahu akbar!” dan mengancam akan meledakkan dirinya. Ia segera ditangkap oleh polisi, tapi ternyata bahan peledak sama sekali tak ditemukan pada perempuan tersebut.

Kini, lokasi penangkapan perempuan asal Uzbekistan Gyulcherkhra Bobokulova menjadi ‘tempat keramat’.

Warga Moskow membawa bunga dan mainan anak-anak untuk mengenang pembunuhan anak tersebut. Orang-orang yang lewat berhenti dan menatap tumpukan bunga. Mereka melepas topi, beberapa membuat tanda salib.

Berdasarkan tradisi di Rusia, ketika memberikan bunga kepada orang yang masih hidup, masyarakat percaya bahwa jumlah bunga yang diberikan harus ganjil. Sementara saat berkabung, bunga yang diberikan harus berjumlah genap.

Olga, seorang perempuan pirang separuh baya menaruh dua siung cengkih pada tumpukan tersebut, air mata memenuhi kelopak matanya.

“Saya merasa takut dan ngeri, saya sendiri punya anak,” katanya, dan mulai menangis.

“Saya tak bisa membayangkan apa yang membuat perempuan itu melakukan hal keji ini.”

Di dekat Olga, seorang pria tua menjelaskan pada teman di sebelahnya, “Kita dilarang membicarakan ini, tak ada berita di televisi!” Seorang lelaki lain hanya menggumamkan kata-kata kasar saat lewat dan mempercepat langkahnya.

Tak Diberitakan di Televisi

Kejahatan yang dilakukan pengasuh anak Bobokulova mengejutkan seluruh Rusia. Tubuh anak yang dipenggal tersebut ditemukan di sebuah apartemen di Ulitsa Narodnoi Militsii, yang dibakar oleh Bobokulova.

Menurut media Rusia, orangtua anak tersebut tak mengeluhkan kinerja Gyulcherkhra; ia adalah pengasuh Nastya selama sekitar tiga tahun, sehingga secara tak langsung ia sudah dianggap sebagi bagian dari anggota keluarga.

Bobokulova, yang saat ini berada dalam tahanan, mengakui kejahatannya dan bepartisipasi dalam reka ulang pembunuhan tersebut.

Masyarakat Rusia bereaksi keras terhadap tragedi tersebut. Orang-orang secara khusus geram oleh fakta bahwa semua jaringan televisi utama gagal memberitakan insiden tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebutkan pemerintah tak meminta televisi untuk tidak menayangkan berita tersebut, namun mendukung keputusan mereka.

Pengecekan Pengasuh Pendatang

Perhatian publik juga dipicu oleh sikap aneh dari perempuan tersebut, yang menurut Viktor Ivanov, Kepala Badan Pengawas Narkoba Rusia, mungkin berada dalam pengaruh narkoba.

Bobokulova bekerja di Moskow tanpa izin. Untuk mendapatkannya, data pekerja migran harus diperiksa di lembaga penegak hukum, melewati tes kesehatan, dan diperiksa oleh psikiatri, yang diyakini akan membantu menghindari tragedi semacam ini.

Terkait hal tersebut, Vladimir Gutenyov, Wakil Kepala Komite Industri Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) meminta Badan Migrasi Federal (FMS) untuk mengecek apakah lembaga perekrut pengasuh anak memenuhi peraturan hukum pekerja imigran.

Boris Altshuler, Presiden Organisasi Child’s Right juga menyebutkan perlunya sertifikasi khusus bagi pengasuh anak. “Ini adalah pasar yang tak memiliki regulasi, yang membutuhkan kontrol kualitas secara independen,” katanya pada RBTH.

Hindari Provokasi Anti-Islam?

Menurut akademisi Islam Rais Suleimanov, pemerintah akan mencoba menghubungkan aksi kriminal tersebut dengan penggunaan obat-obatan terlarang atau ketidakstabilan psikologis untuk menghindari provokasi anti-Islam di masyarakat.

“Hal ini akan mengarahkan pada efek yang sebaliknya,” kata sang pakar.

“Keinginan untuk menyembunyikan aspek agama dan ideologi hanya membuat masyarakat awam Rusia menyadari kehadiran hal tersebut.”

Suleimanov menyebutkan bahwa motif ideologis tak bisa disingkirkan, karena para kaum Islam radikal yang memulai mempraktikkan pemenggalan untuk meneror masyarakat.

“Pemenggalan menjadi simbol pendukung ISIS, yang bertujuan menggentarkan pihak musuh,” kata sang pakar.

“Sungguh signifikan fakta bahwa sang pengasuh melakukan kejahatan tersebut di rumah, tapi pergi ke tempat umum untuk memamerkannya di jalan, meneriakkan ancaman pada para pejalan kaki untuk mengumbar perbuatannya."

Damir Mukhetdinov, Wakil Kepala Dewan Spiritual Muslim Rusia, sebaliknya, yakin bahwa aksi Bobokulova sebaiknya tak dianggap sebagai posisi Islam.

“Bahkan jika kita berasumsi ia memiliki sudut pandang yang sama dengan para ekstremis, ia tak punya hubungan apa pun dengan kultur Islam,” katanya pada RBTH.

“Bab mengenai jihad di semua buku hukum Islam menyebutkan bahwa perang tak dilancarkan terhadap anak-anak dan para lansia.”

Teroris dan orang-orang yang melakukan kejahatan di bawah kedok Islam telah menempatkan dirinya di luar hukum Islam sendiri.

“Namun mereka akan dihukum berdasarkan hukum Syariah,” kata Mukhetdinov.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.