Bagaimana Pandangan Calon Presiden AS Terhadap Rusia?

Bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton berorasi pada malam kaukusnya di Universitas Drake, Des Moines, Iowa, 1 Februari 2016.

Bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton berorasi pada malam kaukusnya di Universitas Drake, Des Moines, Iowa, 1 Februari 2016.

AP
Pada 1 Februari lalu, tahap penting pertama pemilihan kandidat presiden dari partai Demokrat dan Republik, Kaukus Iowa, digelar di Iowa. Tema hubungan dengan Moskow merupakan salah satu topik bagi para calon presiden AS tersebut di bidang geopolitik, bahkan mereka yang tak terlalu andal di bidang politik internasional mengambil posisi yang jelas. RBTH mencoba memberi gambaran mengenai tiap kandidat utama berdasarkan pernyataan mereka mengenai Rusia.

Hillary Clinton, Demokrat

Menurut data IPSOS, Clinton merupakan calon presiden yang tak perlu dipertanyakan dalam pemilu mendatang: 42 persen responden mengaku akan memilih Clinton.

“Saya tetap yakin bahwa kita perlu melakukan upaya bersama untuk memberi pelajaran pada Rusia, khususnya Putin. Saya termasuk orang yang ingin kita memberi respon lebih keras terhadap aneksasi Krimea dan terus berlanjutnya destabilisasi di Ukraina.”

“Kita semua berharap Putin mau memodernisasi negaranya dan bergerak menuju Barat, ketimbang menenggelamkan dirinya ke dalam sikap seperti tsar yang berakar dalam sejarah, dan mengintimidasi batas nasional serta pamer kekuatan di wilayah seperti Suriah dan lainnya.”

“Saya rasa tujuan Rusia adalah untuk menghalangi, melakukan konfrontasi, serta meremehkan kekuatan Amerika, kapan pun dan di mana pun, sebisa mereka. Saya rasa fakta itu tak mengejutkan.”

Bernie Sanders, Demokrat

Menurut data IPSOS, Sanders menempati posisi kedua. Sebanyak 31 persen responden mendukung Sanders.

“Bernie Sanders mendukung posisi yang kuat dan konsisten terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin,” demikian tertulis dalam situs kampanye resminya. “Bernie mendukung penegasan sanksi ekonomi dan tekanan internasional sebagai alternatif bagi segala macam konfrontasi militer langsung saat berhadapan dengan Rusia. Amerika Serikat harus berkolaborasi untuk membentuk sikap terpadu bersama sekutu internasional kami agar dapat menghadapi agresi Rusia secara efektif.”

Donald Trump, Republiken

Menurut data IPSOS, Trump menempati posisi ketiga. Jumlah pendukungnya mencapai 29 persen dari total responden.

Terkait intervensi militer yang dilakukan Putin di Suriah, Trump mengaku mendukung Rusia jika hendak mengebom ISIS. “Selama ia menyerang ISIS, saya mendukungnya. Jika ia hendak mengebom ISIS, yang sudah mulai ia lakukan, jika ia ingin mengebom ISIS, biarkan ia melakukannya.”

“Saya selalu merasa biasa saja terhadap Putin. Saya pikir ia adalah pemimpin yang kuat. Saya rasa pendukungnya mencapai 80 persen, dan saya tak tahu siapa yang melakukan survei tersebut, mungkin ia sendiri yang melakukannya, tapi saya pikir sebenarnya itu dikerjakan oleh perusahaan Amerika.”

Ted Cruz, Republiken

Menurut data IPSOS, 12 persen responden bersedia memilih Cruz.

“Sungguh berbahaya bagi diktator seperti Putin saat warga Amerika berpegang pada ‘exeptionalism mereka. Kombinasi unik kekuatan dan prinsip yang kami miliki membuat AS menjadi negara yang paling kuat di muka bumi yang pernah memberi ancaman mematikan pada penggertak represif dalam sejarah.”

The American Exceptionalism

Pada tahun 1835, Alexis de Tocqueville (1805 – 1859) adalah seorang ilmuwan politik Prancis yang menulis “Democracy in America” dan memperkenalkan apa yang kini disebut sebagai “The American Exceptionalism”. Secara historis, American Exceptionalism merujuk pada persepsi bahwa AS berbeda dengan negara maju lainnya karena keunikan (unique origins), prinsip-prinsip nasional (national credo), perjalanan sejarah (historical evolution), dan perbedaan institusi keagamaan dan politik (distinctive political and religious institutions).

Ide besar konsep ini adalah bahwa AS memegang peran khusus di dunia dalam mempromosikan peluang dan harapan bagi kemanusiaan yang ditarik dari keseimbangan antara kepentingan publik dan kepentingan individu yang ditata melalui konstitusi ideal dan difokuskan kepada kebebasan ekonomi dan individu.

“Kita bisa meningkatkan upaya kita dua kali lipat untuk mengembangkan senjata pertahanan yang menetralisasi ancaman serangan Soviet — khususnya pertahanan misil. Kita tak hanya perlu bergerak cepat untuk memasang situs pencegat yang dibatalkan dan ditentang Putin di Polandia dan Republik Ceko, tapi juga mengembangkan sistem generasi terbaru yang akan membuatnya bingung.”

“Tak ada orang waras yang akan mempercayai sikap asertif Putin bahwa ia di sana untuk membantu memusnahkan teroris. Obama percaya, tapi hanya karena ia seorang naif yang terlalu banyak berharap.”

Ben Carson, Republiken

Hanya delapan persen warga AS yang bersedia memberikan suaranya bagi Carson, demikian berdasarkan data IPSOS.

“Saya akan menyampaikan pada dia (Putin) bahwa kita adalah negara yang damai. Tapi kita bukan marshmallow, dan kita tak akan membiarkan perluasan pengaruhnya di tempat-tempat yang berkaitan dengan kepentingan kita.”

“Putin memiliki aspirasi yang sungguh luar biasa, tak hanya di Suriah, tapi secara global. Dan kita perlu menempatkan lini depan yang kuat melawannya di semua tempat. Maksud saya, Anda tahu, sepanjang teluk Baltik.”

“Saya pikir kita perlu mengeluarkan sistem pertahanan misil kita. Saya rasa kita perlu memberi senjata pertahanan bagi Ukraina, dan saya rasa kita perlu memerangi mereka di lingkup ekonomi, karena Putin merupakan negara yang bergantung pada satu kuda — minyak dan energi.”

Jeb Bush, Republiken

Putra Presiden AS ke-41 George H. W. Bush dan saudara laki-laki Presiden AS ke-43 George W. Bush menempati posisi keenam, dengan perolehan suara tujuh persen berdasarkan data IPSOS.

“Anda ingin saya menyebutnya (Putin -red.) sebagai pemimpin lemah. Tapi ia adalah pemimpin yang kuat. Saya tak akan berbuat benar secara politik. Ia sangat populer di Rusia.”

“Putin berupaya untuk menciptakan tantangan bagi AS di seluruh dunia saat ini. Ia melihat kesuksesannya dengan mendorong kita ke belakang. Kita kehilangan pengaruh di seluruh dunia, dan Putin terus meningkatkan pengaruhnya. Ia bukan sekutu. Ia adalah diktator. Ia adalah seorang penggertak.”

Marco Rubio, Republiken

Sebanyak 14 persen responden IPSOS mengaku bersedia mendukung Rubio.

“Segera setelah saya menempati Gedung Putih, saya akan langsung meningkatkan tekanan terhadap Moskow. Di bawah kepemimpinan saya, tak akan ada permohonan untuk bertemu dengan Vladimir Putin. Ia akan diperlakukan seperti selayaknya — seorang gangster dan penjahat ganas.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.