Proses Perdamaian Suriah Dikoordinasikan dari Markas Rusia

Seorang tentara Rusia di Pangkalan Udara Hmeimim, Latakia, Suriah, 24 Februari 2016.

Seorang tentara Rusia di Pangkalan Udara Hmeimim, Latakia, Suriah, 24 Februari 2016.

Valery Sharifulin/TASS
Kementerian Pertahanan Rusia telah mengumumkan pembentukan pusat koordinasi di markas Hmeimim yang akan memantau gencatan senjata antara pasukan pemerintah dan oposisi di Suriah. NATO menggarisbawahi pentingnya menghargai kesepakatan damai yang tercapai.

Seorang pakar menyebutkan bahwa Hmeimim merupakan tempat paling tepat untuk melakukan pemantauan gencatan senjata. Tujuan utama gencatan senjata saat ini adalah untuk mendapatkan gambaran wilayah mana saja yang di situ terdapat peluang untuk mencapai kesepakatan di antara pihak yang berperang, dan mengarahkan kembali semua kekuatan untuk berperang melawan kelompok radikal.

Gencatan senjata antara pasukan pemerintah dan oposisi bersenjata di Suriah, yang menurut kesepakatan antara Rusia dan AS yang telah dimulai pada Sebatu (27/2), akan dikoordinasikan dari markas Rusia di Hmeimim. Pernyataan tersebut disampaikan pada 23 Februari lalu oleh Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov.

Tujuan utama pusat ini adalah mendampingi proses rekonsiliasi antara pemerintah Suriah dan oposisi, dengan pengecualian ISIS dan organisasi teroris lainnya.

Selain itu, pusat ini akan bertanggung jawab menutup kesepakatan gencatan senjata dan mengorganisir kiriman bantuan kemanusiaan.

Kondisi Gencatan Senjata

Sebelumnya dikatakan bahwa Kelompok Internasional Pendukung Suriah di bawah pengawasan Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura dibangun untuk membantu pemantauan. Di dalam kelompok tersebut termasuk terdapat pula perwakilan Rusia dan Amerika. Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, semua pihak yang terlibat konflik harus menahan diri dari semua kegiatan militer, termasuk penggunaan senjata, kecuali dalam kasus pertahanan diri yang bisa dimaklumi. Mereka juga harus menahan diri dari menduduki wilayah dan mengizinkan organisasi kemanusiaan bekerja di zona konflik.

“Perwakilan kelompok oposisi di Suriah, yang memutuskan untuk menghentikan kekerasan dan memulai dialog damai, dapat menghubungi Pusat Koordinasi kapan saja pada nomor telepon yang tersedia,” kata Konashenkov.

Damaskus telah setuju untuk menghentikan aktivitas militernya, seperti yang diumumkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad. “Keputusan ini dibuat setelah kami melakukan konsultasi mendalam dengan teman-teman Rusia kami,” kata Mekdad dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Lebanese, Al-Mayadin.

Sementara, Menteri Luar Negeri AS menekankan bahwa tanpa ‘kolaborasi Rusia’ mustahil bisa mencapai kesepakatan di Suriah.

Mengapa Hmeimim?

Direktur Departemen Integrasi Eurasia dan Pengembangan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Institut Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) Vladimir Evseyev menjelaskan bahwa tujuan utama saat ini adalah menyepakati wilayah yang tak akan diserang dari udara (baik oleh AU Rusia maupun koalisi yang dipimpin Amerika) dan dari darat (Tentara Suriah dan oposisi, termasuk Tentara Pembebasan Suriah).

“Tentara Suriah secara realistis tak punya sumber daya yang cukup untuk berperang di seluruh Suriah, sehingga penting untuk mencapai kesepakatan dengan pasukan moderat agar bisa bertempur bersama melawan radikalisme. Ini adalah ide yang didukung Amerika. Pertempuran masih dibutuhkan selama sekitar tiga bulan ke depan untuk membebaskan Aleppo. Jika pihak pemerintah Suriah dan oposisi moderat sepakat, mereka harus bertempur secara intensif tahun berikutnya, padahal jika saja mereka setuju, mereka bisa mengurangi intensitas dan skala pertempuran,” kata Evseyev.

Menurut Evseyev, Hmeimim merupakan tempat yang tepat untuk menciptakan pusat koordinasi. Di sana ada saluran komunikasi yang dapat mencapai semua titik di dunia. Hmeimim juga memiliki saluran satelit yang sangat kuat dan tentu tak akan menjadi masalah untuk mentransformasi pesan.”

Menurut Sekjen NATO Jens Stoltenberg, “Penting untuk menyadari bahwa semua pihak harus menghargai kesepakatan yang diambil dan menyampaikan implementasi mereka serta implementasi proses pemantauan yang efektif.”

Posisi Oposisi

Sementara, Reuters melaporkan bahwa oposisi Suriah yakin bahwa gencatan senjata tak sempurna. “Rusia dan rezim (Suriah) akan menyerang penduduk yang ingin melakukan revolusi terhadap pemerintah yang sah dengan dalih front al-Nusra hadir di sana. Dan Anda tahu betapa bercampurnya wilayah tersebut. Jika hal ini terjadi, gencatan senjata akan dilanggar,” kata kantor berita mengutip Yarmouk Army Bashar al-Zoubi. Ia menyebutkan bahwa posisi front al-Nusra di Suriah bagian utara tak bisa dipastikan.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Gazeta.ru

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.