Putra Chiang Kai-shek, Tawanan Politik Kepemimpinan Stalin Era 1930-an

Chiang Ching-kuo, 1948.

Chiang Ching-kuo, 1948.

Wikipedia
Chiang Ching-kuo, presiden Taiwan pada 1978 yang sekaligus merupakan putra pemimpin politik dan militer Tiongkok abad ke-20 Chiang Kai-shek, diketahui pernah tinggal di Rusia selama 12 tahun. Pada periode tersebut, sekitar tahun 1920-an hingga 1930-an, ia belajar bersama Deng Xiaoping, seorang pemimpin revolusi dalam Partai Komunis Tiongkok. Selama di Rusia, Ching-kuo menikahi seorang perempuan Belarusia. Ia bekerja di Ural dan sebenarnya menjadi tawanan politik Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin.

Generalissimo Chiang Kai-shek dibenci oleh para sosialis di seluruh dunia atas pemberantasan komunis yang ia lakukan, yang dikenal sebagai ‘Pembantaian Shanghai’ pada 1927, dan atas kekejaman pasukannya terhadap para komunis selama masa Perang Sipil Tiongkok. Sebelum ia berpihak kepada komunis, Chiang dikenal sebagai ‘Jenderal Merah’ di Barat. Pada 1925, putranya yang berusia 15 tahun, Chiang Ching-kuo, pindah ke Moskow untuk menimba ilmu.

Ching-kuo terdaftar di Universitas Sun Yat-sen di ibu kota Rusia. Chiang Kai-shek merupakan ‘kesayangan’ Joseph Stalin, demikian dituliskan Hannah Pakula dalam bukunya yang berjudul The Last Empress: Madam Chiang Kai-shek and the Birth of Modern China (Permaisuri Terakhir: Madam Chiang Kai-shek dan Kelahiran Tiongkok Modern). “Setiap Ching-kuo pergi ke bioskop di Moskow, ia melihat pesan berjalan mengenai ayahnya, dan setiap ia membaca koran Rusia, mereka penuh akan kekaguman terhadap Chiang.”

Dalam biografi Ching-kuo yang berjudul The Generalissimo’s Son (Putra Generalissimo), Jay Taylor menuliskan, “Tiap mahasiswa Tiongkok di Universitas Sun Yat-sen tahu bahwa anak termuda di antara mereka adalah putra Jenderal Chiang yang terkenal.” Pada usia 15 tahun, Ching-kuo bahkan menulis editorial untuk majalah dinding universitas, yang dikenal sebagai ‘Tembok Merah’.

Dua tahun kemudian, ketika berita pembersihan komunis yang dilakukan Chiang Kai-shek sampai ke telinga Moskow, Chiang-kuo mencela ayahnya. “Chiang Kai-shek pernah menjadi ayah saya dan seorang kawan revolusioner,” kata Ching-kuo pada kawannya, seperti dituturkan buku Pakula. “Kini ia menjadi musuh saya... Turunkan Chiang Kai-shek, turunkan pengkhianat!”

Ketika diperintahkan untuk pulang ke rumah oleh pemerintah Tiongkok, Ching-kuo menolak.

Semangat Komunis

Sebagai seorang mahasiswa di Moskow, Ching-kuo memiliki nama Rusia, yaitu Nikolay Vladimirovich Yelizarov. Salah satu teman sekelasnya adalah pemimpin Tiongkok di masa mendatang yang sekaligus seorang reformis, Deng Xiaoping. Cukup aneh, ketika Ching-kuo menjadi presiden Taiwan, ia memperkenalkan reformasi serupa, seperti yang dibawa Deng ke Tiongkok.

Ching-kuo merupakan siswa yang menonjol dan terpilih untuk mendapat pelatihan di Institut Politik dan Militer Leningrad yang bergengsi.  Dokumennya menyebutkan ia merupakan ‘siswa terbaik di akademi’, menurut Pakula.

Meski Ching-kuo ingin pulang ke Tiongkok setelah studinya di Leningrad selesai, ia dipaksa oleh Pemerintah Soviet untuk tetap tinggal.

Bekerja di Perusahaan Soviet

Setelah lulus dari institut Leningrad, Ching-kuo magang di Pabrik Elektrik Dynamo di Moskow. Ia diminta melakukan pekerjaan manual ‘untuk mempelajari kehidupan kaum proletar’, tulis Pakula di bukunya.

Ia kemudian bekerja di Pabrik Mesin Berat Ural di Yekaterinburg, tempat ia kemudian bertemu dengan istrinya di masa mendatang, seorang warga Belarusia bernama Faina Vakerevich.

Penulis biografi Ching-kuo menyebutkan, ia merupakan seorang yang takut pada Stalin, yang terus mengawasi gerak-geriknya. Keduanya kemudian bertemu setelah invasi Jepang atas Manchuria pada tahun 1931-1932.

Menurut Jay Taylor, Stalin bertanya pada Ching-kuo apakah Tiongkok dan Uni Soviet dapat bekerja sama untuk melawan Jepang (ini terjadi bertahun-tahun sebelum pakta netralitas Soviet-Jepang ditandatangani). Bibi Ching-kuo mengunjungi Moskow pada 1931 dan Uni Soviet menawarkan ide untuk menukar keponakannya dengan mantan ketua Partai Komunis Tiongkok, yang ditahan di Shanghai. Pertukaran tersebut tak terjadi, karena Chiang Kai-shek menentang ide itu.

Sang generalissimo menulis pada 1931 bahwa ia merindukan putranya, tapi tak akan menukar tawanan untuknya. “Ah! Saya tak loyal pada bangsa dan partai, tak juga berbakti pada ibu saya, atau berbuat baik bagi anak saya. Saya merasa malu,” tulisnya. “Saya lebih memilih membiarkan Ching-kuo diasingkan atau dibunuh di Soviet Rusia daripada menukar seorang kriminal dengan dirinya. Tuhan akan memutuskan apakah Anda akan mendapat keturunan. Jelas tak layak mengorbankan kepentingan negara hanya untuk putra saya.”

Ching-kuo menikahi Vakerevich pada 1935 dan tinggal di Yekaterinburg selama dua tahun. Setelah Nasionalis Chiang Ka-shek dan Komunis Mao Zedong setuju untuk  bersatu melawan Jepang, Stalin mengizinkan Ching-kuo, istri, dan putranya untuk kembali ke Tiongkok.

Warisan Politik

Setelah kembali ke Tiongkok, Ching-kuo memperbaiki hubungannya dengan ayahnya. Ketika sang Nasionalis Tiongkok kehilangan kendali atas Tiongkok Daratan akibat komunis, Ching-kuo meninggalkan ayahnya demi Taiwan. Ia lalu menjadi pemimpin negara tersebut pada 1972, sebuah jabatan yang ia pertahankan hingga 1978, ketika ia terpilih menjadi presiden. Ia tetap menjadi kepala negara hingga kematiannya pada 1988.

Ching-kuo diyakini memiliki berbagai taktik yang bisa diterapkan, yang ia pelajari di Rusia, baik ketika ia menjadi pejuang pada masa Perang Sipil Tiongkok dan kemudian ia mengepalai kepolisian rahasia Tiongkok pada 1950-an. Namun, warisan terbesarnya ialah reformasi ekonomi dan politik yang berakhir dengan darurat militer, pelonggaran kontrol politik, dan memulai proses pendekatan kembali dengan Tiongkok Daratan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.