Mungkinkah Tentara Suriah Menangkan Perang dalam Beberapa Bulan ke Depan?

Seorang prajurit Tentara Suriah berada di garis depan selama perang melawan teroris di Darayya, sebuah kota di pinggiran Damaskus.

Seorang prajurit Tentara Suriah berada di garis depan selama perang melawan teroris di Darayya, sebuah kota di pinggiran Damaskus.

Michael Alaeddin/RIA Novosti
Selama sepuluh hari terakhir, tentara Suriah berhasil menyingkirkan kelompok teroris ISIS dari kota Rabia di dekat perbatasan Turki. Kini, tentara Suriah telah bersiap untuk menyerang benteng terakhir para teroris di kota Salma, Provinsi Latakia. Menurut para ahli Rusia, terlepas dari keberhasilan menyingkirkan kelompok ekstremis, penyelesaian konflik militer dengan cara diplomatik dalam negosiasi yang tengah berlangsung di Jenewa saat ini belum bisa tercapai. Hal ini disebabkan kurangnya ‘pemain’ yang siap untuk menyelesaikan masalah secara politik.

Angkatan bersenjata Suriah dengan dukungan aviasi Rusia telah membuat kemajuan yang signifikan di garis depan pertempuran melawan militan ISIS. Sejak 25 Januari, kota Rabia di perbatasan Turki telah sepenuhnya dibebaskan dan pemerintah Suriah kembali mengontrol bagian besar wilayah selatan Suriah. Angkatan bersenjata Suriah kini tengah menyiapkan serangan terhadap militan di Provinsi Latakia.

Pada 27 Januari, sejumlah unit pesawat pengebom Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap kelompok militan Jhabat al-Nusra di wilayah Desa Kissiba. Namun begitu, peran yang dimainkan oleh pasukan militer Suriah dengan dukungan dari Angkatan Udara Rusia tetap menjadi tanda tanya di meja perundingan di Jenewa.

Operasi Militer di Suriah

“Di Distrik Daraa (Suriah selatan), unit angkatan bersenjata negara Suriah membagi mereka, militan ISIS, ke dalam dua bagian. Sementara, penyerangan di kota Salma di utara Suriah, yang dimaksudkan untuk membebaskan provinsi Latakia, kini tengah dipersiapkan. Jika mengingat keberhasilan tentara Suriah di Provinsi Aleppo, posisi militan ISIS di Provinsi Idlib rencananya akan diambil dalam bentuk setengah lingkaran,” kata Kepala Departemen Integrasi Eurasia dan Pengembangan Institut SCO Negara CIS Vladimir Yevseyev.

Menurutnya, pertempuran di utara Suriah sudah mulai memaksa teroris untuk mundur ke wilayah Turki. “Saya yakin bahwa sebentar lagi ada ‘arus pengungsi buatan’ ke Eropa, dan di antaranya terdapat pula ekstremis yang berencana melakukan aksi terorisme baru di wilayah Eropa,” kata Yevseyev.

Ahli militer Rusia juga mengatakan bahwa saat ini angkatan bersenjata Suriah punya dua tujuan utama, yaitu mengepung Provinsi Idlib dan kemudian secara bertahap mendapatkan kembali kontrol atas Provinsi Raqqa.

“Jika melihat perkembangan peristiwa saat ini maka keberhasilan terbesar dapat diamati di selatan Suriah. Keberhasilan ini tidak hanya memberikan akses ke Dataran Tinggi Golan, tetapi juga kerusakan parsial teroris di dekat perbatasan Yordania,” kata Yevyesev. Seperti yang diyakini oleh para ahli militer, titik balik situasi di lapangan kemungkinan terjadi di musim semi.

Perundingan di Jenewa

“Kemenangan tentara Suriah memaksa pihak yang berkaitan untuk sesegera mungkin beranjak ke meja perundingan. Militan ISIS dan kelompok-kelompok oposisi yang tidak masuk dalam daftar ‘pasukan yang diakui sebagai nonteroris secara global’, tetapi mendapat dukungan dari Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat akan kembali ke pedalaman negara dan menyerahkan posisi mereka. Jika tidak mencapai konsensus politik pada tahun ini maka ada kemungkinan untuk tidak lagi membahas mengenai periode transisi, pemilihan presiden, dan parlemen baru,” kata seorang ahli militer Kolonel Viktor Litovkin kepada TASS.

Menurut Litovkin, meskipun ada peluang yang muncul untuk solusi damai, sebagian negosiator berniat untuk menunda proses penyelesaian dibandingkan masuk ke konsensus umum. “Turki ingin mengeluarkan Kurdistan Suriah dari proses penyelesaian politik, terlepas dari fakta bahwa mereka merupakan kontributor utama keberhasilan operasi militer di utara Suriah,” kata Litovkin menambahkan.

Menurut Direktur Pusat Pasar Strategis Ivan Konovalov, saat ini Arab Saudi tampaknya juga tidak tertarik dalam penyelesaian krisis di tahap ini. “Komposisi negosiator tidak sesuai dengan situasi di medan perang. Arab Saudi memiliki pengaruh yang tidak semestinya pada komposisi delegasi, yang bertujuan untuk mempersulit proses perdamaian. Hal yang sama juga diinginkan oleh Turki. Suatu konsensus belum bisa tercapai kalau tidak ada pihak yang siap berdiskusi mengenai pembentukan pemerintahan transisi,” kata Konovalov.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.