Apakah Rusia dan AS Membangun Markas Militer Mereka di Suriah?

LATAKIA, SYRIA. NOVEMBER 19, 2015. Russian Sukhoi Su-24M frontline bombers seen ahead of a flight at the Hmeymim airbase.

LATAKIA, SYRIA. NOVEMBER 19, 2015. Russian Sukhoi Su-24M frontline bombers seen ahead of a flight at the Hmeymim airbase.

Alexander Yelistratov/TASS
Media internasional berlomba melaporkan bahwa AS dan Rusia tengah membangun markas militer mereka di Suriah.

Laporan yang menyebutkan bahwa markas militer AS telah dibangun di Suriah timur laut bergaung kian kencang di beragam media. Pada 24 Januari lalu, media Turki Hurriyet mengutip narasumber Suriah yang menyebutkan bahwa militer AS, bersama dengan Kurdistan Suriah, telah menyelesaikan upaya untuk memperkuat dan memperluas lapangan terbang serta membentuk sejumlah infrastruktur yang diperlukan di bekas lapangan udara rural di kota Ramilan. Landasan terbang tersebut terbentang sepanjang 2.600 meter dan markas udaranya akan segera mampu menampung pesawat tempur dan pesawat kargo militer, demikian dilaporkan Interfax.

Di balik spekulasi mengenai markas militer AS, ada juga laporan bahwa Rusia juga tengah membangun markas militernya di Suriah timur laut, berjarak 50 kilometer dari markas Amerika.

The Times dan Fox News, mengutip narasumber papan atas di Washington, menyebutkan bahwa markas Rusia dibangun hanya beberapa kilometer dari perbatasan Turki, dekat permukiman Al-Qamishli. Di wilayah yang dikuasai oleh orang-orang Kurdi tersebut, masih ada sejumlah “kantong” yang tersisa di bawah kontrol pemerintah resmi Suriah. Salah satunya diduga merupakan lapangan udara yang digunakan oleh militer Rusia.

Penyangkalan

Laporan bahwa Amerika membangun markas militer di Suriah pertama kali muncul pada 21 Januari lalu di Militarytimes, mengutip media yang berpihak pada oposisi Suriah, Observatorium untuk Hak Asasi Manusia. Kala itu, perwakilan Kementerian Pertahanan AS Kolonel Steve Warren menolak untuk menanggapi isu tersebut. “Operasi tengah berlangsung. Namun karena sifat operasi spesial ini, sangat penting bagi kami untuk tak mendiskusikan di mana markas militer AS berada,” katanya. Perusahaan Stratfor, yang kerap disebut sebagai ‘CIA gelap’, pada Jumat lalu menyuarakan opini bahwa gambar satelit mendukung rumor aktivitas militer AS di Suriah.”

Namun, komando militer AS menyangkal semua itu. “Biar saya jelaskan, Angkatan Bersenjata AS tak mengambil alih lapangan udara di Suriah di bawah kendali mereka,” kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kolonel Angkatan Udara Pat Ryder, pada Minggu (24/1). Menurut Ryder, “Lokasi dan jumlah masukan kami di Suriah terbilang kecil, dan mereka mengemban tugas yang sebelumnya telah disampaikan oleh Menteri Pertahanan AS Ashton Carter.”

Di sisi lain, pihak Rusia juga menyangkal laporan bahwa markas militer baru mereka dibentuk di Suriah. “Tak ada markas militer ‘baru’ atau pun lapangan udara tambahan bagi pesawat militer Rusia di wilayah Suriah dan tak ada rencana untuk membangun hal semacam itu,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov. “Dugaan terkait hal ini yang diberitakan oleh media Inggris The Times merupakan upaya yang canggung untuk menutupi informasi terkait keberadaan pasukan besar Turki di perbatasan Suriah dekat Al-Qamishli,” tambahnya.

Dekat Perbatasan Turki

Pada 22 Januari, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyampaikan peringatan atas laporan terkait 200 personel Rusia yang mulai bekerja untuk memperkuat landasan terbang di markas udara Al-Qamishli, dan mengirim bala bantuan militer pada bagian perbatasan tersebut, sementara para tentara mulai menggali parit perlindungan, tulis The Times.

Markas militer Rusia di Latakia terletak di sisi lain negara tersebut, di pesisir Mediterania. Menurut mantan Komandan Angkatan Udara dan Pertahanan Udara ke-4 Letnan Jenderal Valery Gorbenko, seorang Pahlawan Rusia, kapabilitas markas di Latakia lebih dari cukup, sehingga ia menilai kehadiran markas militer baru Rusia di Suriah timur laut tak masuk akal.

“Saya rasa Rusia tak akan membangun markas udara di sana karena markas yang mereka gunakan saat ini memungkinkan mereka untuk mencapai seluruh wilayah negara, bahkan tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar. Dan jika mereka perlu terbang cukup jauh, semua pesawat, kecuali tempur pengebom, memiliki kapabilitas pengisian ulang,” katanya. “Untuk membangun markas lain, perlu dana besar, bayangkan saja kebutuhan untuk melindungi markas baru tersebut.”

“Saya juga tak melihat poin terkait keberadaan markas Amerika di area tersebut, karena mereka sudah punya markas di wilayah Turki,” tambahnya.

Atau, Mungkinkah Mereka Membangun Markas?

Sementara, Wakil Presiden Akademi Masalah Geopolitik Konstantin Sivkov meragukan kebenaran laporan yang menyebutkan bahwa pembangunan markas militer Rusia di wilayah tersebut dipicu oleh logika konflik yang tengah terjadi.

“Markas Rusia dibangun untuk menghindari pengiriman pasokan ke militan di Suriah dari Turki dan untuk memotong komunikasi. Untuk itu, kami perlu menempatkan skuadron helikopter, yang dapat mengirim serangan dengan bebas. Amerika menempatkan pasokan mereka untuk alasan yang berbeda, yakni memastikan kehadiran mereka di wilayah tersebut, dan jika perlu, memastikan perlindungan pasukan yang ramah terhadap mereka, termasuk dari kalangan ISIS,” tambahnya.

Pertama kali dipublikasikan di Vzglyad.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.